Fakta Kesehatan

Mengurangi Durasi Duduk Dapat Menurunkan Risiko Kanker Payudara

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 menemukan bahwa perempuan dengan obesitas yang menghabiskan waktu duduk lebih lama cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker payudara, ter...

F
Fidzu Ardaf
21 October 2026
22 pembaca
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 melibatkan 9.706 perempuan dengan obesitas dan menunjukkan bahwa prevalensi kanker payudara meningkat seiring dengan lamanya waktu duduk, khususnya di kalangan peserta yang tidak aktif. Namun, karena penelitian ini menggunakan data dari satu waktu dan diagnosis berdasarkan laporan peserta, belum ada bukti definitif yang mengaitkan duduk lama dengan kanker payudara; penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk memperjelas hubungan ini.

Bukti yang lebih kuat menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mengurangi risiko kanker payudara, dengan perempuan yang paling aktif memiliki risiko 12 hingga 21 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang kurang aktif. Para ahli merekomendasikan untuk membatasi waktu duduk dan memenuhi target aktivitas fisik mingguan.

Perilaku Sedenter dan Kesehatan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghabiskan waktu duduk, mulai dari perjalanan ke kantor, duduk di kursi kerja sepanjang hari, hingga bersantai di sofa setelah pulang kerja. Duduk atau berbaring dengan sedikit energi yang dikeluarkan tubuh dikenal sebagai perilaku sedenter. Meskipun seseorang tetap berolahraga, mereka bisa saja menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam posisi duduk. Oleh karena itu, olahraga dan waktu duduk merupakan dua hal yang berbeda, meskipun keduanya saling terkait. Tingginya perilaku sedenter juga dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk risiko kanker secara umum.

Temuan Penelitian dan Implikasinya

Studi yang diterbitkan pada tahun 2025 menganalisis data survei kesehatan di Amerika Serikat dari tahun 1999 hingga 2020. Dalam penelitian ini, 9.706 perempuan dengan obesitas dianalisis, di mana 271 di antaranya melaporkan pernah didiagnosis kanker payudara. Peserta dikelompokkan berdasarkan lama duduk sehari, yaitu kurang dari 4 jam, 4–6 jam, 6–8 jam, atau lebih dari 8 jam. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang duduk lebih lama memiliki prevalensi kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang duduk kurang dari 4 jam. Hubungan ini terlihat lebih jelas pada kelompok yang kurang aktif secara fisik, sementara tidak terdeteksi pada kelompok yang lebih aktif.

Karena studi ini menggunakan data cross-sectional, yang hanya menggambarkan kondisi peserta pada satu waktu, peneliti tidak dapat memastikan apakah kebiasaan duduk yang lama menyebabkan kanker payudara atau jika hal itu dipengaruhi oleh kondisi kesehatan lainnya. Selain itu, diagnosis kanker didasarkan pada laporan peserta, bukan dari catatan medis. Para peneliti menekankan pentingnya melakukan studi jangka panjang untuk mengeksplorasi hubungan ini lebih lanjut.

Studi lain yang dilakukan pada tahun 2022 menggunakan metode Mendelian randomization, memanfaatkan data genetik untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan sebab akibat. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 130 ribu perempuan keturunan Eropa dan menemukan bahwa kecenderungan genetik untuk lebih banyak duduk berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi pada salah satu subtipe kanker payudara. Namun, metode ini tidak secara langsung menguji pengurangan waktu duduk dan dampaknya terhadap risiko kanker.

Sementara itu, bukti mengenai aktivitas fisik dan risiko kanker payudara jauh lebih kuat. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa perempuan yang paling aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara 12 hingga 21 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang paling tidak aktif. Meskipun demikian, temuan ini menunjukkan adanya hubungan, bukan jaminan bahwa olahraga dapat sepenuhnya mencegah kanker payudara.

Untuk mengurangi waktu duduk, tidak perlu melakukan perubahan besar. Anda dapat menyelingi pekerjaan dengan berdiri atau berjalan sebentar, berjalan saat menelepon, atau mengambil minuman sendiri. Intinya adalah berusaha untuk lebih banyak bergerak dalam aktivitas sehari-hari. Para ahli merekomendasikan agar orang dewasa melakukan aktivitas aerobik dengan intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu, atau aktivitas dengan intensitas tinggi selama 75 hingga 150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Selain itu, penting untuk membatasi waktu sedenter, termasuk waktu duduk yang terlalu lama.

Mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik adalah langkah positif untuk kesehatan secara keseluruhan. Namun, berdasarkan bukti yang ada saat ini, kebiasaan ini belum dapat dianggap sebagai metode yang pasti untuk mencegah kanker payudara.

Artikel Terkait