Surabaya, CNN Indonesia -- Muhammad Qodari, yang menjabat sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, memilih untuk tidak menanggapi kritik terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan istilah 'Londo Ireng' untuk menyebut jurnalis dan pengamat. Qodari mengajak media untuk tidak terfokus pada polemik istilah tersebut, melainkan untuk menilai substansi dari pidato Prabowo. Ia menekankan pentingnya melihat keseluruhan rangkaian pidato Presiden yang dinilai konsisten dalam membela kepentingan rakyat.
"Pertama begini kalau mengenai pernyataan presiden, pidato presiden mari kita lihat rangkaian pidato presiden, semuanya itu untuk membela kepentingan rakyat," ungkap Qodari di Surabaya pada Selasa (28/7).
Fokus pada Kesejahteraan Rakyat
Qodari menjelaskan beberapa topik yang menjadi perhatian utama dalam pidato Prabowo, termasuk kesejahteraan petani dan program energi. Ia menekankan bahwa pidato tersebut konsisten dalam membahas peningkatan kesejahteraan petani, taraf hidup nelayan, ketahanan pangan, swasembada beras, dan ketahanan energi.
"Konsisten sekali pidato presiden itu selalu berbicara meningkatkan kesejahteraan petani, taraf hidup petani, taraf hidup nelayan, ketahanan pangan, swasembada beras, ketahanan energi, pencapaian B50 ya," tambahnya.
Qodari juga mencatat sejumlah capaian lain yang disebutkan dalam pidato Prabowo, seperti proyek Blok Masela dan dugaan praktik under invoicing serta transfer pricing yang merugikan negara.
"Kemudian juga bagaimana blok Masela sudah 28 tahun akhirnya dimulai. Kemudian bagaimana beliau mengungkap adanya praktik under invoicing, transfer pricing yang merugikan negara setiap tahun Rp500 triliun, Rp600 triliun itu semua mau dihentikan," jelasnya.
Pentingnya Menyoroti Substansi
Menurut Qodari, poin-poin tersebut adalah substansi yang seharusnya menjadi sorotan dari pidato Prabowo. "Jadi insyaallah kita kalau fokus kepada substansi itulah poin-poin yang sesungguhnya dari pidato Bapak Presiden," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai desakan dari sejumlah organisasi profesi jurnalis yang meminta Prabowo untuk meminta maaf, Qodari menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut. Ia tetap mengulangi jawabannya yang sama ketika ditanya tentang adanya data yang mendasari pernyataan Prabowo.
"Kita lihat pada substansinya teman-teman. Substansi pada teman-teman," kata dia.
Sebelumnya, Prabowo menyindir pihak yang pada masa kolonial disebut sebagai 'londo ireng'. Dalam konteks sejarah Indonesia, istilah ini merujuk pada pribumi yang dianggap berkhianat dengan membantu penjajah Belanda.
"Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?" kata Prabowo dalam pidatonya di Puncak Harlah ke-28 PKB, Jakarta, Kamis (23/7).
Prabowo berpendapat bahwa sejak zaman penjajahan, terdapat individu-individu Indonesia yang tidak patriotik dan malah mengabdi kepada bangsa lain. Ia juga menyoroti media yang dianggapnya menafikan fakta bahwa pemerintahannya telah banyak merenovasi gedung sekolah.
"Yang sekian belas tahun tidak disentuh. Saudara-saudara, ada juga media-media yang... ya kan? Walaupun kita sudah perbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar, taruh di halaman pertama, aduh," ujarnya.