Fakta Pendidikan

Penemuan Kuburan Paus Terbesar di Dunia di Zona Diamantina

Ratusan fosil dan lima bangkai paus ditemukan di Zona Diamantina, Samudra Hindia, yang diidentifikasi sebagai kuburan paus terbesar di dunia. Penemuan ini dilakukan oleh tim peneliti dari China dalam...

P
Panca Akbar Saputra
16 June 2026
7 pembaca
Foto: (Global Trench Exploration and Diving Program / Institute of Deep Sea Science and Engineering via abc.net.au)
Foto: (Global Trench Exploration and Diving Program / Institute of Deep Sea Science and Engineering via abc.net.au)

Ratusan fosil serta lima bangkai paus telah ditemukan oleh para peneliti di Zona Diamantina, yang terletak sekitar 1.600 km di sebelah barat Australia. Lokasi ini dinyatakan sebagai kuburan paus terbesar di dunia.

Penemuan kuburan paus ini terjadi selama ekspedisi yang dipimpin oleh peneliti dari China. Beberapa fosil ditemukan di dasar laut Zona Diamantina, sebuah area sepanjang 1.200 km yang terdiri dari punggungan dan palung bawah laut yang berusia 5,3 juta tahun.

Proses Penemuan Kuburan Paus

Ekspedisi tersebut berlangsung pada Maret 2023 dengan menggunakan kapal penelitian bernama Tan Suo Yi Hao. Kapal ini sering digunakan untuk program eksplorasi dan penyelaman di palung global, hasil kolaborasi antara Institute of Deep Sea Science and Engineering (IDSSE) China dan beberapa negara, termasuk Selandia Baru.

Wakil direktur IDSSE, Xiaotong Peng, menjelaskan bahwa tujuan dari program ini adalah untuk menyelidiki keanekaragaman hayati, ekosistem, polusi, dan proses geologi di bagian terdalam lautan. Ekspedisi tersebut menjelajahi kedalaman antara 6.000 hingga 11.000 meter yang dikenal sebagai zona hadal. "Zona Diamantina adalah salah satu palung hadal utama di Samudra Hindia," ungkap Peng.

Australia merupakan negara terdekat dengan Zona Diamantina, yang terletak sekitar 1.600 km ke arah barat. Penjelajahan dilakukan dengan menggunakan kapal selam berawak Fendouzhe hingga kedalaman 11.000 meter. Pada kedalaman antara 4.200 hingga 7.200 meter, fosil paus pertama kali ditemukan. Peng Zhou, seorang ahli geologi laut dalam yang terlibat dalam ekspedisi tersebut, mengungkapkan bahwa saat pertama kali melihat fosil, ia tidak mengenalinya sebagai sisa-sisa paus karena telah dilapisi oksida ferromangan.

"Namun, kami dapat merasakan bahwa itu adalah sesuatu yang istimewa, jadi kami mengumpulkan sampelnya. Yang mengejutkan, kami menemukan semakin banyak fosil paus serupa dalam penyelaman berikutnya," jelasnya.

Sejak penemuan pertama, sebanyak 30 kali penyelaman dilakukan untuk memetakan sebaran fosil dan bangkai paus. Hasilnya, ditemukan 476 fosil cetacea, lima paus yang sedang mengalami dekomposisi aktif, dan salah satu penemuan ini merupakan spesies punah baru yang berusia 5 juta tahun.

Spesies Fosil Paus yang Ditemukan

Berbagai spesies paus yang fosilnya ditemukan di lokasi tersebut, termasuk paus balin (Balaenoptera borealis). Selain itu, terdapat lima spesies fosil paus berparuh yang kini telah punah. Tiga dari lima bangkai paus yang tengah diuraikan termasuk dalam spesies paus berparuh modern. Dr. Song, seorang peneliti dari IDSSE, menyatakan bahwa spesies berparuh yang masih ada hingga saat ini terlihat jika mereka terdampar. Namun, jika tidak terdampar, keberadaannya sulit diketahui.

Song menekankan bahwa jumlah, distribusi, ekologi, dan berbagai aspek mengenai paus berparuh masih kurang dipahami. Di antara fosil-fosil tersebut, ditemukan fragmen tengkorak dari spesies paus yang tidak dikenal, yang kemudian dinamai Pterocetus diamantinae. Giovanni Biannuci, seorang ahli paleontologi dan penulis studi, menyebutkan bahwa ada anatomi fosil Pterocetus diamantinae yang berbeda dibandingkan dengan spesies lainnya. Pembaruan ini tentu meningkatkan pemahaman manusia tentang sejarah evolusi paus berparuh.

"Dan membantu memperjelas bagaimana kelompok yang sangat terspesialisasi ini berevolusi," tambahnya.

Alasan Terbentuknya Kuburan Paus

Dengan ratusan fosil paus yang ditemukan, muncul pertanyaan mengenai bagaimana fosil-fosil hewan ini dapat terawetkan dengan baik. Beberapa hipotesis muncul untuk menjawab hal ini. Song berpendapat bahwa Zona Diamantina berfungsi sebagai habitat atau koridor migrasi bagi beberapa spesies paus, yang berarti sebagian besar sisa-sisa fosil tersebut mungkin berasal dari paus yang mati secara alami.

Lebih lanjut, Song mencatat bahwa banyaknya spesies paus berparuh yang ditemukan bisa berkaitan dengan perilaku mereka. "Paus berparuh yang menyelam hingga kedalaman lebih dari 3.000 meter mungkin mencapai batas fisiologis, sehingga meningkatkan risiko kelelahan fatal atau penyakit dekompresi," jelasnya.

Zona Diamantina memiliki topografi berbentuk V, yang membantu bangkai-bangkai bergerak ke arah dasar laut. Dr. Zhou menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang berperan dalam proses pengawetan fosil ini, yaitu: 1. Fosil yang tersisa sebagian besar berupa rostrum paus berparuh yang sangat padat dan kaya mineral, sehingga tahan terhadap degradasi. 2. Laju sedimentasi di Zona Diamantina sangat rendah. 3. Lapisan oksida ferromangan yang terbentuk menjadi kerak pelindung tulang paus. 4. Lingkungan laut dalam dan suhunya stabil, sehingga pelapukan fisik dan kimia sedikit terjadi.

Pentingnya Melestarikan Zona Diamantina

Meskipun Zona Diamantina menjadi rumah bagi banyak paus mati, dasar laut di sana juga dipenuhi dengan kehidupan. Ketika paus mati, tubuh mereka dimanfaatkan oleh berbagai makhluk lainnya. Craig Smith, seorang pakar bangkai paus dari Universitas Hawaii, menyatakan bahwa penemuan kuburan paus ini sangat berharga. Bangkai paus dapat meningkatkan keanekaragaman hayati di beberapa bagian terdalam lautan.

"Hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa bangkai paus di laut dalam merupakan pusat keanekaragaman hayati dan menyediakan jembatan penghubung bagi taksa yang bergantung pada sulfida," urainya.

Smith menilai perlunya eksplorasi lanjutan untuk mencari nekropolis paus serupa di area tempat paus berparuh mencari makan. Hal ini diyakini juga ada di suatu tempat oleh Profesor Peng. Dr. Song menambahkan bahwa palung laut dapat menjadi wilayah yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati laut, namun lokasi ini kini menghadapi ancaman polusi, sehingga perlu dilestarikan.

"Melindungi palung laut melestarikan perbatasan terakhir Bumi dan warisan evolusi uniknya. Pembatasan kawasan lindung laut di ekosistem palung perlu dipertimbangkan di masa mendatang," tandasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait