Fakta Kesehatan

Makanan dengan Risiko Tertinggi Terpapar Mikroplastik

Mikroplastik kini terdeteksi dalam berbagai jenis makanan yang kita konsumsi sehari-hari, baik dari sumber laut maupun darat. Beberapa langkah dapat diambil untuk mengurangi paparan mikroplastik tanpa...

F
Fidzu Ardaf
04 October 2026
34 pembaca
ilustrasi menuangkan garam (IDN Times/NRF)
ilustrasi menuangkan garam (IDN Times/NRF)

Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, telah menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir, bertransformasi dari isu lingkungan menjadi masalah kesehatan yang semakin diteliti. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya ada di laut, tanah, dan udara, tetapi juga telah mencemari makanan yang kita konsumsi setiap hari. Kontaminasi ini terjadi melalui berbagai cara, termasuk air dan tanah yang terkontaminasi, serta kemasan dan proses produksi makanan.

Ketika mikroplastik masuk ke dalam rantai makanan, hewan dan tanaman tidak dapat memilih apa yang mereka konsumsi, sehingga partikel ini dapat terakumulasi dalam tubuh organisme tersebut. Hal ini menimbulkan perdebatan ilmiah mengenai dampak jangka panjang paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia, serta jenis makanan yang paling rentan terhadap kontaminasi. Meskipun masih banyak yang perlu dipahami, bukti yang ada menunjukkan bahwa beberapa makanan lebih mungkin mengandung mikroplastik dibandingkan yang lain.

Makanan dengan Risiko Mikroplastik Tertinggi

Berikut adalah daftar makanan yang memiliki risiko tertinggi terpapar mikroplastik, termasuk beberapa yang mungkin menjadi favorit Anda:

  1. Seafood (ikan dan kerang)
  2. Garam dapur/garam laut
  3. Air kemasan (botol plastik)
  4. Kantong teh
  5. Beras
  6. Buah dan sayur
  7. Produk olahan (protein hewani dan nabati)
  8. Kerang bivalvia (tiram, kerang hijau, kerang dara)
  9. Ikan kecil yang dimakan utuh (sarden, teri, anchovy)
  10. Makanan laut olahan (surimi, bakso ikan, fish cake)
  11. Daging dan unggas (ayam, sapi, babi)
  12. Produk susu (susu, keju, yoghurt)
  13. Madu
  14. Gula dan pemanis
  15. Makanan ultraproses dalam kemasan plastik

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik

Mikroplastik yang ada di laut dapat masuk ke dalam tubuh ikan, kerang, dan organisme laut kecil lainnya karena partikel plastik yang tersebar di perairan. Banyak penelitian menemukan mikroplastik dalam tubuh hewan laut yang kemudian dikonsumsi oleh manusia. Kontaminasi ini berasal dari berbagai sumber, termasuk partikel plastik yang terurai di air, serat dari tekstil yang terbawa limbah, dan akumulasi di plankton yang dimakan oleh hewan laut yang lebih besar.

Produk laut seperti ikan, udang, dan kerang sering terkontaminasi mikroplastik, termasuk partikel serat kecil. Setiap kali makanan laut dikonsumsi, ada kemungkinan partikel plastik kecil ikut masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, banyak penelitian berfokus pada kategori makanan ini sebagai sumber utama paparan mikroplastik.

Selain itu, garam laut juga dapat terkontaminasi mikroplastik karena proses pengambilan garam dari laut yang sering kali melibatkan partikel plastik. Garam umumnya tidak diproses lebih lanjut setelah penguapan air laut, sehingga partikel plastik tetap ada dalam produk akhir. Beberapa studi menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di berbagai merek garam laut di seluruh dunia.

Air kemasan dalam botol plastik juga diketahui mengandung mikroplastik, terutama jika kemasan tersebut terpapar panas atau tekanan. Penelitian menunjukkan bahwa botol plastik dapat melepaskan ribuan hingga ratusan ribu partikel mikroplastik per liter air. Dengan konsumsi air kemasan yang umum, paparan mikroplastik dari air botolan bisa berkontribusi signifikan terhadap total mikroplastik yang dikonsumsi setiap tahun.

Kantong teh yang terbuat dari plastik dapat melepaskan jutaan hingga miliaran partikel mikroplastik ke dalam minuman saat diseduh. Penelitian menunjukkan bahwa jenis polipropilena dalam kantong teh tertentu dapat melepaskan jumlah partikel yang sangat besar saat diseduh, yang kemudian masuk ke dalam minuman.

Beras juga berpotensi mengandung mikroplastik, yang biasanya berasal dari lingkungan pertanian yang terkontaminasi. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke dalam sistem akar tanaman padi, sehingga berpotensi terakumulasi dalam butir beras. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konsumsi beras sehari-hari dapat menjadi sumber paparan mikroplastik, meskipun tingkat risikonya terhadap kesehatan manusia masih dalam penelitian.

Beberapa studi juga mendeteksi mikroplastik dalam sayuran dan buah, baik di permukaan maupun di jaringan tanaman, terutama jika ditanam di tanah atau irigasi yang terkontaminasi. Mikroplastik dapat masuk ke tanaman melalui air dan tanah, termasuk serat plastik kecil yang ada di kompos atau limbah pertanian.

Penelitian menunjukkan bahwa produk protein, termasuk daging dan produk olahan, juga mengandung mikroplastik. Kontaminasi ini tidak hanya berasal dari lingkungan, tetapi juga terkait dengan proses pengolahan makanan modern yang sering menggunakan kemasan plastik. Kerang bivalvia, yang menyaring air laut untuk mendapatkan makanan, dapat mengakumulasi mikroplastik dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan ikan.

Walaupun daging dan produk susu umumnya mengandung mikroplastik dalam jumlah yang lebih rendah, konsumsi rutin tetap menjadikannya sebagai salah satu sumber paparan mikroplastik yang perlu diperhitungkan. Produk susu juga dapat terkontaminasi mikroplastik, terutama dari proses pemerahan dan kemasan.

Dengan meningkatnya konsumsi makanan ultraproses yang dikemas dalam plastik, seperti camilan dan makanan siap saji, kategori ini menjadi salah satu jalur paparan mikroplastik yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa pemanasan makanan dalam wadah plastik dapat meningkatkan pelepasan partikel mikroplastik ke dalam makanan.

Untuk meminimalkan paparan mikroplastik, langkah-langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu menurunkan jumlah plastik kecil yang dikonsumsi. Meskipun masih banyak yang harus dipelajari tentang dampak kesehatan jangka panjang dari mikroplastik, kesadaran akan keberadaan dan sumbernya dapat membantu kita membuat pilihan yang lebih baik dalam pola makan.

Artikel Terkait