Fakta Kesehatan

Mengenal Otot Soleus: Peran Pentingnya bagi Pelari

Otot soleus, yang terletak di bawah gastrocnemius, memiliki peran vital dalam aktivitas berjalan dan berlari, terutama pada jarak jauh. Meskipun sering diabaikan, nyeri pada otot ini dapat menjadi tan...

F
Fidzu Ardaf
21 September 2026
42 pembaca
ilustrasi otot betis soleus (pexels.com/Dania Ortega)
ilustrasi otot betis soleus (pexels.com/Dania Ortega)

Soleus merupakan otot yang terletak di bagian dalam betis, tepat di bawah otot gastrocnemius. Otot ini berfungsi untuk menekuk telapak kaki ke bawah dan menjaga keseimbangan tubuh. Dengan banyaknya serabut otot yang tahan lelah, soleus terus beroperasi saat melakukan aktivitas seperti berjalan dan berlari jarak jauh.

Nyeri pada otot soleus biasanya muncul sebagai rasa kaku atau pegal yang berkembang secara bertahap, sehingga sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Dalam konteks lari jarak jauh, keluhan yang dirasakan pada betis tidak hanya sebatas nyeri tajam. Beberapa pelari mungkin merasakan sensasi yang lebih samar, seperti betis yang terasa penuh, kaku, atau nyeri dalam yang semakin memburuk seiring bertambahnya jarak tempuh.

Fungsi dan Peran Soleus dalam Aktivitas Fisik

Soleus berperan dalam gerakan plantar fleksi, yaitu menekan telapak kaki ke bawah seperti saat berdiri jinjit. Gerakan ini penting untuk mempertahankan posisi tubuh, menstabilkan pergelangan kaki, dan membantu memberikan dorongan saat kaki meninggalkan permukaan. Berbeda dengan gastrocnemius yang melewati sendi lutut dan pergelangan kaki, soleus hanya melewati sendi pergelangan kaki. Otot ini didominasi oleh serabut otot tipe I yang lebih tahan terhadap kelelahan, menjadikannya krusial dalam aktivitas yang berlangsung lama seperti berjalan dan berlari jarak jauh.

Ketika berlari, soleus bekerja berulang kali pada setiap langkah, mengendalikan gerakan tungkai bawah saat tubuh bergerak maju, dan berkontribusi dalam memberikan dorongan melalui kompleks otot betis dan tendon Achilles. Tingginya frekuensi kerja soleus menjadikannya bagian penting dari kapasitas fisik seorang pelari. Namun, performa dalam berlari tidak hanya bergantung pada otot soleus, melainkan juga dipengaruhi oleh kecepatan, daya tahan, teknik, kebugaran jantung-paru, serta kemampuan otot lainnya.

Risiko Cedera dan Penanganannya

Cedera pada otot soleus sering kali tidak terasa seperti cedera akut. Gejalanya lebih sering berupa rasa kaku atau tegang yang berkembang secara perlahan, terutama pada aktivitas dengan volume lari yang tinggi dan saat tubuh mengalami kelelahan. Rasa nyeri ini bisa mereda dalam beberapa jam atau hari, sehingga pelari seringkali menganggapnya sebagai pegal biasa dan kembali berlatih sebelum jaringan otot sepenuhnya pulih. Padahal, cedera yang tidak terdeteksi dan kembalinya aktivitas yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko cedera berulang.

Sebuah studi terhadap 44 atlet yang mengalami cedera soleus dan terkonfirmasi melalui pencitraan MRI menunjukkan bahwa tiga orang mengalami cedera ulang dalam waktu satu tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya penanganan yang tepat terhadap cedera soleus. Variasi latihan calf raise dengan lutut ditekuk sering digunakan untuk memberikan porsi kerja lebih besar pada soleus, karena saat lutut ditekuk, kontribusi gastrocnemius berkurang, sehingga soleus mengambil alih sebagian besar pekerjaan.

Meskipun demikian, gerakan ini tidak sepenuhnya mengisolasi soleus. Penelitian mengenai heel-raise test menunjukkan bahwa perubahan posisi lutut dapat membantu membedakan fungsi antara gastrocnemius dan soleus, tetapi kontribusi kedua otot tetap saling tumpang tindih. Bagi pelari, latihan dapat mencakup calf raise dengan lutut lurus dan menekuk, dengan peningkatan beban yang dilakukan secara bertahap, terutama setelah jeda latihan atau saat jarak tempuh mulai meningkat.

Jika mengalami nyeri tajam, nyeri yang semakin berat, atau perubahan dalam cara berjalan, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk berlatih. Nyeri pada betis tidak selalu berasal dari soleus; gastrocnemius, tendon Achilles, jaringan di sekitar tulang, dan pembuluh darah juga dapat menyebabkan keluhan serupa. Pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan jika nyeri berlanjut, berulang, menyebabkan pincang, disertai memar atau pembengkakan, atau mengganggu kemampuan pelari dalam memberikan dorongan dengan kaki.

Cedera soleus juga dapat sulit dideteksi melalui pemeriksaan awal dan dalam beberapa kasus memerlukan pencitraan seperti MRI. Segera cari bantuan medis jika terjadi pembengkakan pada satu sisi betis, terasa hangat atau kemerahan, atau jika nyeri muncul tanpa penyebab yang jelas. Jika keluhan tersebut disertai dengan sesak napas mendadak atau nyeri dada, hal ini tidak boleh dianggap sebagai cedera olahraga karena bisa terkait dengan bekuan darah.

Meskipun tidak sepopuler gastrocnemius, otot soleus bekerja hampir terus-menerus saat berlari. Memahami peran otot ini dapat membantu pelari membedakan antara pegal yang wajar dan keluhan yang perlu diperhatikan, sehingga masalah yang berkepanjangan tidak diabaikan.

Artikel Terkait