PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan komitmennya untuk mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen hingga akhir tahun 2026, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin sejak bulan Mei yang lalu. BCA meyakini bahwa permintaan pembiayaan dari berbagai sektor usaha tetap cukup robust untuk mendukung ekspansi kredit di tengah kondisi suku bunga yang tinggi.
Strategi Pertumbuhan Kredit
Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA, menyatakan bahwa perusahaan tidak akan mengubah target yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Hingga semester pertama tahun 2026, pertumbuhan kredit masih dianggap berada pada jalur yang sesuai dengan proyeksi yang telah dibuat. "Kami tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen sepanjang 2026," ujarnya dalam paparan kinerja semester I 2026, pada hari Selasa (28/7/2026).
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menambahkan bahwa prospek pertumbuhan kredit di semester kedua masih didorong oleh kebutuhan modal kerja dan investasi dari berbagai sektor. Ia menjelaskan bahwa sektor infrastruktur, termasuk yang berkaitan dengan teknologi, logistik, perkebunan, pertanian, dan jasa keuangan, tetap menjadi sumber utama permintaan pembiayaan. "Kita melihat usage kredit masih meningkat dan pipeline untuk semester kedua juga berasal dari sektor-sektor tersebut," kata Hendra.
Kebijakan Suku Bunga dan Penyaluran Kredit
Di tengah kenaikan suku bunga acuan, BCA belum sepenuhnya menerapkan kenaikan tersebut ke dalam bunga kredit. Perusahaan menyatakan bahwa penyesuaian dilakukan secara bertahap dan hanya kepada debitur tertentu, sesuai dengan profil risiko dan kondisi bisnis masing-masing. Hingga semester I 2026, kenaikan bunga kredit BCA tercatat sekitar empat basis poin, meskipun BI Rate telah meningkat sebesar 100 basis poin.
Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada tanggal 21-22 Juli 2026. BI memilih untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut dan memperkuat kebijakan dengan memberikan insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Kebijakan ini melanjutkan siklus pengetatan moneter yang dimulai pada bulan Mei 2026.
Pada semester I 2026, BCA mencatat penyaluran kredit sebesar Rp1.036 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan kali pertama kredit yang disalurkan oleh BCA menembus angka Rp1.000 triliun.