Fakta Pendidikan

Sosiolog UGM Menyoroti Krisis Budaya Dialog Setelah Ledakan Bom di Sekolah

Kasus ledakan bom di sekolah, seperti yang terjadi di MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta, mengungkapkan masalah mendalam terkait perundungan dan kurangnya budaya dialog di Indonesia, menurut Dr. Andreas...

D
Dila Rakasiwi
29 July 2026
4 pembaca
Sosiolog UGM beri pandangan soal ledakan bom yang terjadi di sekolah. Foto: Freepik/freepik
Sosiolog UGM beri pandangan soal ledakan bom yang terjadi di sekolah. Foto: Freepik/freepik

Jakarta - Dr. Andreas Budi Widyanta, seorang sosiolog dan Ketua Social Research Center Universitas Gadjah Mada (SOREC UGM), memberikan perhatian serius terhadap insiden ledakan bom yang terjadi di sekolah-sekolah, khususnya di MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki kesamaan dalam hal masalah yang mendasarinya, di mana para siswa beralih pada tindakan ekstrem seperti bom sebagai bentuk pelarian dari keputusasaan yang mereka alami akibat perundungan.

Fenomena Gunung Es dalam Pendidikan

Abe, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kedua insiden ini menciptakan asumsi publik mengenai fenomena gunung es yang ada di dalam institusi pendidikan dan keluarga. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah yang terlihat hanya sebagian kecil dari permasalahan yang jauh lebih besar yang tersembunyi di bawah permukaan. Ia menekankan bahwa karakter anak terbentuk oleh lingkungan sosial di sekitarnya, termasuk keluarga, budaya, dan pendidikan, yang memungkinkan mereka menyerap nilai dan norma yang ada.

Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan rasa sakit, kurang kasih sayang, dan perhatian, mereka dapat mengalami luka batin yang mendalam. Perundungan di sekolah hanya menambah beban psikologis yang mereka alami, yang dapat memicu kemarahan yang terpendam. "Kemudian diguncang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah, situasi ini tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," jelas Abe.

Pengaruh Media Sosial dan Kegagalan Pendidikan

Menurut Abe, anak-anak memiliki kemampuan mimesis atau meniru, yang seringkali dipengaruhi oleh konten di media sosial yang sulit untuk dikontrol. Ia menyoroti bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemdikbud) belum memiliki kapasitas yang memadai untuk menyaring konten berbahaya di media sosial. Hal ini memungkinkan anak-anak terpapar pada konten yang mengajarkan kekerasan, yang kemudian dapat mereka tiru dengan cara yang ekstrem.

“Kemampuan mimesis yang salah tersebut ialah lah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah dan masyarakat,” ungkapnya. Melihat situasi ini, Abe mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa banyak anak yang mengalami luka emosional dan tidak tahu cara untuk menyembuhkannya. Ia menekankan bahwa solusi untuk kasus ini tidak hanya terfokus pada pengamanan fisik, tetapi juga perlu dilakukan penyelidikan mendalam terhadap sistem pendidikan dan penguatan budaya dialog di kalangan anak-anak.

"Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini, maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam, merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita," kata Abe.

Minimnya Budaya Dialog di Indonesia

Abe menilai bahwa budaya dialog dengan anak di Indonesia masih sangat kurang. Anak-anak tidak diajarkan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Ia berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia lebih banyak berfokus pada pengetahuan dibandingkan pada nilai-nilai moral. Lingkungan keluarga dan sekolah sering kali tidak saling mendukung, sehingga ketika anak mengalami masalah, mereka tidak memiliki tempat untuk berbagi keluh kesah.

Banyak orang tua lebih memilih memberikan ceramah dan menerapkan norma-norma ketat daripada mengajarkan anak untuk mengelola emosi mereka. Hal ini dapat menyebabkan emosi yang terpendam menjadi bom waktu yang berpotensi meledak.

Abe juga mengamati bahwa banyak guru di Indonesia menggunakan teknologi dengan cara yang kurang tepat. Ia mencatat bahwa seringkali guru hanya mengandalkan materi yang tersedia di internet dan mengabaikan tanggung jawab mereka dalam mendidik. "Banyak guru yang tidak memiliki panggilan untuk mengajar. Sehingga, pemahaman mereka akan cura personalis atau pendekatan pendidikan yang menekankan perhatian dan kepedulian menyeluruh terhadap setiap individu cukup minim," ujarnya.

Untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada, Abe menekankan bahwa perbaikan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga harus melibatkan keluarga dan masyarakat, didukung oleh kebijakan yang memungkinkan penerapan pendekatan cura personalis. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang seragam tidaklah efektif.

"Untuk memulihkan sistem pendidikan yang sudah bobrok ini memang sangat berat apabila tidak didukung solusi dari berbagai arah. Tantangannya adalah bagaimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem yang lebih cura personalis. Tidak ada treatment yang general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berarti itu bentuk kekerasan," pungkasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait