Fakta Ekonomi

Lonjakan Harga Minyak Mentah, Dampaknya Terhadap BBM di Indonesia

Harga minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan akibat ketegangan di Timur Tengah, menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak domestik di Indonesia.

F
Fidzu Ardaf
01 November 2026
7 pembaca
[Dokumentasi Pertamina].
[Dokumentasi Pertamina].

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, harga minyak Brent dan WTI mengalami lonjakan yang tajam, mencapai titik tertinggi sejak bulan April. Kenaikan ini disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas energi di Arab Saudi. Lonjakan harga minyak mentah global ini dapat berdampak pada biaya pengadaan bahan bakar minyak di Indonesia.

Harga minyak mentah global kembali melonjak pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Ketidakpastian pasar terkait potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang semakin memanas mendorong harga minyak acuan Brent menembus angka US$117 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melampaui US$104 per barel. Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (30/10/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Desember ditutup naik sebesar US$2,76 atau 2,4 persen menjadi US$117,64 per barel. Selama sesi perdagangan, harga sempat mencapai level psikologis di angka US$118 per barel. Di sisi lain, WTI juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar US$2,12 atau 2,08 persen, sehingga berada di posisi US$104,12 per barel.

Performa Harga Minyak di Bulan Oktober

Menurut laporan dari Reuters, penutupan harga ini merupakan yang tertinggi sejak akhir April 2026. Sepanjang bulan Oktober, harga Brent telah mencatatkan pertumbuhan akumulatif yang mengesankan sebesar 13,6 persen, diikuti oleh WTI yang melonjak hingga 15,2 persen. Kenaikan harga komoditas energi ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh laporan mengenai insiden serangan terhadap armada kapal tanker di Selat Hormuz, serta ancaman militer yang menargetkan infrastruktur energi penting milik Arab Saudi.

Harga Minyak Global Per 31 Oktober 2026

Memasuki hari Sabtu (31/10/2026), patokan harga minyak dunia masih mengacu pada penutupan pasar di hari Jumat, karena bursa komoditas berjangka utama tidak beroperasi secara reguler pada akhir pekan. Untuk Brent pengiriman Desember, harga tercatat di US$117,64 per barel (naik 2,4 persen), dan WTI untuk pengiriman Desember di US$104,12 per barel (naik 2,08 persen). Brent untuk pengiriman Januari 2027 juga menunjukkan kenaikan menjadi US$113,43 per barel (naik US$2,63). Penting untuk dicatat bahwa kontrak Brent untuk bulan Desember telah kedaluwarsa pada perdagangan hari Jumat, dan kontrak pengiriman Januari 2027 kini menjadi yang paling aktif diperdagangkan di bursa.

Perbedaan angka yang ditampilkan pada berbagai platform pemantau pasar mungkin terjadi tergantung pada rujukan bulan pengiriman kontrak yang digunakan. Insiden keamanan terbaru di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak akhir pekan ini. Jalur pelayaran tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan sumber energi di Teluk Persia dengan pasar internasional.

Menurut laporan dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang dikutip oleh Reuters, sebuah kapal tanker terkena alat peledak yang dipasang melalui perahu kecil pada hari Jumat. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kepanikan di kalangan pelaku pasar sangat beralasan, mengingat data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan bahwa sebelum gangguan besar terjadi pada tahun 2026, sekitar 20,9 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz pada paruh pertama tahun 2025.

Volume besar tersebut mencerminkan sekitar 20 persen dari total konsumsi cairan minyak bumi di seluruh dunia. Gangguan pada rute ini akan menghambat arus pengiriman kapal, meningkatkan premi asuransi maritim, dan berpotensi mendongkrak biaya transportasi energi secara keseluruhan.

Selain masalah lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, fluktuasi pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan di kawasan tersebut semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap beberapa fasilitas energi milik Arab Saudi. Target serangan tersebut dilaporkan mencakup kilang Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq yang dioperasikan oleh Saudi Aramco.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait