Fakta Kesehatan

Manfaat Lari Pelan untuk Kesehatan Otak

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa berlari pelan selama 10 menit dapat meningkatkan suasana hati dan fungsi eksekutif pada individu dewasa muda. Meskipun hasil ini menjanjikan, efek jangka panjangnya...

F
Fidzu Ardaf
05 October 2026
31 pembaca
ilustrasi joging di perkotaan (pexels.com/Ihsan Adityawarman)
ilustrasi joging di perkotaan (pexels.com/Ihsan Adityawarman)

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 24 orang dewasa muda yang sehat, partisipan diminta untuk berlari dengan kecepatan sangat pelan selama 10 menit di treadmill. Setelah sesi tersebut, terjadi peningkatan suasana hati serta salah satu ukuran fungsi eksekutif mereka dibandingkan dengan saat mereka duduk beristirahat. Peneliti juga mencatat adanya peningkatan aktivitas di area tertentu pada korteks prefrontal, yang berperan dalam fungsi eksekutif dan pengaturan suasana hati.

Temuan Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan efek jangka pendek setelah satu sesi lari. Namun, studi ini belum membuktikan bahwa berlari pelan dapat meningkatkan kesehatan otak dalam jangka panjang, mencegah demensia, atau lebih baik dibandingkan dengan berjalan kaki. Tidak semua orang mampu atau ingin berlari dengan cepat, sehingga dalam eksperimen ini, peserta diminta untuk berlari pada intensitas yang sangat ringan, hampir setara dengan kecepatan berjalan. Setelah 10 menit, beberapa ukuran suasana hati dan fungsi eksekutif mereka mengalami perubahan dibandingkan setelah duduk diam.

Ada beberapa poin penting dari penelitian ini: 1. Peneliti menguji lari sangat pelan selama 10 menit, 2. Suasana hati dan satu ukuran fungsi eksekutif menunjukkan perbaikan, 3. Aktivitas sinyal meningkat di bagian tertentu otak, 4. Gerakan kepala mungkin berhubungan dengan peningkatan rasa bahagia, 5. Temuan ini belum menunjukkan bahwa lari pelan lebih baik daripada berjalan kaki.

Metodologi Penelitian

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Imaging Neuroscience dan melibatkan dua sesi untuk setiap peserta: berlari sangat pelan selama 10 menit dan duduk beristirahat selama 10 menit. Urutan sesi ditentukan secara acak. Kecepatan lari peserta berkisar antara 3 hingga 6 kilometer per jam, yang merupakan sekitar 35 persen dari puncak konsumsi oksigen mereka—kategori intensitas yang sangat ringan. Para peneliti melakukan pengukuran suasana hati dan fungsi eksekutif sebelum dan sesudah sesi.

Setelah berlari, peserta melaporkan suasana hati yang lebih positif dibandingkan setelah sesi duduk. Mereka juga menyelesaikan bagian tertentu dari tes Stroop dengan lebih cepat, yang mengukur kemampuan untuk mengendalikan respons otomatis ketika dihadapkan dengan informasi yang saling bertentangan. Ini menunjukkan adanya perubahan sementara pada fungsi eksekutif.

Perubahan tersebut dinilai segera setelah satu sesi olahraga, sehingga hasil ini lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan efek akut—respons tubuh dan otak dalam waktu dekat—dan bukan sebagai bukti bahwa lari pelan dapat meningkatkan ingatan atau mencegah penurunan kognitif dalam jangka panjang.

Peneliti menggunakan alat functional near-infrared spectroscopy (fNIRS) untuk mengukur perubahan hemoglobin beroksigen di jaringan otak yang dekat dengan permukaan. Selama tes, peneliti mengamati peningkatan aktivitas di beberapa area korteks prefrontal kiri, termasuk area yang berkaitan dengan fungsi eksekutif dan pengaturan suasana hati.

Dalam eksperimen ini, gerakan kepala yang terjadi saat berlari pelan berhubungan dengan peningkatan rasa senang yang dilaporkan oleh peserta. Namun, hubungan ini belum membuktikan bahwa gerakan kepala secara langsung menyebabkan perubahan suasana hati. Peneliti menyebut mekanisme ini sebagai salah satu kemungkinan yang perlu diuji lebih lanjut.

Penelitian ini membandingkan lari pelan dengan duduk beristirahat, bukan dengan berjalan kaki atau jenis olahraga lainnya. Selain itu, jumlah peserta yang terlibat hanya 24 orang dewasa muda yang sehat, dan efek yang diukur hanya setelah satu kali sesi olahraga. Oleh karena itu, hasil penelitian ini belum tentu berlaku untuk semua kelompok usia, individu dengan gangguan suasana hati, atau penyakit otak, serta untuk manfaat jangka panjang.

Pesan yang dapat diambil adalah bahwa tidak perlu mengejar kecepatan tertentu untuk memulai aktivitas fisik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas fisik dalam bentuk apa pun lebih baik dibandingkan dengan tidak bergerak sama sekali. Bagi mereka yang masih kurang aktif, disarankan untuk memulai dari jumlah yang kecil dan meningkatkannya secara bertahap. Untuk orang dewasa, rekomendasi umum adalah melakukan 150 hingga 300 menit aktivitas aerobik dengan intensitas sedang per minggu, atau setara dengan aktivitas dengan intensitas berat. Meskipun lari pelan selama 10 menit belum memenuhi target tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas ringan dapat memberikan manfaat jangka pendek bagi suasana hati dan fungsi otak.

Artikel Terkait