Jakarta - Penyerang baru Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Mitchell Baker, menjadi sorotan publik setelah berhasil mencetak tiga gol ke gawang Kamboja dalam ajang Piala AFF 2026. Penampilan debutnya yang mengesankan serta tinggi badannya yang mencapai 196 cm menjadi perhatian banyak kalangan.
Mitchell Baker resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 13 Juli lalu. Ia memiliki darah Indonesia dari ibunya, Maureen Lee Baker, yang berasal dari Yogyakarta dan Semarang. Pemain yang lahir pada 11 Desember 2006 ini sebelumnya bermain di tim universitas di Amerika Serikat, yaitu Georgetown University.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tinggi Badan
Bagaimana seorang anak seperti Baker bisa tumbuh hingga hampir 2 meter meskipun usianya baru 19 tahun? Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, antara lain:
1. DNA
Rata-rata tinggi badan pria di Indonesia adalah sekitar 166 cm. Menurut Medical News Today, tinggi badan seseorang saat dewasa sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Secara sederhana, seseorang yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata kemungkinan besar mewarisi gen dari orang tua atau leluhurnya. Penelitian menunjukkan bahwa ada 12.111 lokus gen yang berperan dalam menentukan tinggi badan.
Dr. Andrea Mucci, seorang ahli endokrinologi anak dari AS, menyatakan bahwa jika kedua orang tua memiliki postur tinggi, kemungkinan besar anak mereka juga akan tumbuh tinggi. "Tetapi jika salah satu dari Anda memiliki ibu atau nenek yang bertubuh pendek, atau seseorang dalam keluarga besar, maka tidak akan terlalu mengejutkan jika anak Anda bertubuh pendek," jelas Dr. Mucci. Dalam hal ini, Mitchell Baker memiliki ayah yang berasal dari Australia, di mana rata-rata tinggi pria di sana berkisar antara 175-177 cm.
2. Nutrisi
Nutrisi juga merupakan faktor penting dalam pertumbuhan. Sejak masa kehamilan, asupan nutrisi yang memadai sangat diperlukan untuk perkembangan tulang dan janin. Nutrisi seperti zat besi, asam folat, protein, vitamin D, dan kalsium sangat penting. Selama masa pertumbuhan, anak-anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup akan tumbuh lebih optimal, sedangkan kekurangan nutrisi dapat menghambat pertumbuhan.
Dr. Mucci menambahkan, "Kami biasanya mencurigai masalah nutrisi atau pencernaan jika berat badan turun lebih banyak daripada tinggi badan. Anak Anda mungkin tidak mendapatkan cukup energi untuk pertumbuhan yang optimal."
3. Disiplin dengan Pola Tidur yang Cukup
Menurut artikel yang dipublikasikan oleh National Heart, Lung, and Blood Institute, tidur yang berkualitas dapat mendukung pertumbuhan anak hingga remaja. Saat tidur, tubuh melepaskan hormon penting yang diperlukan untuk pertumbuhan. Kurang tidur dalam jangka waktu lama dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menyebabkan masalah lain, seperti kesulitan dalam berkonsentrasi dan belajar.
4. Disiplin Berolahraga
Banyak anak yang lebih suka bermain dengan mengandalkan fisik. Aktivitas bermain atau berolahraga dapat membantu memperkuat tulang dan otot. Pada umumnya, tinggi badan anak akan berhenti bertambah setelah melewati masa pubertas, ketika lempeng pertumbuhan telah menyatu. Rata-rata anak laki-laki mencapai akhir pubertas sekitar usia 17 atau 18 tahun, sedangkan perempuan sekitar 15 tahun.
Baca juga: Momen Sidang Skripsi Pemain Timnas Pratama Arhan, Lulus S1 Jurusan Ini!
Video: Tok! Naturalisasi Pesepakbola Luke Vickery dan Mitchell Baker Disetujui