Dokter Erpryta SpPD dari Eka Hospital MT Haryono mengklarifikasi berbagai mitos yang beredar seputar campak, terutama di tengah meningkatnya kasus penyakit ini. Mitos tersebut mencakup larangan untuk mandi dan anjuran untuk mengonsumsi air kelapa saat terinfeksi campak. Banyak orang merasa bingung mengenai mana yang benar-benar dapat membantu proses penyembuhan dan mana yang justru dapat menghambat pemulihan.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Erpryta Nurdia Tetrasiwi, mandi saat terjangkit campak sebenarnya diperbolehkan. "Boleh dong mandi, tidak masalah," ujarnya. Namun, bagi beberapa orang yang masih mengalami demam, mungkin merasa tidak nyaman untuk mandi karena merasa kedinginan. Dalam kondisi ini, tidak masalah jika mereka memilih untuk tidak mandi. Ketika kondisi sudah membaik, mandi dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan tubuh.
Berjemur juga menjadi pertanyaan, di mana secara umum berjemur membantu penyerapan vitamin D yang penting untuk sistem imun. Namun, Erpryta menyatakan bahwa ia belum menemukan penelitian yang secara khusus membahas hubungan berjemur dengan campak.
Mengenai konsumsi air kelapa, Erpryta menjelaskan bahwa minum air kelapa tidak serta merta menyembuhkan campak. Penyakit ini memiliki beberapa fase, dan mengonsumsi air kelapa dalam jumlah banyak tidak akan mempercepat proses penyembuhan. Ia juga menekankan pentingnya bagi orang dewasa yang terinfeksi campak untuk memeriksakan diri ke dokter, mengingat campak dapat menyebabkan komplikasi serius.
Erpryta menambahkan bahwa umumnya orang hanya mengalami campak sekali, meskipun ada kasus di mana seseorang bisa terinfeksi lebih dari sekali, meskipun jarang. "Namun, kondisi yang berat itu biasanya yang pertama," jelasnya.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada orang di atas 18 tahun. Di ruang praktik, Erpryta masih menemukan kasus campak pada orang dewasa, bahkan dalam sebulan terakhir, ia mendapatkan sekitar lima pasien yang diduga menderita campak.
Campak sering dianggap sepele, tetapi pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi penyakit serius dengan komplikasi yang berat. Secara medis, campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Virus ini menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, dan dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam.
Gejala awal campak berlangsung 2-4 hari, di mana pasien mengalami demam dan gejala mirip flu. Salah satu tanda khas dari campak adalah munculnya bercak koplik, yang merupakan bercak keputihan di dalam pipi. Setelah bercak koplik muncul, ruam merah akan muncul satu hingga dua hari kemudian. Puncak penularan terjadi empat hari sebelum dan sesudah ruam muncul, sehingga penting untuk melakukan isolasi agar tidak menularkan kepada orang lain.
Komplikasi dari campak dapat mencakup pneumonia, ensefalitis, komplikasi jantung, dan kebutaan. Pneumonia adalah penyebab kematian tertinggi akibat campak pada orang dewasa, sedangkan ensefalitis dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Oleh karena itu, penanganan yang tepat dan segera sangat diperlukan.