Fakta Kesehatan

Peningkatan Kasus Influenza di Musim Kemarau, Ini Penjelasan Dokter

Meskipun musim kemarau sedang berlangsung, kasus influenza di Indonesia mengalami peningkatan. Dokter menjelaskan bahwa pola penyebaran virus ini berbeda dengan negara beriklim sedang.

F
Fidzu Ardaf
19 September 2026
36 pembaca
ilustrasi beraktivitas dengan anak di dalam rumah saat cuaca panas (pexels.com/Artem Podrez)
ilustrasi beraktivitas dengan anak di dalam rumah saat cuaca panas (pexels.com/Artem Podrez)

Di Indonesia yang memiliki iklim tropis, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun, tidak hanya saat musim hujan. Ketika cuaca panas, polusi, atau kebakaran hutan menyebabkan orang lebih banyak berada di dalam ruangan, hal ini dapat meningkatkan risiko penularan virus. Oleh karena itu, meskipun terdapat peningkatan kasus di beberapa rumah sakit, hal ini tidak serta merta mencerminkan kondisi di seluruh Indonesia; diperlukan data surveilans yang lebih komprehensif untuk mendapatkan gambaran yang akurat.

Banyak orang cenderung mengaitkan influenza dengan musim hujan, suhu dingin, atau kelembapan yang tinggi. Namun, peningkatan kasus flu di musim panas seringkali menimbulkan pertanyaan. Fenomena ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Sebagai negara tropis, Indonesia tidak memiliki pola musim influenza yang jelas seperti negara-negara beriklim sedang. Virus influenza dapat beredar sepanjang tahun, dengan fluktuasi jumlah kasus yang terkadang meningkat, termasuk pada saat kemarau.

Pola Penyebaran Virus Influenza

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara daring pada Jumat (18/9), Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K) dari UKK Infeksi Penyakit Tropis IDAI mengungkapkan bahwa rumah sakit tempatnya bekerja mencatat peningkatan jumlah pasien influenza. Namun, ia menekankan bahwa data dari satu rumah sakit tidak bisa dijadikan acuan untuk menggambarkan kondisi influenza secara nasional. “Kalau di rumah sakit saya memang ada peningkatan. Yang namanya data rumah sakit, sangat mungkin rumah sakit tipe referral dengan rumah sakit misalnya RSUD sangat mungkin berbeda,” jelas Prof. Anggraini.

Menurutnya, penilaian tren influenza sebaiknya dilakukan berdasarkan kumpulan data yang lebih luas agar dapat memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai kondisi masyarakat secara keseluruhan. Di Indonesia, flu tidak mengenal musim hujan, dan saat cuaca panas, orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan.

Faktor Penyebab Peningkatan Kasus

Pola penyebaran influenza di daerah tropis berbeda dengan pola di negara beriklim sedang, di mana epidemi influenza biasanya terjadi pada musim dingin. Sebaliknya, di wilayah tropis, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun, dengan periode tertentu di mana aktivitasnya meningkat. Data surveilans influenza dari 2006 hingga 2011 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami aktivitas influenza yang konsisten sepanjang tahun, dengan puncak yang bervariasi setiap tahunnya.

Prof. Anggraini juga mengungkapkan bahwa ada faktor penting yang perlu diperhatikan, yaitu perubahan perilaku manusia ketika cuaca sangat panas. “Sebenarnya musim kemarau si virus itu lebih mudah mati. Tetapi kita itu merasa gerah kalau keluar. Jadi malah berkumpul di dalam. AC menyala. Ditutup ventilasi semuanya,” ujarnya. Hal ini juga berlaku ketika kualitas udara menurun akibat polusi atau kebakaran hutan, yang mendorong orang untuk lebih banyak berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup.

Ia juga menyoroti situasi di tempat penitipan anak, di mana jika satu anak sakit, kemungkinan besar akan menulari anak-anak lainnya. Influenza memang mudah menyebar di tempat yang padat, seperti sekolah, melalui partikel pernapasan dari individu yang terinfeksi. Penyebaran virus tidak hanya dipengaruhi oleh suhu atau kelembapan, tetapi juga oleh kondisi sosial, kepadatan, pola interaksi antar manusia, dan faktor lingkungan lainnya.

Singkatnya, meskipun musim kemarau berlangsung, virus influenza tetap beredar, dan pola aktivitas manusia menciptakan peluang lebih besar untuk penularan. Oleh karena itu, pencegahan influenza harus tetap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Anggraini menyarankan untuk memperbaiki ventilasi, menjaga kebersihan tangan, dan tidak memaksakan anak yang sakit untuk pergi ke sekolah. “Kalau musim kemarau dalam waktu lama, kita perbaiki dengan ventilasi. Hand hygiene-nya diperhatikan. Yang sedang sakit jangan masuk sekolah atau ngantor,” jelasnya.

Selalu ingat untuk menerapkan etika batuk dan bersin, mencuci tangan, menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum dibersihkan, serta menggunakan masker ketika sakit atau berada di lingkungan berisiko. Vaksinasi influenza tahunan juga tetap menjadi salah satu langkah pencegahan yang efektif untuk mengurangi risiko influenza dan penyakit berat. Di Indonesia, virus dapat bersirkulasi sepanjang tahun, dan faktor-faktor seperti perilaku manusia, kepadatan, ventilasi, serta mobilitas turut mempengaruhi kapan penularan meningkat.

Artikel Terkait