Vaksin polio tersedia dalam dua bentuk, yaitu tetes oral (OPV) dan suntikan (IPV). Reaksi yang muncul setelah pemberian vaksin ini bervariasi tergantung pada jenis dan formulasi vaksinnya. Setelah mendapatkan suntikan, anak mungkin mengalami nyeri, kemerahan, atau bengkak ringan di area suntikan, yang merupakan reaksi umum. Sebaliknya, OPV biasanya tidak menunjukkan reaksi yang terlihat. Alergi berat akibat vaksinasi sangat jarang terjadi, dan kelumpuhan yang disebabkan oleh virus dari vaksin OPV juga merupakan kejadian yang sangat tidak umum, sementara IPV tidak dapat menyebabkan kondisi tersebut.
Banyak anak tidak menunjukkan reaksi setelah imunisasi polio, namun beberapa mungkin menjadi rewel atau merasakan nyeri ringan, terutama setelah menerima vaksin suntik. Reaksi yang muncul bergantung pada jenis vaksin yang diberikan, baik OPV maupun IPV, yang juga dapat menjadi bagian dari vaksin kombinasi untuk melindungi dari beberapa penyakit sekaligus.
Reaksi Setelah Vaksin Polio
Setelah pemberian vaksin polio suntik atau IPV, reaksi yang paling sering terjadi adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak ringan di tempat suntikan. Umumnya, keluhan ini bersifat sementara dan akan membaik dengan sendirinya. Demam ringan juga dapat muncul sebagai reaksi. Pada vaksin kombinasi yang mengandung IPV, reaksi yang mungkin terjadi mencakup demam, mudah rewel, mengantuk, tangisan, penurunan nafsu makan, muntah, atau diare. Tinjauan sistematis terhadap uji klinis pada bayi menunjukkan adanya reaksi-reaksi ini pada berbagai jadwal dan jenis vaksin polio. Karena beberapa vaksin diberikan dalam kombinasi, gejala yang muncul tidak selalu dapat dikaitkan hanya pada komponen polio.
Risiko dan Tindakan yang Perlu Diambil
OPV umumnya diterima dengan baik dan tidak menimbulkan efek samping yang terlihat. Namun, vaksin ini mengandung virus polio hidup yang telah dilemahkan, dan dalam kasus yang sangat langka, virus vaksin dapat menyebabkan kelumpuhan, yang dikenal sebagai vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan risiko terjadinya VAPP sekitar satu kasus per 2,7 juta dosis OPV. Risiko ini berbeda dari poliovirus turunan vaksin yang bersirkulasi (cVDPV), yang dapat muncul ketika virus vaksin menyebar di komunitas dengan cakupan imunisasi rendah dan mengalami perubahan sehingga dapat menyebabkan polio.
Berbeda dengan OPV, IPV menggunakan virus yang sudah diinaktivasi, sehingga tidak dapat menyebabkan VAPP. Alergi berat setelah vaksinasi sangat jarang terjadi, tetapi jika terjadi, harus segera ditangani. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi biduran, pembengkakan wajah atau tenggorokan, kesulitan bernapas, detak jantung cepat, pusing, atau kelemahan tubuh yang ekstrem. Jika gejala tersebut muncul, segera bawa anak ke layanan gawat darurat.
Selain itu, kelumpuhan mendadak atau kelemahan pada anggota gerak setelah imunisasi OPV juga perlu segera diperiksa. Meskipun kondisi ini sangat jarang, tenaga kesehatan harus melakukan evaluasi untuk menentukan penyebabnya. Demam tinggi, tangisan yang tidak berhenti, atau keluhan yang memburuk juga harus dikonsultasikan. Penting untuk diingat bahwa keluhan yang muncul setelah imunisasi tidak selalu disebabkan oleh vaksin. Petugas kesehatan akan menilai waktu kemunculan gejala, jenis vaksin yang diberikan, dan kondisi anak untuk menentukan langkah yang tepat.