Fakta Kesehatan

Komplikasi Influenza pada Anak: Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Influenza dapat memicu komplikasi serius pada anak, termasuk gangguan neurologis seperti ensefalitis dan ensefalopati, meskipun kejadian ini jarang terjadi. Penting bagi orang tua untuk mengenali tand...

F
Fidzu Ardaf
18 September 2026
30 pembaca
ilustrasi seorang ibu memeluk anak balitanya yang sedang sakit flu, mengalami demam tinggi (magnific.com/magnific)
ilustrasi seorang ibu memeluk anak balitanya yang sedang sakit flu, mengalami demam tinggi (magnific.com/magnific)

Influenza dapat menyebabkan komplikasi neurologis pada anak-anak, seperti ensefalopati dan ensefalitis, meskipun insiden ini tergolong jarang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kejadian ensefalopati atau ensefalitis terkait influenza terjadi sekitar 2,8 kasus per 1 juta anak setiap tahunnya. Jika anak mengalami gejala seperti kejang, kesulitan untuk dibangunkan, penurunan kesadaran, atau perubahan perilaku yang tidak biasa saat terinfeksi influenza, segera cari bantuan medis.

Umumnya, influenza dikenal sebagai infeksi saluran pernapasan. Anak-anak biasanya mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, dan ketidaknyamanan, namun mereka akan pulih dalam beberapa hari. Namun, dalam beberapa kasus, dampak influenza dapat meluas hingga ke otak. Influenza berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem saraf, termasuk ensefalopati dan ensefalitis, yang dapat mengakibatkan perubahan kesadaran, kejang, hingga gangguan fungsi otak yang parah.

Frekuensi Komplikasi Otak akibat Influenza

Menurut Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), usia anak merupakan faktor penting dalam membahas komplikasi influenza. “Anak yang makin kecil usianya, makin besar kemungkinan mengalami komplikasi,” ujarnya dalam seminar media IDAI yang diadakan secara daring.

Menentukan seberapa sering komplikasi otak terjadi tidaklah mudah, karena bervariasi tergantung definisi kasus, sistem surveilans, usia anak, dan beratnya musim influenza di setiap negara. Data dari surveilans di Australia menunjukkan bahwa dari 710 anak yang dirawat di rumah sakit dengan influenza terkonfirmasi, 10 di antaranya mengalami ensefalitis atau ensefalopati terkait influenza, yang setara dengan sekitar 1,4 persen dari total kasus. Jika dihitung dalam populasi anak di bawah 14 tahun, rata-rata kejadian adalah 2,8 kasus per 1 juta anak per tahun.

Pentingnya Mengenali Tanda Bahaya

Pada musim influenza 2024–2025 di Amerika Serikat, CDC melaporkan 109 anak dengan IAE, di mana sebagian besar memerlukan perawatan intensif dan 19 persen di antaranya meninggal dunia. Meskipun komplikasi neurologis ini jarang terjadi, dampaknya bisa menjadi serius. Influenza dapat menyebabkan ensefalitis, yang merupakan peradangan jaringan otak, serta ensefalopati, yang merupakan istilah umum untuk gangguan fungsi otak. Keduanya merupakan komplikasi neurologis yang mungkin terjadi pada anak, bersama dengan komplikasi lain seperti mielitis.

Namun, dalam banyak kasus IAE, kerusakan otak tampaknya tidak disebabkan oleh virus yang menyerang jaringan otak secara langsung. Penelitian menunjukkan bahwa virus influenza jarang ditemukan dalam cairan serebrospinal. Diduga, respons imun yang sangat kuat, pelepasan zat peradangan, serta gangguan pada pembuluh darah dan penghalang darah-otak berkontribusi terhadap gangguan neurologis tersebut.

Gejala neurologis pada anak dengan IAE biasanya muncul dengan cepat, dengan median sekitar dua hari setelah gejala influenza dimulai. Perubahan status mental adalah salah satu temuan yang paling umum. Demam akibat influenza juga dapat memicu kejang demam, yang berbeda dari ensefalopati atau ensefalitis. Prof. Anggraini menegaskan perbedaan ini, menjelaskan bahwa kejang demam terjadi pada anak usia 6–60 bulan tanpa adanya infeksi pada sistem saraf pusat.

Orang tua perlu mengenali perubahan pada kondisi anak, meskipun hanya terjang influenza. Prof. Anggraini memberikan beberapa tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera, seperti kesulitan membangunkan anak, gelisah yang tidak biasa, kejang, napas cepat, tampak kebiruan, atau jika anak belum kencing dalam waktu 6 jam.

Untuk komplikasi neurologis, orang tua harus segera mencari pertolongan medis jika anak dengan demam atau gejala pernapasan mengalami kejang, halusinasi, atau perubahan tingkat kesadaran. Anak yang sangat sulit dibangunkan, tidak berinteraksi, tampak bingung, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok juga memerlukan perhatian khusus. Anak-anak dengan riwayat gangguan neurologis memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat dan komplikasinya.

Namun, komplikasi neurologis tidak hanya terjadi pada anak-anak yang memiliki penyakit sebelumnya. Laporan CDC menunjukkan bahwa sekitar 55 persen anak dengan IAE sebelumnya sehat dan tidak memiliki kondisi medis yang mendasari. Oleh karena itu, tidak adanya penyakit penyerta tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan komplikasi. Meskipun demikian, risiko absolut komplikasi otak tetap sangat kecil dibandingkan dengan jumlah infeksi influenza yang terjadi pada anak-anak. Yang terpenting adalah mengenali perubahan yang tidak boleh dianggap sebagai influenza biasa.

Anak-anak yang mengalami influenza dan tiba-tiba mengalami kejang, kesulitan dibangunkan, kebingungan, atau perubahan perilaku yang signifikan perlu segera mendapatkan penilaian medis.

Artikel Terkait