Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapat sorotan negatif dari partainya sendiri setelah menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai dengan Iran. MoU tersebut ditandatangani secara virtual pada Rabu, 17 Juni 2026, antara Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri permusuhan secara permanen di berbagai lini, termasuk Lebanon, serta memulai gencatan senjata selama 60 hari. Selain itu, MoU ini mencakup pencabutan blokade AS terhadap Iran, pemulihan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, serta rencana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS. Jika Iran memenuhi komitmen yang ditetapkan, mereka akan diizinkan untuk kembali ke dalam perekonomian global.
Reaksi Partai Republik
Namun, keputusan Trump untuk berdamai dengan Iran tidak disambut baik oleh sejumlah senator dari Partai Republik. Mereka menganggap kesepakatan ini tidak sesuai dengan janji yang sebelumnya disampaikan Trump dan berpotensi membuat Iran menjadi lebih kaya dan kuat, serta tetap menjadi ancaman di kawasan tersebut.
MoU yang ditandatangani di Prancis ini diharapkan dapat mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz yang vital, dan menstabilkan pasar energi setelah perang yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Namun, beberapa anggota Partai Republik merasa khawatir dengan ketentuan-ketentuan dalam kesepakatan tersebut.
Mereka mengkritik Trump karena dianggap memberikan keringanan sanksi kepada Iran, akses ke pasar minyak, serta dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS, tanpa mendapatkan komitmen tegas mengenai pengayaan uranium, rudal balistik, atau dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata.
Senator Bill Cassidy menyebut kesepakatan ini sebagai "kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade." Ia menegaskan bahwa sebelum perang, Selat Hormuz terbuka, dan Iran mengalami kerugian akibat sanksi, tetapi kini situasinya berubah dengan meningkatnya jumlah korban jiwa dan biaya yang ditanggung oleh keluarga di AS.
Penolakan dari Partai Demokrat
Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, menilai MoU tersebut tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai Trump. Ia mengkritik pencabutan sanksi dan pencairan dana yang dianggap sebagai imbalan atas kesediaan Iran untuk bernegosiasi lebih lanjut.
Senator John Cornyn dari Texas menyatakan kekhawatirannya bahwa kesepakatan ini mungkin hanya memberikan jeda bagi Iran untuk memperkuat persenjataannya dan melanjutkan pengayaan uranium. Sementara itu, Partai Demokrat secara keseluruhan menolak kesepakatan ini, menilai bahwa Trump telah meluncurkan perang yang mahal hanya untuk mencapai kesepakatan yang pada dasarnya mengembalikan status quo sebelum konflik.
Chuck Schumer, pemimpin Partai Demokrat di Senat, mengkritik Trump dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukan Trump di Iran adalah "Seni dari Bencana." Sementara itu, Trump membela kesepakatan ini sebagai langkah praktis untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima minyak mentah global. Ia juga mengingatkan bahwa AS dapat melanjutkan serangan jika negosiasi tidak membuahkan hasil.