Cadangan zat besi dalam tubuh anak bisa menurun sebelum kadar hemoglobin mengalami penurunan. Fenomena ini dikenal dengan istilah defisiensi besi tanpa anemia. Oleh karena itu, pemeriksaan hemoglobin saja tidak cukup untuk mendeteksi kondisi ini pada tahap awal. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan ferritin untuk menilai cadangan zat besi yang ada. Kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan ini bergantung pada usia dan faktor risiko yang dimiliki anak.
Seringkali, seorang anak tampak sehat, namun cadangan zat besi dalam tubuhnya sudah mulai berkurang. Pada tahap ini, kadar hemoglobin mungkin belum menunjukkan penurunan, sehingga pemeriksaan yang hanya fokus pada hemoglobin dapat mengabaikan adanya defisiensi besi. “Defisiensi besi itu bukan sekadar anemia. Bahkan sebelum Hb-nya turun, defisiensi besi bisa terjadi. Karena itu, fokus kita bukan hanya ‘ada anemia atau tidak’, tetapi status besi anak secara keseluruhan,” ungkap Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam sebuah seminar media.
Pentingnya Memahami Defisiensi Besi
Defisiensi besi tidak selalu berarti anak mengalami anemia. Namun, mengapa pemeriksaan hemoglobin saja bisa mengabaikan kondisi ini? Tubuh memerlukan zat besi untuk berbagai fungsi penting, termasuk pembentukan hemoglobin (Hb), yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen. Jika asupan atau cadangan zat besi tidak mencukupi, anak dapat mengalami defisiensi besi. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal yang sesuai dengan usia dan jenis kelamin. Ketika kekurangan zat besi menyebabkan anemia, kondisi ini disebut anemia defisiensi besi. Namun, cadangan zat besi dapat menipis sebelum kadar hemoglobin menurun.
American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan defisiensi besi sebagai keadaan di mana zat besi dalam tubuh berada pada level yang rendah, yang dapat terjadi baik dengan atau tanpa anemia. “Defisiensi besi artinya zat besi sudah berkurang, tetapi kondisi ini bisa terjadi dengan atau tanpa penurunan Hb,” jelas Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI.
Prosedur Pemeriksaan dan Skrining
Pemeriksaan kadar hemoglobin berguna untuk mengetahui apakah anak mengalami anemia, tetapi tidak mengukur cadangan zat besi secara langsung. Untuk menilai cadangan tersebut, dokter dapat meminta pemeriksaan ferritin serum, yang merupakan protein yang mencerminkan simpanan zat besi di dalam tubuh. Pemeriksaan darah lengkap dan ferritin dapat membantu dalam mengidentifikasi defisiensi besi sebelum anemia muncul. Namun, kadar ferritin harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena dapat meningkat saat terjadi peradangan.
Pedoman AAP 2026 menyebutkan bahwa kadar ferritin 20 ng/mL atau lebih rendah konsisten dengan defisiensi besi pada anak kecil dan anak usia sekolah. Sedangkan untuk remaja dan individu yang menstruasi, batas yang digunakan adalah 30 ng/mL atau lebih rendah. Meskipun demikian, dokter tetap akan menilai hasil tersebut berdasarkan kondisi pasien.
AAP merekomendasikan skrining untuk defisiensi besi dan anemia pada bayi serta anak kecil melalui pemeriksaan darah lengkap dan ferritin. Waktu pemeriksaan disesuaikan dengan sumber nutrisi utama: usia 9–12 bulan bagi bayi yang terutama mendapatkan ASI, dan usia 15–18 bulan bagi bayi yang lebih banyak mengonsumsi susu formula yang diperkaya zat besi. Jika pemeriksaan tersebut tidak memungkinkan, setidaknya kadar hemoglobin perlu diperiksa.
Bayi dan balita mengalami pertumbuhan yang cepat, sehingga kebutuhan zat besi mereka meningkat. Risiko juga harus diperhatikan pada bayi prematur atau dengan berat lahir rendah, anak yang memiliki pola makan minim sumber zat besi, serta anak dengan penyakit kronis, gangguan penyerapan, atau kehilangan darah. Pada remaja putri, menstruasi yang berlebihan atau berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi. “Bayi dan remaja termasuk kelompok yang kebutuhan besinya tinggi karena pertumbuhannya berlangsung cepat,” kata Prof. Murti.
Gejala seperti pucat atau cepat lelah dapat muncul pada anak yang mengalami anemia, tetapi kondisi anak tidak dapat dinilai hanya dari penampilannya. Keluhan juga bisa bervariasi. Jika terdapat faktor risiko—seperti bayi lahir prematur, asupan zat besi yang rendah, atau anak yang mengalami menstruasi berat—orang tua disarankan untuk membicarakannya saat pemeriksaan kesehatan rutin.
Zat besi berperan dalam mendukung fungsi tubuh dan perkembangan sistem saraf. Sebuah tinjauan sistematis pada tahun 2025 yang mencakup 17 studi kohort menemukan adanya hubungan antara defisiensi besi pada awal kehidupan dan berbagai hasil perkembangan, termasuk aspek kognitif, motorik, verbal, dan perilaku. Jika orang tua merasa khawatir tentang asupan zat besi atau hasil pemeriksaan anak, langkah selanjutnya adalah berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat mengevaluasi pola makan dan faktor risiko, serta menentukan apakah pemeriksaan hemoglobin, ferritin, atau tes lainnya diperlukan. Suplemen zat besi sebaiknya diberikan sesuai dengan arahan tenaga kesehatan, karena kebutuhan dan dosisnya dapat bervariasi pada setiap anak.