Fakta Pendidikan

Mengapa Suhu Malam Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?

Selama musim kemarau, suhu malam hari di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, seringkali terasa lebih dingin. Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer yang terjadi pada musim tersebut.

A
Agustinus Jaya Wiratama
24 July 2026
18 pembaca
Ilustrasi malam cerah. Foto: Mohammad Farrel/detikFoto
Ilustrasi malam cerah. Foto: Mohammad Farrel/detikFoto

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada sekitar Agustus 2026. Selama periode ini, terdapat fenomena menarik di mana suhu malam hari terasa lebih dingin, terutama di Pulau Jawa. Dalam budaya lokal, fenomena ini dikenal sebagai bedhidhing atau bediding.

Penyebab Suhu Dingin di Malam Hari

Dr. Givo Alsepan, dosen dari Departemen Geofisika dan Meteorologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, menjelaskan bahwa fenomena malam kemarau yang lebih dingin ini disebabkan oleh beberapa kondisi atmosfer. Menurutnya, "Tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif."

Langit Malam yang Cerah

Givo menambahkan bahwa salah satu penyebab utama mengapa malam hari terasa lebih dingin selama musim kemarau adalah kondisi langit yang cenderung cerah. Pada malam hari yang cerah, tutupan awan berkurang, sehingga panas yang diserap oleh permukaan bumi pada siang hari dapat dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa dengan lebih efisien. "Sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat," jelasnya.

Selain itu, udara yang lebih kering selama musim kemarau juga berkontribusi pada penurunan suhu malam. Kadar uap air di atmosfer berkurang, yang membuat pelepasan panas dari permukaan bumi lebih efektif. "Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ungkapnya.

Pengaruh Angin Monsun dan El Niño

Pada periode Juni hingga Agustus, Australia mengalami musim dingin, yang berlawanan dengan kondisi di belahan bumi utara. Massa udara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia membawa udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke daerah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. "Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi oleh Monsun Australia," terangnya.

BMKG juga memprediksi bahwa fenomena El Niño akan bertahan hingga awal 2027, dengan kemungkinan kuat dan moderat. El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang dapat mengubah pola curah hujan di Indonesia. Givo menilai bahwa fenomena ini dapat memperkuat kondisi kemarau, dengan curah hujan yang lebih rendah dan langit yang lebih sering cerah pada malam hari, sehingga proses pendinginan radiasi menjadi lebih optimal.

Bukan Karena Aphelion

Dr. Akhmad Faqih, dosen dari Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) FMIPA IPB University, menjelaskan bahwa fenomena aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan suhu malam di Indonesia. Aphelion adalah saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya, yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Ia menekankan bahwa perubahan suhu harian yang cepat tidak relevan jika dikaitkan dengan fenomena aphelion yang siklusnya lebih lambat. "Ketika kita berbicara tentang kejadian cuaca dan iklim dan ingin melihat pengaruhnya karena apa, maka kita harus melihat time scale-nya," ucapnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait