Mendengkur yang terjadi sesekali tidak selalu menunjukkan adanya masalah kesehatan. Namun, jika mendengkur itu keras dan terjadi secara rutin, terutama jika disertai dengan henti napas atau tersedak saat tidur, hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Gejala seperti mengantuk berat di siang hari, kesulitan berkonsentrasi, serta tekanan darah tinggi dapat meningkatkan kecurigaan terhadap kondisi sleep apnea.
Diagnosis sleep apnea tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan suara dengkuran. Dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan tidur untuk menilai pola napas pasien. Seringkali, suara dengkuran lebih dulu disadari oleh orang yang tidur di sebelahnya. Dengkuran bisa saja muncul hanya sesekali, misalnya ketika hidung tersumbat atau setelah mengonsumsi alkohol. Namun, jika mendengkur itu keras dan terjadi secara teratur, terutama disertai dengan henti napas atau tersengal, ini bisa menjadi tanda adanya sleep apnea obstruktif, yaitu kondisi di mana saluran napas menyempit atau tertutup berulang kali saat tidur.
Ciri-Ciri Mendengkur yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea, tetapi ada beberapa gejala yang harus diperhatikan. Berikut adalah lima ciri mendengkur yang sebaiknya tidak diabaikan:
- Dengkuran yang keras dan sering terjadi.
- Napas yang tampak berhenti, diikuti dengan suara dengusan atau tersedak.
- Merasa mengantuk atau lelah meskipun sudah tidur cukup.
- Dengkuran disertai dengan tekanan darah tinggi.
- Anak-anak yang mendengkur secara rutin atau mengalami kesulitan berkonsentrasi.
Dengkuran terjadi ketika jaringan di sekitar lidah, langit-langit mulut, atau tenggorokan bergetar saat udara melewati saluran napas yang menyempit. Dengkuran yang terjadi sesekali tidak selalu menandakan masalah serius. Namun, jika suara dengkuran keras, berulang, atau mengganggu tidur orang lain, penting untuk memperhatikan gejala lain yang mungkin menyertai.
Pentingnya Memperhatikan Gejala Lain
Mendengkur saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami sleep apnea. Penilaian harus mempertimbangkan keseluruhan gejala dan, jika diperlukan, hasil pemeriksaan tidur. Salah satu tanda yang penting adalah adanya jeda napas yang berulang saat tidur. Setelah jeda tersebut, seseorang mungkin kembali bernapas dengan suara mendengus keras, tersengal, atau tercekik. Bagi mereka yang tidur sendiri, hal ini mungkin tidak disadari, sehingga pengamatan dari pasangan atau anggota keluarga menjadi sangat berharga untuk disampaikan kepada dokter.
Pada sleep apnea, otak dapat memicu seseorang untuk terbangun sejenak agar dapat bernapas kembali. Gangguan ini bisa terjadi berkali-kali dalam semalam, sehingga mengurangi kualitas tidur. Tidur yang tampaknya cukup sepanjang malam bisa terasa tidak memadai jika napas terganggu berulang kali. Di siang hari, gejala yang dapat muncul termasuk rasa kantuk berlebihan, cepat merasa lelah, kesulitan fokus, dan reaksi yang lambat. Sakit kepala atau mulut kering saat bangun tidur juga bisa menjadi tanda adanya sleep apnea.
Jika rasa kantuk sudah mengganggu aktivitas, seperti nyaris tertidur saat mengemudi atau bekerja dengan mesin, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Hentikan aktivitas berisiko dengan aman dan diskusikan gejala tersebut dengan tenaga kesehatan. Tekanan darah tinggi sendiri bukanlah bukti pasti bahwa seseorang mengalami sleep apnea. Namun, jika hipertensi muncul bersamaan dengan mendengkur keras yang rutin, henti napas yang disaksikan orang lain, atau kantuk berat di siang hari, sleep apnea perlu dicurigai.
Kombinasi dari kantuk berlebihan di siang hari dengan setidaknya dua dari tiga tanda—dengkuran keras yang rutin, henti napas atau tersedak yang disaksikan orang lain, dan hipertensi yang sudah didiagnosis—dapat menjadi petunjuk adanya risiko sleep apnea yang sedang hingga berat. Kriteria ini membantu dokter dalam menentukan perlunya pemeriksaan lebih lanjut.
Sleep apnea juga dapat berhubungan dengan masalah kardiovaskular, termasuk hipertensi. Namun, hubungan tersebut terkait dengan gangguan napas saat tidur, bukan berarti suara dengkuran itu sendiri otomatis menyebabkan penyakit jantung. Sebuah tinjauan sistematis pada tahun 2024 merangkum penelitian yang menemukan adanya hubungan antara sleep apnea dan berbagai risiko kardiovaskular.
Sleep apnea juga dapat terjadi pada anak-anak. Dengkuran yang rutin, jeda napas, tidur yang gelisah, atau masalah perhatian dan perilaku di sekolah sebaiknya dibicarakan dengan dokter anak. Pada anak, masalah amandel atau adenoid yang membesar bisa mempersempit saluran napas. Jika mendengkur keras terjadi secara rutin, terutama jika disertai dengan jeda napas, terbangun sambil tersengal, kantuk berat di siang hari, atau tekanan darah tinggi, segera buat janji dengan dokter.
Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien, kemudian dapat merekomendasikan pemeriksaan tidur untuk menentukan apakah ada sleep apnea dan seberapa parah kondisinya. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di laboratorium tidur atau, pada pasien dewasa tertentu, di rumah dengan alat yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Diagnosis tetap harus ditegakkan oleh dokter.