Fakta Pendidikan

Mata Uang Terkendala: Enam Mata Uang Terlemah di Asia Menurut Forbes

Rupiah Indonesia termasuk dalam daftar enam mata uang terlemah di Asia versi Forbes, yang mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi negara-negara di kawasan tersebut.

N
Narayana Putra
13 June 2026
4 pembaca
Mata Uang Terkendala: Enam Mata Uang Terlemah di Asia Menurut Forbes
Foto: Pradita Utama / detikfoto/Ilustrasi dolar dan rupiah.

Jakarta - Nilai tukar mata uang terhadap dolar AS menunjukkan banyak yang mengalami pelemahan, termasuk rupiah Indonesia yang sempat mencapai Rp 18.000 per dolar AS. Bagaimana dengan kondisi mata uang di negara-negara Asia lainnya? Pelemahan mata uang ini mencerminkan tekanan ekonomi yang mendasar yang dialami setiap negara, yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor seperti inflasi tinggi, kondisi geopolitik, dan menurunnya kepercayaan investor global terhadap pasar domestik.

Daftar Mata Uang Terlemah di Asia

Berikut adalah daftar enam mata uang terlemah di Asia berdasarkan nilai tukar terhadap dolar AS, dengan data diambil dari konverter mata uang Forbes yang merujuk pada informasi dari Open Exchange per 1 Juni 2026. Nilai tukar ini dapat berfluktuasi tergantung pada faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas ekonomi suatu negara.

1. Rial Iran (IRR): Satu rial Iran bernilai USD 0,000001, yang berarti USD 1 setara dengan 1.315.000 rial Iran. Pada 11 Juni 2026, nilai ini menyentuh 1.376.000 rial. Penurunan tajam nilai IRR terjadi akibat konflik baru-baru ini antara Iran, Israel, dan AS.

2. Pound Lebanon (LBP): Satu pound Lebanon setara dengan USD 0,000011, sehingga USD 1 bernilai 89.432,68 pound Lebanon, dan pada 12 Juni 2026, nilainya menjadi 89.252. Dalam beberapa tahun terakhir, pound Lebanon mengalami penurunan karena perekonomian yang lesu, inflasi tinggi, pengangguran, krisis perbankan, dan gejolak politik.

3. Dong Vietnam (VND): Satu Dong Vietnam bernilai USD 0,000038, yang berarti USD 1 setara dengan 26.319,32 dong Vietnam, dan pada 12 Juni 2026, menjadi 26.332. Nilai VND tertekan oleh pembatasan ekspor dan perlambatan dalam sektor ekspor, ditambah dengan kenaikan suku bunga yang berkelanjutan di AS.

4. Kip Laos (LAK): Nilai 1 kip setara dengan USD 0,000046, sehingga USD 1 bernilai 21.971,71 LAK, dan pada 12 Juni 2026 menjadi 21.940 LAK. Laos menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lambat, meningkatnya utang luar negeri, dan inflasi tinggi, yang berkontribusi pada penurunan nilai mata uangnya.

5. Rupiah Indonesia (IDR): Pada awal Juni, satu rupiah bernilai USD 0,000056, yang berarti USD 1 setara dengan Rp 17.827,63. Setelah menyentuh Rp 18.000, pada 12 Juni 2026, USD 1 bernilai Rp 17.923. Menurut Forbes, Indonesia merupakan salah satu negara dengan PDB terbesar di Asia Tenggara, terutama berkat sektor jasanya. Namun, mata uang nasional mengalami penurunan akibat kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran akan resesi.

6. Som Uzbekistan (UZS): Satu som Uzbekistan setara dengan USD 0,000084, sehingga USD 1 bernilai 11.917,50 som, dan pada 12 Juni 2026 menjadi 11.970 som. Meskipun Uzbekistan merupakan salah satu pengekspor kapas terkemuka dan memiliki cadangan mineral, minyak, dan gas yang besar, negara ini menghadapi pertumbuhan ekonomi yang rendah, inflasi tinggi, dan korupsi.

Dampak Melemahnya Rupiah terhadap Masyarakat

Menurut Prof Dr Anton Agus Setyawan, SE, MSi, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, melemahnya rupiah akan berdampak pada masyarakat, terutama di desa. Inflasi yang terjadi dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatkan biaya transportasi serta distribusi barang. Hal ini berpotensi menyebabkan harga kebutuhan pokok ikut meningkat, sementara daya beli masyarakat menurun.

“Kondisi ini sebagai efek berantai yang saling berkaitan antara pelemahan kurs, inflasi, dan konsumsi masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa jika subsidi dihapus dan harga BBM naik, dampaknya pasti akan berpengaruh pada inflasi. Ketika daya beli menurun, aktivitas ekonomi masyarakat juga akan melambat, yang menjadi perhatian pasar.

Prof Anton menekankan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar atau masyarakat yang bepergian ke luar negeri. Masyarakat desa juga akan merasakan pengaruhnya karena ketergantungan pada barang-barang impor. Misalnya, pakan ternak yang masih menggunakan jagung impor, serta produksi tahu dan tempe yang bergantung pada kedelai impor. Barang-barang elektronik, smartphone, dan otomotif juga masih memiliki kandungan impor yang tinggi.

“Banyak industri kita masih tergantung impor. Jadi, pelemahan rupiah tetap berdampak sampai ke masyarakat desa lewat kenaikan harga barang,” tegasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait