Per 15 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa 34 juta individu telah menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta orang terdeteksi mengalami gangguan penglihatan. Program Comprehensive Community Eye Care (CCEC) bertujuan untuk meningkatkan skrining, pelatihan, operasi katarak, serta distribusi kacamata kepada masyarakat.
Pentingnya Skrining Awal
Hasil dari skrining ini menjadi langkah awal untuk mencari bantuan lebih lanjut. Meskipun hasil skrining memberikan indikasi awal, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dalam sebuah kegiatan skrining di Jakarta, Fayra Salsabila, seorang siswi dari SMP Negeri 145, menemukan bahwa ia memiliki silinder 2,00 pada salah satu matanya dan 1,50 pada mata lainnya. Pemeriksaan tersebut juga memberinya akses terhadap kacamata gratis, yang menjadi bagian dari upaya Kemenkes untuk memperluas deteksi dini gangguan penglihatan.
Program CCEC dan Targetnya
Kemenkes menargetkan dalam tiga tahun ke depan, program CCEC akan melakukan skrining terhadap lebih dari 60.000 siswa dan pekerja di lima provinsi serta 19 kabupaten/kota. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan bagi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru, dukungan untuk 16.500 operasi katarak, serta distribusi lebih dari 100.000 kacamata. Kemenkes juga berencana untuk membangun 13 vision center baru dan memperkuat 21 pusat yang sudah ada.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa vision center dirancang untuk mempermudah akses layanan mata bagi masyarakat. Model ini menghubungkan puskesmas dengan dinas kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan mitra pembangunan. Diharapkan, pemeriksaan dan dukungan dari tenaga profesional serta penyediaan kacamata dapat diperluas hingga ke tingkat puskesmas.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu hingga keluhan penglihatan terasa berat. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menekankan pentingnya menjaga kesehatan mata dengan tidak menunggu hingga mengalami gejala seperti penglihatan kabur atau nyeri. “Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujarnya.
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya memberi jeda pada mata saat menggunakan perangkat digital dengan menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak 20 kaki (6 meter) selama 20 detik. Masyarakat diimbau untuk rutin memeriksakan mata agar gangguan dapat terdeteksi lebih awal dan ditangani dengan layanan yang sesuai.