Tuesday, 05 May 2026
Fakta Kesehatan

Mahasiswa Berusia 25 Tahun Harus Jalani Hemodialisis Saat Menyelesaikan Tugas Akhir

Seorang mahasiswa berusia 25 tahun terpaksa menjalani cuci darah saat menyelesaikan skripsi akibat gejala awal gangguan ginjal yang diabaikan.

P
Padma Dewi
31 March 2026 20 pembaca
Mahasiswa Berusia 25 Tahun Harus Jalani Hemodialisis Saat Menyelesaikan Tugas Akhir

Baru-baru ini, seorang mahasiswa berusia 25 tahun mengalami kondisi kesehatan yang serius saat menjalani proses penyelesaian skripsi. Awalnya, ia hanya mengalami tekanan darah tinggi yang dianggap sepele, namun ternyata merupakan indikasi awal adanya gangguan ginjal yang membutuhkan perhatian medis segera.

Mahasiswa tersebut, yang merupakan bagian dari jurusan kesehatan masyarakat, mengalami keluhan kesehatan yang tampaknya biasa. Dalam perjalanan menyelesaikan skripsi, ia merasa lelah dan mengalami peningkatan tekanan darah. Menurut pengakuannya, “Saya merasa tidak enak badan dan hanya berpikir itu karena stres menghadapi deadline skripsi,” ujarnya. Sayangnya, ia mengabaikan gejala tersebut, yang ternyata menjadi keputusan yang berisiko tinggi.

Setelah beberapa waktu, kondisi mahasiswa ini semakin memburuk. Keluarga dan teman-temannya mendorongnya untuk mencari perawatan medis, dan ia akhirnya melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Hasil tes menyatakan bahwa ia telah mengalami kerusakan ginjal yang cukup parah, sehingga memerlukan tindakan hemodialisis untuk menjaga kestabilan kondisinya. “Dokter mengatakan jika saya terlambat sedikit saja, bisa saja kondisinya lebih parah,” tambahnya.

Menurut dr. Rina, seorang dokter spesialis ginjal yang menangani pasien tersebut, “Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang masih muda. Risiko gangguan ginjal dapat muncul akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, dan ini penting untuk diwaspadai bagi siapa saja, terutama mahasiswa yang sering mengalami stres.”

Akhirnya, mahasiswa ini mulai menjalani perawatan rutin untuk cuci darah sebanyak tiga kali seminggu. Proses ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga sangat melelahkan, terutama saat ia berusaha tetap fokus pada akademiknya. Namun, ia mengungkapkan tekadnya untuk menyelesaikan skripsi meskipun harus membagi waktu dengan perawatan medisnya. “Saya ingin menyelesaikan studi saya dan tidak ingin kondisi ini menghentikan impian saya,” cetusnya dengan semangat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gejala kesehatan yang tampak sepele dapat memiliki konsekuensi yang serius dan pentingnya kesadaran akan tanda-tanda kesehatan. Saat ini, mahasiswa tersebut tetap berkomitmen untuk menjalani perawatan dan berharap dapat segera menyelesaikan studinya meskipun di tengah tantangan kesehatan yang dihadapi.

Seiring berjalannya waktu, diharapkan mahasiswa ini dapat pulih sepenuhnya dan kembali melanjutkan aktivitas akademiknya dengan baik. Kasus ini juga menjadi sorotan bagi institusi pendidikan untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan fisik mahasiswanya yang sering tertekan dengan tuntutan akademis.

Tidak ada tag untuk artikel ini

// Artikel Terkait