Mary Mallon, yang tampak sehat, ternyata mengandung bakteri tifoid dalam sampelnya. Ia terhubung dengan beberapa wabah setelah bekerja sebagai juru masak. Meskipun sempat dibebaskan dengan syarat tidak lagi memasak, Mallon kembali ke profesi tersebut dan akhirnya dikarantina lagi hingga meninggal pada tahun 1938. Kisahnya menggambarkan dilema dalam kesehatan masyarakat: melindungi orang dari penularan sambil memastikan bahwa pembatasan yang diterapkan didasarkan pada bukti yang kuat, dijelaskan dengan baik, dan tidak mengabaikan hak serta kebutuhan hidup individu.
Mallon mencari nafkah dengan memasak untuk berbagai keluarga di New York. Pada musim panas tahun 1906, ia bekerja di rumah peristirahatan sebuah keluarga di Oyster Bay. Dalam waktu singkat, enam dari sebelas orang di rumah tersebut jatuh sakit akibat tifoid, sementara Mallon sendiri tidak menunjukkan gejala. Pada masa itu, konsep bahwa orang yang terlihat sehat dapat menjadi pembawa dan penyebar bakteri masih belum umum. Penyelidik bernama George Soper melacak riwayat pekerjaan Mallon dan menemukan bahwa ia pernah bekerja di beberapa rumah tangga lain yang juga mengalami kasus tifoid. Menurut biografi akademik dari Dictionary of Irish Biography, penelusuran ini mengaitkan Mallon dengan 22 kasus dan satu kematian di tujuh rumah tangga yang berbeda.
Dari Pemeriksaan Paksa ke Karantina
Bakteri penyebab tifoid, Salmonella Typhi, menyebar terutama melalui makanan atau air yang terkontaminasi oleh tinja dari pembawa bakteri. Bahkan orang yang sudah sembuh pun kadang masih dapat membawa dan mengeluarkan bakteri tanpa menyadarinya. Oleh karena itu, risiko yang dihadapi Mallon berkaitan erat dengan pekerjaannya di bidang makanan. Pada tahun 1907, petugas kesehatan memaksa Mallon untuk menjalani pemeriksaan, dan hasilnya menunjukkan adanya bakteri tifoid. Ia kemudian ditempatkan di Riverside Hospital di North Brother Island, sebuah pulau di East River, New York. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat mencatat bahwa Mallon sempat mengajukan permohonan untuk dibebaskan ke pengadilan pada tahun 1909, namun permohonan tersebut ditolak.
Bagi Mallon, yang merasa sehat, sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia dapat membahayakan orang lain. Sementara itu, otoritas kesehatan berhadapan dengan penyakit yang dapat menyebabkan wabah, dalam situasi di mana pemahaman dan pilihan penanganan masih terbatas. Sejarawan Jacob Steere-Williams mengingatkan bahwa bukti pemeriksaan pada masa itu tidak sesederhana yang sering diceritakan, dan hasil tes sering kali diperdebatkan, namun pengadilan tetap mendukung keputusan pemerintah kota.
Kembalinya ke Karantina
Pada tahun 1910, Mallon dibebaskan dengan syarat tidak boleh lagi bekerja sebagai juru masak dan harus menjaga kebersihan untuk mencegah penularan. Ia sempat bekerja di sebuah penatu, yang merupakan pekerjaan dengan upah lebih rendah dan lebih berat secara fisik. Beberapa tahun kemudian, ia kembali memasak dengan nama samaran "Mary Brown." Namun, pada tahun 1915, wabah di Sloane Maternity Hospital dihubungkan dengan juru masak di rumah sakit tersebut, yang mengakibatkan 25 orang terinfeksi dan dua orang meninggal. Petugas kesehatan kemudian menyadari bahwa "Mrs. Brown" adalah Mallon.
Mallon kemudian dikembalikan ke North Brother Island dan tinggal di sana hingga meninggal pada tahun 1938. Secara keseluruhan, ia menghabiskan sekitar 26 tahun di pulau tersebut dalam dua periode, dengan jeda setelah dibebaskan pada tahun 1910. Selama lebih dari seratus tahun, nama Mary Mallon sering diingat sebagai sosok yang menyebarkan penyakit. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, kisahnya menyimpan makna yang lebih kompleks.
Kasus Mallon mengangkat pertanyaan yang masih relevan hingga saat ini, yaitu bagaimana melindungi kesehatan masyarakat tanpa mengabaikan hak-hak individu. Apakah seseorang telah dinilai berdasarkan bukti yang cukup kuat? Apakah ia diberikan penjelasan yang jelas dan pilihan yang memungkinkan untuk hidup tanpa membahayakan orang lain? Sejarawan Jacob Steere-Williams mencatat bahwa ada banyak pembawa tifoid lain pada masa itu yang tidak mengalami perlakuan sekeras Mallon. Ia juga menunjukkan bahwa identitas Mallon sebagai perempuan, imigran Irlandia, dan pekerja rumah tangga memengaruhi cara masyarakat memandangnya.
Pandangan yang lebih luas ini juga diungkapkan dalam artikel American Journal of Public Health tahun 2023. Penulis artikel tersebut mengingatkan agar Mallon tidak hanya dicap sebagai "penyebar super." Label semacam itu memang mudah diingat, tetapi berisiko menyederhanakan kenyataan yang lebih rumit. Mallon memang terhubung dengan beberapa penularan, tetapi citra yang melekat padanya juga dipengaruhi oleh pemberitaan dan prasangka yang berkembang pada masa itu.
Oleh karena itu, perdebatan mengenai karantina tidak pernah hanya soal menghentikan penyebaran penyakit. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting, seperti seberapa kuat bukti yang digunakan untuk membatasi kebebasan seseorang? Apakah keputusan tersebut dijelaskan dengan baik kepada individu yang terdampak? Dan, ketika pengetahuan ilmiah berkembang, apakah kebijakan tersebut ditinjau kembali?
Di sisi lain, tifoid masih menjadi ancaman nyata di berbagai belahan dunia yang memiliki akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi. Penyakit ini mengingatkan kita bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada ketersediaan air bersih, sanitasi yang baik, kebersihan dalam pengolahan makanan, serta vaksinasi di daerah yang memerlukannya.
Secara keseluruhan, Mary Mallon adalah seorang individu yang hidup pada masa ketika pemahaman tentang pembawa bakteri masih berkembang, dan harus menghadapi pembatasan yang mengubah hidupnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa upaya untuk mencegah penularan harus berjalan seiring dengan perlakuan manusiawi terhadap individu.