Sebuah studi yang melibatkan 8.783 orang dewasa menunjukkan adanya keterkaitan antara konsumsi makanan ultra-proses (UPF) yang tinggi dan peningkatan kemungkinan munculnya tanda cedera pada pembuluh darah otak yang terdeteksi melalui pemindaian MRI. Pada kelompok dengan konsumsi UPF tertinggi, makanan tersebut menyumbang sekitar 45 persen dari total porsi makanan harian, sementara pada kelompok dengan konsumsi terendah hanya sekitar 16,5 persen. Penelitian ini menilai pola makan secara keseluruhan dan bukan hanya konsumsi sesekali.
Peneliti belum menemukan hubungan signifikan antara konsumsi UPF dengan hasil dua tes kognitif dan belum dapat menentukan sebab-akibat, karena pola makan, hasil MRI, dan kognisi diukur pada waktu yang bersamaan. Dalam kehidupan sehari-hari, makanan yang cepat disiapkan sering kali menjadi pilihan utama setelah hari yang panjang, seperti mi instan, camilan kemasan, sereal manis, dan minuman ringan, yang dapat mengisi perut dengan mudah. Namun, peneliti kini sedang menyelidiki apakah pola konsumsi UPF dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan otak.
Temuan MRI dan Pola Makan
Dalam penelitian ini, pola makan peserta yang dianalisis adalah mereka yang berusia antara 35 hingga 69 tahun di Kanada dan tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner mengenai pola makan mereka dan menjalani pemindaian otak dengan MRI. Peneliti kemudian membandingkan kelompok dengan konsumsi UPF terendah dan tertinggi.
Tanda cedera pada pembuluh darah otak yang diidentifikasi dalam studi ini mencakup infark otak tersembunyi, yakni kerusakan kecil yang tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas, serta tingginya beban perubahan pada substansi putih otak yang terlihat di MRI. Temuan ini sering disebut sebagai tanda “silent stroke”. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor lain, kelompok dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan 40 persen lebih besar untuk menunjukkan tanda cedera tersebut dibandingkan dengan kelompok dengan konsumsi terendah.
Keterbatasan dan Implikasi Penelitian
Contoh makanan yang termasuk dalam kategori UPF dalam laporan studi ini meliputi camilan kemasan, sereal sarapan manis, minuman ringan, mi instan, dan makanan beku siap saji. Pada kelompok dengan konsumsi tertinggi, UPF menyumbang sekitar 45 persen dari total porsi makanan harian, sedangkan kelompok dengan konsumsi terendah hanya 16,5 persen. Hal ini mencerminkan kebiasaan makan peserta, bukan dampak dari satu kali konsumsi makanan tertentu. Selain itu, penelitian ini tidak menguji apakah mengurangi jenis makanan tertentu dapat mencegah cedera otak.
Dalam analisis tambahan, hubungan antara konsumsi UPF dan tanda cedera otak terlihat lebih kuat pada peserta perempuan. Namun, analisis berdasarkan jenis kelamin ini bersifat eksploratif dan bukan tujuan utama penelitian. Oleh karena itu, hasil tersebut perlu diuji kembali sebelum dapat disimpulkan sebagai perbedaan risiko yang pasti antara perempuan dan laki-laki.
Meskipun hasil MRI menunjukkan adanya perbedaan pada otak, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi UPF dan hasil dua tes kognitif yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa peserta yang mengonsumsi lebih banyak UPF mengalami penurunan daya ingat atau kemampuan berpikir.
Penting juga untuk mempertimbangkan keterbatasan dari studi ini. Pola makan, hasil MRI, dan kemampuan kognitif diukur pada waktu yang sama, bukan dipantau selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, peneliti belum dapat memastikan apakah konsumsi UPF menyebabkan perubahan pada otak atau sebaliknya. Selain itu, studi ini belum dapat menjawab apakah temuan pada MRI tersebut akan berkembang menjadi stroke atau gangguan ingatan di masa depan.
Makanan ultra-proses sering kali dipilih karena kemudahan akses, penghematan waktu, atau harga yang lebih terjangkau. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak seharusnya membuat seseorang merasa bersalah setelah sesekali mengonsumsi makanan jenis ini. Temuan ini hanya menunjukkan kemungkinan hubungan antara pola makan dan tanda perubahan pada pembuluh darah otak. Penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk memahami apakah hubungan tersebut benar-benar berdampak pada kesehatan otak seiring bertambahnya usia.