Jakarta - Menempuh pendidikan di negara asing bukanlah hal yang mudah, terutama ketika berhadapan dengan perbedaan bahasa. Hal ini dialami oleh Monthita Boonmaloet, seorang mahasiswa asal Thailand yang belajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Berbekal keberanian, ia datang ke Indonesia tanpa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, namun berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik. Bagaimana perjalanan Monthita hingga mencapai prestasi ini?
Belajar Bahasa Indonesia dari Awal
Monthita baru saja menyelesaikan program Magister Hukum Ekonomi Syariah di UMSURA. Ia pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 2019 dan mengakui bahwa ia tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Selain itu, ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru di tengah pandemi COVID-19. "Ketika pertama kali datang ke Indonesia, kemampuan bahasa Indonesia saya benar-benar masih nol. Jujur, itu merupakan hal yang sangat sulit bagi saya. Namun, saya tidak pernah menyerah karena memiliki keinginan kuat untuk bisa menguasai bahasa Indonesia dan menyelesaikan pendidikan di sini," ungkapnya.
Menjalani Tantangan Selama Kuliah
Di awal kedatangannya, Monthita mendapat dukungan dari kakak tingkat dan teman-teman sesama mahasiswa asal Thailand. Namun, situasi berubah ketika pandemi COVID-19 terjadi, memaksanya untuk kembali ke Thailand dan mengikuti perkuliahan secara daring. Alih-alih menunggu pandemi berakhir, ia memanfaatkan waktu tersebut untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia. "Menurut saya, masa yang paling sulit adalah setelah pandemi COVID-19, ketika saya harus menjalani kehidupan sebagai satu-satunya mahasiswi perempuan asal Thailand di Surabaya. Namun, justru masa itulah yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya belajar bangkit dan mengubah diri menjadi lebih mandiri serta percaya diri," tuturnya.
Monthita bertekad untuk mempersiapkan diri agar lebih mudah beradaptasi saat kembali ke Surabaya. Pada tahun 2021, ia kembali ke Indonesia dan terkejut karena mampu berbicara bahasa Indonesia dengan cukup lancar dalam waktu tiga hingga empat bulan. Kemampuan ini meningkatkan rasa percaya dirinya, sehingga ia mulai berani bepergian sendiri dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bergantung pada orang lain.
Keinginan untuk Sukses di Pendidikan
Perjalanan akademik Monthita tidak selalu mulus. Ia mengalami kesulitan dalam memahami materi perkuliahan, terutama saat kuliah daring selama pandemi. Banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, namun keterbatasan kuliah online membuatnya merasa terhambat. Ia sempat berpikir untuk berhenti kuliah dan kembali ke Thailand, tetapi keinginan untuk menjadi satu-satunya mahasiswa dari angkatannya yang berhasil lulus membuatnya bertahan. "Saat itu, saya berpikir bahwa saya tidak boleh menyerah. Saya ingin menjadi satu-satunya orang dari angkatan saya yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai lulus. Sederhana saja, saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya juga bisa menyelesaikannya," kenangnya.
Setelah melewati berbagai tantangan, Monthita akhirnya lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 dan dinyatakan sebagai wisudawan terbaik. Setelah kelulusan, ia berencana untuk memperdalam pengetahuan tentang sistem hukum di Indonesia dan berharap ilmu yang didapat dapat bermanfaat. "Saya yakin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama belajar di Indonesia akan sangat bermanfaat bagi saya di masa depan," ujarnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Monthita berencana kembali ke Thailand untuk berkumpul dengan keluarga dan memulai karir. Ia berharap dapat bekerja di perusahaan Thailand yang memiliki cabang di Indonesia, sehingga ilmu dan pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan kontribusi bagi kedua negara. "Bagi saya, penghargaan ini seperti akhir dari sebuah penantian panjang dalam perjalanan pendidikan. Saya menganggap pencapaian ini sebagai hadiah untuk diri sendiri atas segala usaha dan perjuangan selama ini," ungkapnya.
Monthita juga memberikan pesan kepada mahasiswa internasional dan generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri agar tidak takut menghadapi tantangan dan perbedaan. "Jangan takut untuk mencoba, karena tidak ada sesuatu yang terlalu sulit selama kita mau berusaha dan percaya pada kemampuan diri sendiri," pesannya.