Fakta Kesehatan

Penyebab Fatty Liver pada Usia Muda: Lebih dari Sekadar Konsumsi Alkohol

Fatty liver pada remaja dan dewasa muda sering kali berkaitan dengan gangguan metabolik dan bukan hanya disebabkan oleh alkohol. Berbagai faktor seperti pola makan dan kurangnya aktivitas fisik juga b...

F
Fidzu Ardaf
07 October 2026
27 pembaca
ilustrasi kelelahan akibat fatty liver (magnific.com/magnific)
ilustrasi kelelahan akibat fatty liver (magnific.com/magnific)

Fatty liver, atau perlemakan hati, sering kali menjadi perhatian di kalangan remaja dan dewasa muda, di mana kondisi ini sering dikaitkan dengan masalah metabolik seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan kadar lemak darah yang tidak sehat. Meskipun pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko, penyebabnya tidak terbatas pada satu jenis makanan atau minuman saja. Selain alkohol, obat-obatan tertentu, malnutrisi, dan penyakit genetik juga dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak di hati. Oleh karena itu, penting untuk menilai setiap penyebab secara individual.

Temuan adanya lemak di hati bisa mengejutkan, terutama jika individu tersebut masih berusia belasan atau di awal 20-an. Namun, perlemakan hati bukanlah masalah yang hanya dialami oleh orang dewasa atau mereka yang mengonsumsi alkohol. Sejak tahun 2023, beberapa organisasi hepatologi telah mengganti istilah non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) menjadi steatotic liver disease (SLD), dengan kategori yang berbeda berdasarkan penyebabnya. Salah satu kategori tersebut adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yang menunjukkan adanya penumpukan lemak di hati bersamaan dengan setidaknya satu faktor risiko kardiometabolik.

Faktor Utama Penyebab Fatty Liver

Di usia muda, gangguan metabolik menjadi salah satu penyebab utama perlemakan hati. Kondisi ini mencakup kelebihan berat badan atau obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, serta kadar trigliserida atau kolesterol yang tidak sehat. Faktor-faktor tersebut sering muncul bersamaan, meningkatkan kemungkinan terjadinya penumpukan lemak di hati. Resistensi insulin, yang terjadi ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik, dapat mengganggu pengaturan gula dan lemak dalam tubuh. Seiring waktu, hati dapat menerima atau memproduksi lebih banyak lemak daripada yang dapat diprosesnya.

Dalam tinjauan sistematis yang dilakukan pada tahun 2026, ditemukan bahwa faktor yang paling konsisten terkait dengan MASLD pada dewasa muda adalah obesitas, resistensi insulin, dan gangguan lemak darah. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan dengan pola makan yang kurang sehat, rendahnya aktivitas fisik, serta waktu sedentari yang panjang. Namun, kualitas bukti untuk berbagai faktor ini bervariasi; hubungan yang ditemukan dalam studi tidak selalu membuktikan bahwa satu faktor secara langsung menyebabkan penyakit pada individu tertentu.

Pola Makan dan Genetik dalam Fatty Liver

Pola makan yang tinggi akan konsumsi minuman atau makanan manis serta asupan energi yang berlebihan dapat meningkatkan risiko, terutama jika dikombinasikan dengan kurangnya aktivitas fisik dan faktor metabolik lainnya. Pola makan yang mengandung fruktosa tinggi pada anak-anak juga dianggap berperan dalam perkembangan fatty liver. Meskipun demikian, kondisi ini tidak muncul hanya karena satu kali konsumsi minuman manis. Risiko berkembang melalui interaksi berbagai faktor yang terjadi bersamaan.

Fatty liver juga dapat terjadi pada individu yang memiliki berat badan normal. Pada beberapa orang, lemak dapat lebih banyak tersimpan di sekitar organ, atau terdapat resistensi insulin, faktor genetik, serta gangguan metabolik lainnya. Genetik dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan dan mengolah lemak. Riwayat keluarga juga bisa menjadi indikator adanya kerentanan, terutama pada perlemakan hati yang muncul lebih awal. Namun, faktor genetik tidak menjamin bahwa seseorang akan mengalami penyakit ini.

Alkohol memang dapat menyebabkan penyakit hati berlemak. Jika seseorang memiliki faktor metabolik dan juga mengonsumsi alkohol dalam jumlah berisiko, dokter mungkin akan mempertimbangkan kategori gabungan yang disebut metabolic and alcohol-related liver disease (MetALD). Oleh karena itu, evaluasi terhadap fatty liver perlu mempertimbangkan pola konsumsi alkohol, bukan hanya berdasarkan hasil pemindaian atau berat badan.

Selain itu, terdapat penyebab lain yang lebih jarang, seperti penggunaan obat-obatan tertentu—misalnya kortikosteroid, amiodaron, tamoxifen, atau methotrexate—yang dapat berhubungan dengan penumpukan lemak di hati. Pada anak-anak, faktor lain yang perlu diperhatikan termasuk malnutrisi, penurunan berat badan yang cepat, penyakit celiac, dan penyakit genetik tertentu seperti penyakit Wilson.

Obat yang diresepkan oleh dokter tidak boleh dihentikan tanpa pengawasan, karena hal ini dapat menyebabkan fatty liver. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penumpukan lemak, dokter akan mempertimbangkan obat yang digunakan, kondisi metabolik, konsumsi alkohol, riwayat keluarga, dan kemungkinan penyebab lainnya.

Perlemakan hati sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, terutama pada anak-anak. Oleh karena itu, kondisi ini bisa terdeteksi saat pemeriksaan dilakukan untuk alasan lain. Anak yang mengalami fatty liver mungkin hanya menunjukkan sedikit atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Penemuan lemak di hati sebaiknya menjadi alasan untuk menyelidiki penyebabnya lebih lanjut, bukan langsung menyimpulkan bahwa individu tersebut terlalu banyak makan, mengonsumsi alkohol, atau mengalami obesitas. Pemeriksaan oleh dokter sangat penting untuk membedakan MASLD dari penyakit hati akibat alkohol, obat, atau kondisi lain, karena penyebab dan penanganannya dapat berbeda.

Artikel Terkait