Fakta Kesehatan

Mengenali Gejala Kanker Payudara Selama Masa Menyusui

Masa menyusui dapat mengubah kondisi payudara, sehingga penting bagi ibu untuk mengenali gejala yang mungkin muncul, termasuk yang berkaitan dengan kanker payudara.

F
Fidzu Ardaf
16 October 2026
8 pembaca
ilustrasi menyusui (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi menyusui (pexels.com/MART PRODUCTION)

Selama periode menyusui, banyak perubahan yang terjadi pada tubuh ibu, yang sering kali memerlukan penyesuaian. Perubahan ini tidak selalu mudah dipahami, terutama ketika timbul keluhan yang belum pernah dialami sebelumnya. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan mengenai kapan suatu perubahan masih dalam konteks menyusui dan kapan seharusnya mendapatkan perhatian medis, seperti gejala kanker payudara. Lalu, apa yang membuat gejala kanker payudara sulit dikenali saat menyusui?

Selama menyusui, kelenjar penghasil ASI mengalami pembesaran dan aktivitas jaringan payudara meningkat untuk mendukung produksi air susu. Akibatnya, payudara dapat terasa lebih padat dan memiliki tekstur yang berbeda dibandingkan sebelum kehamilan. Perubahan ini dapat menyulitkan ibu untuk mengidentifikasi perubahan baru pada jaringan payudara, terutama jika mereka belum terbiasa dengan kondisi setelah melahirkan.

Memahami Perubahan pada Payudara

Sering kali, ibu merasa bahwa perubahan yang terjadi berkaitan dengan proses produksi ASI, padahal penyebabnya bisa berbeda. Meskipun menyusui tidak menghalangi deteksi kanker payudara, keluhan yang mencurigakan tetap bisa dievaluasi selama masa laktasi tanpa harus menunggu hingga pemberian ASI selesai.

Benjolan yang muncul pada payudara saat menyusui bisa disebabkan oleh galaktokel, mastitis, atau abses. Galaktokel adalah kista yang berisi ASI yang terbentuk ketika ASI terperangkap di dalam jaringan payudara. Mastitis, di sisi lain, adalah peradangan jaringan payudara yang dapat menyebabkan nyeri, kemerahan, dan rasa hangat. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi abses, yaitu kumpulan nanah dalam jaringan yang memerlukan penanganan medis.

Kanker payudara disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal di jaringan payudara. Pemahaman tentang perbedaan penyebab ini sangat penting, karena penanganan untuk setiap kondisi tidaklah sama. Namun, baik benjolan akibat kondisi jinak maupun kanker dapat memiliki karakteristik yang mirip, sehingga rasa sakit atau tidak adanya demam tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. Oleh karena itu, pemeriksaan dokter sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi yang mendasari benjolan, terutama jika keluhan tidak kunjung membaik atau penyebabnya belum jelas.

Tanda-Tanda Perubahan yang Perlu Diwaspadai

Selain benjolan, terdapat beberapa perubahan lain pada payudara yang perlu diperhatikan selama menyusui. Meskipun perubahan ini tidak selalu menunjukkan adanya kanker, sebaiknya tidak diabaikan jika baru muncul atau berbeda dari kondisi biasanya. Berikut adalah beberapa tanda yang perlu dicermati:

  • Perubahan kulit payudara: Kulit yang tampak berlekuk, menebal, atau menyerupai kulit jeruk perlu diperiksakan, terutama jika perubahan tersebut baru muncul dan tidak kunjung membaik.
  • Perubahan bentuk atau posisi puting: Puting yang tertarik ke dalam atau mengalami perubahan bentuk tanpa penyebab yang jelas perlu mendapatkan perhatian medis.
  • Cairan berdarah dari puting: Cairan yang keluar secara spontan dan mengandung darah sebaiknya diperiksakan untuk mengetahui penyebabnya, meskipun tidak selalu berkaitan dengan kanker.
  • Benjolan di sekitar ketiak: Benjolan baru di area ketiak dapat berkaitan dengan pembesaran kelenjar getah bening atau kondisi lainnya, sehingga perlu dievaluasi oleh dokter.
  • Perubahan ukuran atau bentuk payudara: Perubahan yang menetap, terutama jika hanya terjadi pada satu sisi dan tidak sesuai dengan pola perubahan selama menyusui, sebaiknya tidak diabaikan.

Berbagai perubahan tersebut tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami kanker payudara, karena kondisi lain juga dapat menimbulkan gejala serupa. Sebaliknya, tidak semua kasus kanker payudara menunjukkan tanda yang sama, sehingga tidak adanya gejala tertentu bukan jaminan bahwa payudara bebas dari kelainan. Jika ada perubahan baru yang tidak biasa, menetap, atau semakin jelas, segera konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui melalui pemeriksaan yang tepat.

Pemeriksaan payudara tetap dapat dilakukan selama masa menyusui. Jenis pemeriksaan yang diperlukan ditentukan berdasarkan usia, keluhan, hasil pemeriksaan fisik, dan faktor risiko. USG sering menjadi pemeriksaan awal bagi perempuan di bawah 30 tahun yang mengalami benjolan, sementara bagi perempuan berusia 30 tahun ke atas, USG dan mammografi diagnostik dapat dipertimbangkan sesuai kondisi.

Mammografi menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambaran jaringan payudara dan dapat membantu menemukan kelainan yang tidak selalu terlihat melalui pemeriksaan fisik. Ibu yang sedang menyusui tetap dapat menjalani mammografi jika dokter menilainya perlu. Menyusui atau memerah ASI sebelum pemeriksaan dapat membantu mengurangi kepenuhan payudara, sehingga proses pemeriksaan menjadi lebih nyaman.

Jika hasil pencitraan menunjukkan kelainan yang mencurigakan, dokter mungkin akan merekomendasikan biopsi. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium, sehingga sifat kelainan dapat diketahui dengan lebih pasti. Tidak semua benjolan memerlukan biopsi, karena keputusan tersebut bergantung pada hasil evaluasi dan tingkat kecurigaan terhadap kelainan yang ditemukan.

American College of Radiology menyatakan bahwa pemeriksaan untuk mengevaluasi keluhan payudara sebaiknya tidak ditunda hanya karena pasien sedang menyusui. Prosedur pemeriksaan dan persiapannya dapat didiskusikan dengan dokter agar ibu memahami manfaat serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama masa laktasi. Dengan demikian, kekhawatiran mengenai pemberian ASI tidak menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan yang memang diperlukan.

Walaupun gejala kanker payudara sulit dikenali saat menyusui, penanganan tetap dapat dilakukan sesuai dengan jenis dan tingkat perkembangan penyakit. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak awal sangat penting untuk membantu dokter dalam menentukan langkah penanganan yang tepat. Ibu tidak perlu langsung menghentikan pemberian ASI hanya karena menjalani pemeriksaan, sebab keputusan terkait menyusui akan disesuaikan dengan kondisi dan jenis penanganan yang diperlukan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi para ibu dalam menjaga kesehatan payudara selama menyusui dan tidak ragu untuk mencari bantuan medis saat diperlukan.

Artikel Terkait