Fakta Kesehatan

Mengapa Penderita Rabies Mengalami Ketakutan Terhadap Air?

Hidrofobia pada rabies bukan sekadar ketakutan terhadap air, tetapi juga berkaitan dengan reaksi saraf yang dapat memicu kejang saat menelan. Penanganan cepat setelah terpapar hewan yang dicurigai rab...

F
Fidzu Ardaf
29 September 2026
32 pembaca
ilustrasi segelas air (pixabay.com/Baudolino)
ilustrasi segelas air (pixabay.com/Baudolino)

Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies tidak hanya mencakup ketakutan terhadap air, tetapi juga reaksi fisik yang lebih kompleks. Proses menelan air bisa memicu kejang otot tenggorokan yang tidak terduga. Bahkan, hanya dengan melihat atau mendengar suara air, beberapa pasien dapat mengalami spasme. Meskipun rasa haus mungkin tetap ada, tindakan untuk minum menjadi sangat sulit. Namun, tidak semua individu yang terinfeksi rabies menunjukkan gejala hidrofobia ini.

Setelah mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai terinfeksi rabies, sangat penting untuk segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, lalu segera mencari pertolongan medis. Rasa haus yang kuat dapat dirasakan oleh orang yang terjangkit rabies, tetapi menelan air dapat menyebabkan kontraksi mendadak di tenggorokan. Melihat atau mendengar air juga bisa memicu reaksi serupa. Fenomena ini dikenal sebagai hidrofobia, yang secara harfiah berarti ketakutan terhadap air. Namun, istilah ini dianggap kurang tepat karena tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang dialami pasien, yang sebenarnya adalah gangguan saraf yang menyebabkan kesulitan saat menelan.

Penyebab dan Dampak Virus Rabies

Virus rabies masuk ke dalam tubuh melalui air liur hewan yang terinfeksi, biasanya melalui gigitan atau cakaran yang merusak kulit. Setelah itu, virus bergerak melalui saraf menuju otak dan sistem saraf pusat. Ketika infeksi menyebabkan peradangan pada otak atau ensefalitis, seseorang dapat mengalami perubahan perilaku, kesulitan menelan, peningkatan produksi air liur, hingga hidrofobia.

Rabies mempengaruhi fungsi sel saraf dan sistem kekebalan tubuh. Namun, mekanisme yang menghubungkan infeksi dengan gejala saraf tertentu masih belum sepenuhnya dipahami. Secara singkat, gejala hidrofobia dapat dijelaskan melalui respons tubuh yang terlihat, sementara jalur biologis yang lebih mendetail masih dalam penelitian lebih lanjut.

Gejala dan Penanganan Rabies

Pada bentuk rabies ensefalitik, usaha untuk menelan dapat menyebabkan kontraksi mendadak pada otot tenggorokan. Spasme otot ini kadang dipicu oleh melihat, mendengar, atau bahkan menyadari keberadaan air. Karena respons ini dapat menimbulkan rasa sakit dan mengganggu pernapasan, pasien sering kali merasa panik atau berusaha menjauh dari air. Dalam situasi ini, yang terganggu adalah respons saraf dan otot saat proses menelan.

Sebuah laporan kasus dalam Clinical Case Reports menggambarkan seorang pasien yang merasa sangat haus, tetapi setiap usaha untuk minum memicu spasme tenggorokan, sensasi tercekik, dan kesulitan bernapas. Hidrofobia lebih umum terjadi pada rabies ensefalitik, yang juga dapat disertai dengan gejala seperti gelisah, kebingungan, atau perubahan perilaku. Sebaliknya, rabies paralitik lebih ditandai dengan kelemahan otot yang dapat berkembang menjadi kelumpuhan. Oleh karena itu, tidak adanya hidrofobia tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyingkirkan kemungkinan rabies setelah seseorang terpapar hewan yang berisiko.

Jika seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai rabies, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci dan membilas luka dengan sabun serta air mengalir selama minimal 15 menit. Setelah itu, penting untuk segera menuju fasilitas kesehatan untuk dievaluasi apakah perlu mendapatkan vaksin rabies dan, dalam beberapa kasus, imunoglobulin. Rabies hampir selalu berakibat fatal setelah gejala klinis muncul, sedangkan pencegahan pascapaparan yang dilakukan sebelum gejala muncul dapat mencegah penyakit. Oleh karena itu, jangan menunggu hingga mengalami kesulitan menelan atau ketakutan terhadap air.

Artikel Terkait