Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa ketersediaan vaksin untuk imunisasi dasar di Indonesia, termasuk vaksin campak, aman hingga sembilan bulan ke depan. Hal ini disampaikan oleh Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dokter Andi Saguni.
Dalam pernyataannya pada peringatan Pekan Imunisasi Dunia yang berlangsung di Depok, Jawa Barat, Andi menyatakan, "Kita pastikan aman sepanjang tahun, bahkan sudah dihitung-hitung stok vaksin campak untuk sembilan bulan ke depan aman. Bahkan ada pengadaan lagi di paruh kedua." Ia juga menekankan bahwa tidak ada lagi kekurangan stok vaksin, termasuk vaksin campak, serta memastikan ketersediaan alat suntik untuk imunisasi dasar.
Andi menambahkan bahwa selama tahun 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 80,2%. Meskipun menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masih terdapat hampir 960.000 anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali. Oleh karena itu, Kemenkes berupaya mendorong agar anak-anak yang belum divaksin segera mendapatkan imunisasi untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa seperti difteri atau pertusis.
"Kita tidak boleh lengah karena risiko kejadian luar biasa seperti campak, difteri, atau pertusis bisa meningkat jika cakupan tidak optimal,” tegas Andi.
Di sisi global, perwakilan WHO Indonesia, dokter Olivia, menyatakan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif. Ia mengungkapkan bahwa vaksin telah menyelamatkan lebih dari 150 juta jiwa di seluruh dunia dan menekankan pentingnya memperkuat sistem imunisasi berbasis bukti ilmiah.
Olivia juga mengapresiasi komitmen Indonesia dalam menyelenggarakan Pekan Imunisasi Dunia secara aktif, meskipun tantangan dalam menjangkau anak zero-dose dan meningkatkan kepercayaan masyarakat masih ada.