Jakarta - Meskipun negara dengan ekonomi yang stabil dan tingkat keamanan yang tinggi, tidak selalu menjadikannya sebagai tempat yang paling aman saat bencana global terjadi. Bencana global adalah peristiwa besar yang dampaknya dapat dirasakan oleh banyak negara di seluruh dunia. Contoh bencana global termasuk perang nuklir, letusan gunung berapi, tumbukan asteroid, dan pandemi.
Studi berjudul "No Place to Hide? Regional Resilience and Vulnerability to Global Catastrophic Risk" yang diterbitkan dalam jurnal Global Challenges, menganalisis berbagai disiplin ilmu untuk mengidentifikasi potensi risiko bencana global. Peneliti mengkategorikan risiko tersebut ke dalam tiga kelompok. Pertama, Abrupt Sunlight Reduction Scenarios (ASRS), yang mencakup peristiwa yang menghalangi sinar matahari seperti perang nuklir atau letusan gunung berapi besar. Kedua, Global Catastrophic Infrastructure Loss (GCIL), yang meliputi peristiwa yang menghancurkan infrastruktur global, seperti badai geomagnetik atau serangan siber besar-besaran. Ketiga, Global Catastrophic Biological Risk (GCBR), yang merujuk pada ancaman biologis seperti penyakit menular yang dapat membunuh sebagian besar populasi.
Karakteristik Negara Tangguh
Penelitian menunjukkan bahwa negara-negara yang lebih kaya, dengan basis industri yang kuat dan tidak terlalu bergantung pada perdagangan global, memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi bencana global. Dengan adanya basis industri yang solid, negara tersebut dapat memproduksi barang-barang yang tidak bisa mereka impor, sehingga meningkatkan ketahanan mereka.
Faktor geografi juga memainkan peran penting dalam kesiapan negara menghadapi bencana global. Temuan menunjukkan bahwa negara berbentuk pulau besar lebih aman karena dapat mengisolasi diri dengan lebih mudah. Namun, negara kepulauan juga menghadapi risiko bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi. Contohnya adalah Jepang, yang meskipun memiliki risiko tersebut, juga memiliki ketergantungan perdagangan yang tinggi akibat kapasitas industrinya yang terbatas.
Di sisi lain, wilayah Bumi bagian selatan memiliki lebih banyak lautan dan lebih sedikit gunung berapi, yang dapat berfungsi sebagai penyangga iklim, sehingga negara-negara di sekitarnya lebih tahan terhadap letusan gunung berapi besar.
Pentingnya Demokrasi dan Kesetaraan
Proses demokrasi dan kesetaraan juga menjadi faktor penting yang membuat sebuah negara lebih mampu menghadapi bencana. "Ketika bencana terjadi, keputusan yang tepat harus diambil, dan hal ini tergantung pada apakah negara Anda memiliki tata pemerintahan yang berfungsi," ungkap penulis utama studi, Florian Ulrich Jehn. Ia menambahkan bahwa ketidaksetaraan dapat memperburuk tata pemerintahan, yang mengarah pada persaingan antar elit dan berkurangnya kapasitas negara.
Negara-negara dengan kemampuan nuklir seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Israel, Rusia, Pakistan, dan India, berisiko lebih tinggi terlibat dalam konflik nuklir, menjadikan belahan bumi utara, tempat negara-negara NATO berada, lebih rentan terhadap serangan nuklir.
Australia dinilai sebagai negara terbaik untuk menghadapi bencana yang dapat memusnahkan populasi global. Negara ini memiliki potensi sebagai produsen pangan utama, dengan beragam zona iklim dan infrastruktur energi yang kuat. Letaknya yang jauh dari kemungkinan konflik nuklir juga menjadi nilai tambah, meskipun memiliki kemitraan keamanan dengan AS.
Negara-negara lain yang juga dinilai baik adalah Argentina, Brasil, dan Selandia Baru. Namun, Selandia Baru berada di peringkat lebih rendah dibandingkan Australia karena adanya gunung berapi aktif dan ketergantungan yang lebih besar pada perdagangan. Brasil dan Argentina menghadapi tantangan berupa ketidaksetaraan tinggi dan ketidakstabilan politik.
Islandia juga dianggap sebagai kandidat tempat perlindungan yang aman, meskipun lokasinya di utara membuatnya rentan terhadap ancaman suhu akibat insiden besar yang menghalangi sinar matahari. Sementara itu, AS tidak berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi bencana global, mengingat kerentanannya terhadap badai geomagnetik dan risiko perang nuklir. Penanganan COVID-19 yang buruk di negara tersebut juga menunjukkan kurangnya kemauan politik dan kohesi sosial yang lemah.
"Tidak ada negara yang kebal terhadap setiap bencana, dan ini adalah temuan utama yang penting," kata David Denkenberger, direktur di Alliance to Feed the Earth in Disasters (ALLFED) dan peneliti di University of Canterbury di Selandia Baru yang tidak terlibat langsung dalam studi ini.