Patricia Bath menciptakan teknologi Laserphaco pada tahun 1981, dan paten untuk alat tersebut diterbitkan di Amerika Serikat pada 1988. Alat ini memanfaatkan energi laser yang diarahkan melalui serat optik untuk memecah lensa katarak, kemudian mengeluarkan serpihannya. Selain inovasi teknologinya, Bath juga memperhatikan akses perawatan mata, yang menginspirasi konsep oftalmologi komunitas, yaitu layanan kesehatan mata yang menjangkau masyarakat luas, termasuk kelompok yang kurang terlayani.
Saat menjalani pelatihan di New York pada akhir 1960-an, Bath bekerja di klinik-klinik di Harlem Hospital dan Columbia University. Ia menyaksikan perbedaan mencolok di mana banyak pasien di Harlem mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan, sedangkan kondisi serupa lebih jarang ditemukan di klinik Columbia. Pengalaman ini mendorongnya untuk menyelidiki ketimpangan dalam perawatan mata. Penelitian retrospektif yang dilakukannya menunjukkan bahwa tingkat kebutaan pada orang kulit hitam di Amerika Serikat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih, yang ia kaitkan dengan terbatasnya akses terhadap layanan mata.
Pentingnya Akses Perawatan Mata
Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang awalnya jernih menjadi keruh, mengganggu penglihatan. Operasi katarak biasanya melibatkan pengangkatan lensa keruh dan penggantian dengan lensa buatan, yang dapat mengembalikan penglihatan bagi banyak orang. Namun, untuk memperoleh manfaat tersebut, layanan operasi harus tersedia dan terjangkau. Bath menyaksikan langsung ketidakadilan akses ini. Pada tahun 1968, klinik mata di Harlem Hospital belum menyediakan operasi mata. Ia berhasil meyakinkan para profesor di Columbia untuk melakukan operasi pada pasien buta secara gratis, dan turut membantu sebagai asisten. Operasi mata besar pertama di rumah sakit ini dilaksanakan pada tahun 1970.
Beberapa tahun kemudian, Bath ikut mendirikan American Institute for the Prevention of Blindness, sebuah organisasi yang berfokus pada pencegahan kebutaan dan perluasan layanan mata. Ia juga mengembangkan konsep oftalmologi komunitas. Dalam makalah yang diterbitkan pada tahun 1979, ia mengusulkan pendekatan yang menggabungkan kesehatan masyarakat, layanan komunitas, dan oftalmologi klinis untuk mencegah kebutaan serta memperluas perawatan bagi kelompok yang kurang terlayani.
Inovasi Laserphaco dalam Bedah Katarak
Bath tidak hanya berhenti pada layanan klinik, tetapi juga berusaha untuk mengembangkan metode tindakan katarak. Ia menciptakan Laserphaco pada 1981 dan menghabiskan beberapa tahun untuk penelitian dan pengujian alat tersebut. Pada 17 Mei 1988, paten untuk perangkat ini diterbitkan, menjadikannya sebagai perempuan kulit hitam pertama yang menerima paten medis di Amerika Serikat.
Dalam patennya, Bath menjelaskan bahwa alat tersebut berupa probe tipis dengan serat optik yang mengalirkan energi laser ke lensa yang keruh. Energi tersebut memecah materi lensa menjadi partikel kecil, sementara cairan digunakan untuk membilas area operasi, dan alat isap mengeluarkan serpihannya. Desain paten ini memungkinkan probe berdiameter sekitar 1 milimeter atau kurang untuk masuk melalui sayatan kecil.
Laserphaco berbeda dari metode phacoemulsification yang lebih dikenal dalam operasi katarak, di mana probe ultrasonik digunakan untuk memecah lensa sebelum serpihannya disedot keluar. Laserphaco menggunakan laser melalui serat optik. Pembedahan katarak juga memiliki berbagai metode lain, termasuk operasi dengan sayatan kecil, sehingga paten Bath menjadi salah satu inovasi penting dalam sejarah bedah katarak, dengan dokter kini menggunakan berbagai teknik sesuai dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada.
Katarak tetap menjadi penyebab utama gangguan penglihatan. Sebuah metaanalisis yang mengumpulkan data hingga tahun 2020 memperkirakan sekitar 17 juta orang di seluruh dunia mengalami kebutaan akibat katarak, sementara 83,5 juta lainnya mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat karena kondisi yang sama. Teknologi bedah saja tidak cukup untuk menjangkau semua orang. International Agency for the Prevention of Blindness mencatat bahwa faktor biaya, kurangnya tenaga terlatih, jarak, dan minimnya layanan menjadi penghalang bagi pasien untuk mendapatkan operasi katarak. Di sinilah kontribusi Bath sangat berarti, karena ia tidak hanya menciptakan alat bedah, tetapi juga mendorong akses pendidikan dan layanan kesehatan mata yang lebih luas.