Jakarta - Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta membuka peluang bagi mahasiswa dari beragam latar belakang agama. Salah satu contohnya adalah Ni Wayan Nayaka Sanjiwani, yang merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan di Fakultas Adab dan Humaniora dan beragama Hindu. Naya, sapaan akrabnya, memiliki ketertarikan untuk menjadi seorang guru dan memilih jurusan ini sebagai langkah awal yang strategis dalam mencapai cita-citanya.
Kekhawatiran Awal dan Adaptasi
Pada awal perkuliahan, Naya merasakan kekhawatiran terkait tradisi berhijab yang umum di kampus. Hal ini memaksanya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda. "Pertama kali coba pakai hijab saat tugas bikin video perkenalan diri untuk PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan), aku merasa saat sudah selesai buat video itu gerah dan ga betah di awal pakai," ujarnya.
Ia merasa beruntung karena mendapatkan dukungan dari teman-temannya yang peduli. Mereka membantunya dalam mengenakan hijab dengan benar. "Teman-teman aku tuh justru baik banget gitu, pas dari PBAK aku gak tau cara pake kerudung dengan peniti, terus teman aku langsung dibenerin dibantuin, gak sendiri-sendiri, mereka juga terbuka," jelasnya.
Pengalaman Belajar yang Berharga
Naya juga mengungkapkan bahwa ia tidak pernah membayangkan bisa berkuliah di UIN Jakarta. Namun, ada alasan strategis yang membawanya ke kampus ini. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga selama proses pembelajaran, termasuk mengikuti kelas bahasa Arab dan mempelajari teori-teori agama Islam.
"Di sini aku bersyukur aja sih teman-temannya baik banget, aku juga dulu mikirnya kayak, aduh nanti aku pasti bakalan dikucilkan, gak ada teman karena beda agama sendiri, tapi ternyata di luar itu, aku merasa mungkin Tuhan ngasih aku di sini untuk berbaur sama agama lain," ungkapnya.
Naya menambahkan bahwa teman-temannya banyak membantunya dalam memahami teori Islam. Dosen juga memberikan kemudahan saat ia harus menghafal surat pendek seperti Al-Fatihah. Pelajaran yang didapat di kampus seringkali membuatnya refleks mengucapkan kalimat seperti insyaallah, assalamualaikum, bahkan astaghfirullah saat berada di rumah. Ia merasa bersyukur karena UIN Jakarta tidak membedakan mahasiswa berdasarkan agama dan menerima mahasiswa nonmuslim. Perjalanannya di kampus membuktikan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu.