Ibu pekerja di Indonesia mengalami banyak tantangan, termasuk pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, dan tuntutan karier. Realitas ini dihadapi oleh jutaan ibu yang menjalani dua peran tanpa jeda, yang dikenal sebagai peran ganda. Namun, dalam praktiknya, peran ini sering kali menjadi beban yang berat, memengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka serta keluarga.
Salah satu contoh konkret adalah tantangan yang dihadapi ibu menyusui di tempat kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Basrowi dan tim dari Prodi Kedokteran Kerja FKUI serta Health Collaborative Center (HCC) selama periode 2013 hingga 2020 menunjukkan bahwa banyak ibu pekerja mengalami keterbatasan waktu, ruang, dan dukungan untuk menyusui secara optimal. Hal ini tidak hanya berdampak pada keberhasilan pemberian ASI eksklusif, tetapi juga berhubungan dengan tingkat kelelahan, stres, dan keputusan untuk berhenti bekerja lebih awal.
Hasil studi menunjukkan bahwa 4 dari 10 ibu buruh pabrik terpaksa menyusui di toilet pabrik karena kurangnya ruang laktasi yang memadai. Selain itu, hampir 70 persen pekerja perempuan di sektor manufaktur kesulitan mendapatkan waktu untuk memompa ASI di luar jam makan siang. Dari sudut pandang psikososial, beban ganda ini dapat dilihat sebagai tekanan kronis yang menciptakan konflik peran, di mana ibu pekerja tidak memiliki pilihan untuk meninggalkan salah satu peran tersebut.
Di Indonesia, tekanan ini diperburuk oleh kondisi sosial ekonomi, di mana banyak ibu bekerja bukan hanya untuk aktualisasi diri, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam situasi ini, mereka dihadapkan pada pilihan yang terbatas: tetap bekerja dengan konsekuensi kesehatan atau berhenti bekerja dengan risiko ekonomi yang tinggi. Hal ini menjadikan beban ganda sebagai tekanan struktural yang sering kali tidak terlihat.
Sering kali, ibu tidak menyadari bahwa kelelahan yang mereka alami adalah akumulasi dari beban kerja yang tidak seimbang. Mereka terus menjalani rutinitas harian, memenuhi tuntutan pekerjaan dan keluarga, tanpa waktu untuk pulih. Selain itu, kondisi gizi ibu pekerja juga menjadi masalah, dengan angka anemia defisiensi besi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata populasi perempuan dewasa di Indonesia, yang berkontribusi pada masalah kesehatan yang lebih serius.
Kombinasi antara beban ganda, kelelahan kronis, dan status gizi yang buruk menciptakan risiko kesehatan yang saling memperkuat. Anemia tidak hanya menyebabkan kelelahan, tetapi juga menurunkan kapasitas oksigen dalam darah, yang berdampak pada konsentrasi dan produktivitas kerja. Gejala anemia sering dianggap normal, padahal dapat menurunkan kualitas hidup ibu dan memperburuk siklus beban ganda.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa keseimbangan kerja-hidup dan asupan nutrisi yang baik bagi ibu pekerja bukan hanya masalah gaya hidup, tetapi juga bagian dari intervensi kesehatan. Ketika keseimbangan ini terganggu, produktivitas menurun, risiko absensi meningkat, dan kualitas sumber daya manusia dapat terpengaruh dalam jangka panjang.
Solusi terhadap masalah ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada individu. Edukasi kesehatan harus diimbangi dengan perubahan sistem. Pemenuhan kebutuhan biologis ibu sebagai prioritas kesehatan kerja harus menjadi fokus, termasuk waktu istirahat yang cukup dan akses nutrisi yang baik. Kebijakan berbasis kesehatan ibu pekerja perlu menjadi investasi penting di tempat kerja, dengan memperhatikan kebutuhan biologis dan sosial mereka.
Dengan demikian, harapan agar peran ganda ibu pekerja dapat menjadi modal produktivitas, bukan beban, harus diiringi dengan perubahan cara pandang terhadap isu ini. Kesehatan ibu pekerja perlu dijadikan indikator pembangunan yang penting, di samping angka partisipasi kerja perempuan dan produktivitas ekonomi. Kita perlu menyadari bahwa peran ganda ibu pekerja bukan hanya tentang kemampuan multitasking, tetapi juga tentang menghormati batas biologis dan psikologis manusia.
Jika sistem tidak berubah, peningkatan produktivitas tidak akan terwujud, melainkan penurunan kualitas hidup yang perlahan akan terjadi. Di balik setiap ibu yang terus bekerja dan mengurus keluarga, terdapat kelelahan yang perlu didukung, bukan hanya diharapkan untuk kuat.