Benjolan di payudara tidak selalu berarti kanker, karena bisa terkait dengan kondisi medis lainnya, sehingga diagnosis dari tenaga medis sangat diperlukan. Benjolan yang tidak jelas tetap harus ditangani dengan serius.
Kanker payudara bukan hanya masalah genetik atau hanya dialami oleh perempuan; sekitar 5-10% kasus disebabkan oleh mutasi genetik yang diwariskan, sementara 0,5-1% kasus terjadi pada laki-laki. Penggunaan bra juga tidak berhubungan dengan penyebab kanker payudara. Penyakit ini dapat diobati dan memiliki peluang sembuh yang tinggi, terutama jika terdeteksi lebih awal melalui skrining dan mammografi.
Kanker payudara dimulai dari pertumbuhan sel di jaringan payudara, biasanya di saluran yang membawa ASI ke puting. Di Amerika Serikat, kanker payudara menjadi jenis kanker kedua paling umum di kalangan perempuan. Di Indonesia, penyakit ini juga cukup umum, tetapi informasi mengenai kanker payudara masih sangat terbatas, sehingga banyak orang mudah percaya pada mitos yang beredar.
Benjolan di Payudara dan Pentingnya Diagnosis Medis
Salah satu gejala kanker payudara adalah benjolan yang tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, tidak semua benjolan di payudara adalah kanker. Benjolan tersebut bisa jadi merupakan lipoma (tumor jaringan lemak jinak), fibroadenoma (tumor jinak), atau infeksi. Untuk mengetahui apakah benjolan tersebut kanker atau bukan, pemeriksaan medis sangatlah penting. Bahkan jika benjolan tersebut bukan kanker, tetap diperlukan penanganan medis.
Kanker Payudara dan Faktor Genetik
Banyak orang beranggapan bahwa kanker adalah penyakit yang diturunkan. Meskipun ada kasus di mana hal ini benar, tidak semua kanker payudara disebabkan oleh faktor genetik. Hanya sekitar 5-10% dari kasus kanker payudara yang disebabkan oleh mutasi genetik dari orang tua. Sebagian besar kasus disebabkan oleh faktor lain, seperti gaya hidup tidak sehat dan obesitas. Sebaiknya, orang dengan riwayat keluarga kanker payudara dianggap memiliki risiko lebih tinggi, bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Kanker payudara sering diasosiasikan dengan perempuan, karena 99% dari penderita adalah perempuan. Namun, laki-laki juga dapat terkena kanker payudara, meskipun kasusnya sangat jarang, yaitu sekitar 0,5-1%. Penyebab kanker payudara pada laki-laki masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa faktor seperti usia, genetika, obesitas, dan paparan radiasi mungkin berkontribusi.
Mitos Tentang Penggunaan Bra
Salah satu mitos yang umum adalah bahwa penggunaan bra dapat menyebabkan kanker payudara. Banyak orang percaya bahwa bra dapat menyebabkan penumpukan racun di jaringan payudara. Namun, pernyataan ini tidak benar. Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di payudara tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor ganas, dan proses ini tidak ada hubungannya dengan penggunaan bra.
Kanker payudara, seperti jenis kanker lainnya, merupakan penyakit serius yang dapat mengancam nyawa. Namun, kanker payudara bukanlah vonis kematian. Penyakit ini dapat diobati, memiliki tingkat kelangsungan hidup yang cukup tinggi, dan bisa disembuhkan, terutama jika terdeteksi pada stadium awal. Oleh karena itu, penyedia layanan kesehatan mendorong perempuan untuk melakukan skrining kanker payudara di fasilitas kesehatan, terutama jika ada riwayat kanker payudara dalam keluarga, karena risiko mereka lebih tinggi.
Walaupun kanker payudara menjadi momok bagi banyak orang, terutama perempuan, menghindari pemeriksaan karena takut pada hasilnya bukanlah pilihan yang bijak. Perempuan berusia 20 hingga 39 tahun disarankan untuk melakukan skrining setiap bulan, sedangkan mereka yang berusia 40 tahun ke atas bisa melakukan mammografi setiap 1-2 tahun. Bagi yang berisiko tinggi, mammografi dapat dilakukan sejak usia 35 tahun.