Fakta Kesehatan

Memahami Depresi Sirkadian, Subtipe Depresi yang Baru Dikenal

Depresi sirkadian adalah tipe depresi yang diusulkan oleh para peneliti, berhubungan dengan ketidaksesuaian ritme tidur dan aktivitas harian. Penelitian menunjukkan bahwa 23% peserta dengan riwayat de...

F
Fidzu Ardaf
22 October 2026
17 pembaca
ilustrasi circadian depression (pexels.com/Miriam Alonso)
ilustrasi circadian depression (pexels.com/Miriam Alonso)

Depresi sirkadian merupakan sebuah profil depresi yang diusulkan oleh peneliti, yang berkaitan dengan ketidaksesuaian antara ritme tidur-bangun dan aktivitas sehari-hari, bukan sekadar kondisi yang dialami oleh mereka yang suka begadang. Dalam sebuah studi yang melibatkan 11.380 peserta dengan riwayat depresi, ditemukan bahwa 23% dari mereka memiliki profil sirkadian, yang berhubungan dengan awal munculnya gejala yang lebih dini, tingkat keparahan gejala yang lebih tinggi, serta laporan tentang respons pengobatan yang lebih rendah.

Profil ini belum diakui sebagai diagnosis resmi; kriterianya masih bersifat sementara, data yang ada tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, dan pilihan terapi perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Ada individu yang sering mengalami kesulitan tidur di malam hari, namun tetap harus bangun pagi untuk bekerja atau merawat keluarga, yang menyebabkan tubuh merasa lelah sepanjang hari. Bagi sebagian orang yang mengalami depresi, pola tidur yang tidak teratur ini mungkin menjadi bagian dari kondisi yang lebih luas.

Apa itu Depresi Sirkadian?

Istilah ini merujuk pada profil depresi yang mungkin disertai dengan pola tidur-bangun yang tidak selaras dengan tuntutan sehari-hari. Konsep ini telah diusulkan dalam sebuah tinjauan ilmiah pada tahun 2021. Pada bulan Oktober 2026, sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam The British Journal of Psychiatry menguji profil ini pada kelompok besar peserta dengan riwayat depresi.

Dalam penelitian terbaru ini, para peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan enam ciri yang berhubungan dengan ritme tubuh. Untuk keperluan penelitian, peserta harus memiliki setidaknya tiga dari enam ciri tersebut agar dapat dikategorikan sebagai kelompok sirkadian. Ambang batas ini merupakan definisi sementara untuk penelitian. Memiliki satu atau dua ciri, seperti lebih nyaman bekerja di malam hari, tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami depresi.

Temuan dan Implikasi Penelitian

Studi ini menggunakan data dari 11.380 peserta yang terlibat dalam Australian Genetics of Depression Study. Dari jumlah tersebut, 2.604 orang atau 23 persen dikategorikan memiliki profil sirkadian. Mereka cenderung melaporkan bahwa depresi mereka muncul lebih awal dan mengalami gejala yang lebih parah, termasuk pengalaman yang mirip dengan hipomania, pikiran untuk bunuh diri, tekanan psikologis, keluhan fisik, serta peningkatan berat badan saat mengalami episode depresi.

Namun, penting untuk dicatat bahwa peserta bukanlah sampel acak dari populasi umum. Mereka memiliki riwayat depresi dan kelompok studi ini banyak terdiri dari individu dengan depresi berat atau berulang. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat disimpulkan bahwa 23 persen dari semua orang atau dari semua individu dengan depresi di berbagai negara mengalami profil ini. Penelitian ini juga hanya menganalisis peserta dengan latar belakang genetik Eropa, sehingga hasilnya mungkin tidak berlaku untuk populasi lain.

Peneliti juga menemukan adanya hubungan antara profil sirkadian dan laporan peserta mengenai manfaat yang lebih rendah serta efek samping yang lebih banyak saat menggunakan obat antidepresan golongan SSRI atau SNRI. Namun, respons terhadap obat ini dinilai berdasarkan laporan dari peserta, bukan melalui uji klinis yang membandingkan pengobatan. Temuan ini tidak membuktikan bahwa obat tersebut tidak akan efektif, atau bahwa seseorang harus menghentikannya. Penting untuk tidak mengubah atau menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Saat ini, kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi depresi sirkadian masih bersifat sementara dan eksploratif. Penelitian ini hanya mengamati data pada satu waktu, sehingga tidak dapat memastikan apakah gangguan ritme tubuh menyebabkan depresi, depresi memengaruhi pola tidur, atau keduanya saling berhubungan. Penilaian juga didasarkan pada laporan peserta sendiri tanpa pengukuran langsung terhadap penanda biologis jam tubuh, sehingga hasilnya masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian lebih lanjut.

Depresi sirkadian juga berbeda dengan depresi yang muncul mengikuti pola musiman. Meskipun keduanya dapat melibatkan perubahan ritme tubuh, American Psychiatric Association menjelaskan bahwa depresi musiman dalam DSM-5-TR termasuk dalam gangguan depresi mayor dengan pola musiman. Sementara itu, depresi sirkadian masih merupakan profil yang diusulkan oleh peneliti untuk membantu memahami variasi depresi, bukan diagnosis yang telah diakui secara resmi.

Para peneliti merekomendasikan agar penelitian selanjutnya mengeksplorasi pendekatan yang menargetkan ritme sirkadian, seperti pengaturan waktu tidur dan paparan cahaya. Namun, penelitian terbaru ini tidak menguji terapi tersebut secara langsung. Terapi yang paling tepat perlu dibahas dengan tenaga kesehatan yang memahami kondisi dan riwayat pasien. Jika suasana hati yang rendah atau hilangnya minat berlangsung terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai dengan perubahan tidur yang signifikan, pemeriksaan profesional dapat membantu mencari tahu penyebab dan pilihan perawatan. Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri, segera cari bantuan medis darurat dan beri tahu orang tepercaya.

Artikel Terkait