Fakta Ekonomi

Perbankan Beralih ke Wealth Management di Tengah Perlambatan Kredit

Perubahan dinamika pasar keuangan global mendorong bank-bank di Indonesia untuk mengalihkan fokus dari pertumbuhan kredit ke bisnis pengelolaan kekayaan. Dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, la...

W
Wira Yudha
13 May 2026
19 pembaca
Perbankan Beralih ke Wealth Management di Tengah Perlambatan Kredit
Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan global mulai memengaruhi arah bisnis perbankan di Indonesia. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, fluktuasi pasar saham, dan persaingan likuiditas yang semakin ketat, bank-bank tidak lagi mengandalkan pertumbuhan kredit sebagai satu-satunya cara untuk menjaga kinerja mereka.

Transformasi Menuju Wealth Management

Bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management kini muncul sebagai sumber pertumbuhan baru. Layanan ini tidak hanya menawarkan produk investasi, tetapi juga mencakup pengelolaan aset, perlindungan, hingga perencanaan warisan keluarga. Langkah ini terlihat jelas pada PT Bank OCBC NISP Tbk yang baru-baru ini mengakuisisi bisnis International Wealth and Premier Banking dari HSBC Indonesia. Transaksi ini diperkirakan akan menambah lebih dari 336 ribu nasabah dan aset kelolaan hampir Rp 90 triliun ke OCBC Indonesia.

Presiden Direktur OCBC, Parwati Surjaudaja, menyatakan bahwa kebutuhan nasabah terhadap layanan keuangan saat ini semakin berkembang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar. “Layanan wealth management kini berkembang pada kemampuan menghadirkan solusi finansial yang lebih menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” kata Parwati dalam keterangan tertulisnya.

Peluang Bisnis Wealth Management di Indonesia

OCBC melihat potensi bisnis wealth management di Indonesia masih sangat besar, terutama dari kelompok affluent atau kelas menengah atas yang terus berkembang. Dengan akuisisi ini, OCBC bertujuan untuk memperkuat layanan investasi dan pengelolaan aset sekaligus memperluas basis nasabah premium. Setelah transaksi selesai, aset kelolaan OCBC diperkirakan akan meningkat sekitar 25 persen, dan perusahaan juga memperkirakan pertumbuhan bisnis kartu kredit lebih dari 150 persen.

Langkah yang diambil oleh OCBC mencerminkan tren yang semakin banyak dilakukan oleh industri jasa keuangan. Di tengah perlambatan ekonomi global dan volatilitas pasar, bank-bank mulai memperbesar pendapatan berbasis komisi dan jasa keuangan untuk menjaga profitabilitas. Fenomena ini terlihat dari semakin agresifnya lembaga keuangan dalam memperluas layanan investasi dan pengelolaan aset dalam beberapa tahun terakhir.

Contohnya, Manulife baru saja menyelesaikan akuisisi Schroders Indonesia untuk memperkuat bisnis pengelolaan investasi domestik. Setelah transaksi tersebut, Manulife Asset Management Indonesia kini mengelola dana investasi lebih dari Rp 124 triliun dengan lebih dari 2,5 juta nasabah. Sementara itu, Bank DBS Indonesia bersama Manulife meluncurkan produk perencanaan warisan lintas generasi yang ditujukan untuk nasabah kelas atas, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan perlindungan aset dan perencanaan kekayaan jangka panjang di Indonesia.

Meskipun perbankan mulai agresif dalam menggarap bisnis wealth management, mereka tetap berupaya menjaga pertumbuhan kredit agar ekonomi domestik tidak kehilangan momentum. Bank Mandiri, misalnya, mencatat pertumbuhan kredit infrastruktur sebesar 30,8 persen secara tahunan hingga Februari 2026, mencapai Rp 491,63 triliun. Pembiayaan ini mengalir ke sektor jalan, transportasi, energi, dan konstruksi yang masih menjadi penopang aktivitas ekonomi nasional.

Di saat yang sama, Bank Mandiri berhasil menerbitkan obligasi global senilai 750 juta dolar AS di tengah gejolak geopolitik global, dengan permintaan yang melebihi hingga 3,3 kali, menunjukkan bahwa minat investor asing terhadap sektor perbankan Indonesia masih cukup kuat.

Artikel Terkait