Fakta Pendidikan

Perjuangan Nabil: Mahasiswa Kedokteran yang Juga Striker Persebaya U-20

Nabil Loverino Misab, seorang mahasiswa S1 Kedokteran di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, juga merupakan pemain sepak bola untuk Persebaya U-20. Ia menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara...

W
Wira Yudha
10 September 2026
14 pembaca
Nabil Loverino, striker Persebaya U-20 yang tengah jalani kuliah kedokteran. Foto: Unusa
Nabil Loverino, striker Persebaya U-20 yang tengah jalani kuliah kedokteran. Foto: Unusa

Nama Nabil Loverino Misab sudah cukup dikenal di kalangan penggemar klub sepak bola Persebaya Surabaya. Pemain yang berasal dari Surabaya ini memperkuat tim Persebaya U-20. Seperti atlet sepak bola lainnya, Nabil menjalani latihan pada sore hari. Namun, sebelum berlatih, ia lebih dulu mengikuti perkuliahan sebagai mahasiswa.

Nabil terdaftar sebagai mahasiswa S1 Kedokteran di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Menjadi seorang atlet sepak bola sekaligus mahasiswa kedokteran tentu bukanlah hal yang mudah, karena keduanya memerlukan waktu, tenaga, dan konsentrasi yang besar. Pertanyaannya, bagaimana Nabil menjalani kedua peran ini dan membagi waktunya?

Kuliah di Pagi Hari, Berlatih di Sore Hari

Keputusan Nabil untuk mengambil jurusan kedokteran tidak terlepas dari pengaruh keluarganya. Ayahnya bekerja sebagai analis kesehatan, sedangkan dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertamanya adalah dokter spesialis kandungan, sementara kakak keduanya berprofesi sebagai dokter umum. Kakak ketiganya memilih untuk menjadi guru.

Lingkungan keluarga yang demikian mempengaruhi pandangan Nabil terhadap pilihan pendidikan dan masa depannya. Ia mengaku sempat merasa terpaksa ketika diarahkan untuk mengambil jurusan kedokteran. "Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola," kata Nabil, dikutip dari laman Unusa.

Seiring waktu, pandangan Nabil terhadap pilihan tersebut mulai berubah. Ia mulai melihat kedokteran sebagai pilihan yang sejalan dengan keinginannya. Menurutnya, karier sebagai atlet sepak bola memiliki masa yang lebih terbatas dibandingkan profesi dokter.

Setelah perkuliahan, Nabil tidak langsung beristirahat. Ia melanjutkan aktivitasnya dengan berlatih bersama Persebaya. Di lapangan, Nabil biasanya bermain sebagai sayap kanan dan terkadang dipercaya untuk menempati posisi penyerang. Kecintaannya terhadap sepak bola sudah ada sejak usia sembilan tahun, ketika ia bergabung dengan salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya.

Perjalanannya berlanjut hingga ia bergabung dengan Persebaya. "Dari umur 13 sudah masuk Persebaya," ungkap Nabil.

Tantangan Menjadi Atlet dan Mahasiswa Kedokteran

Menjalani dua aktivitas yang sama-sama menuntut konsentrasi dan tenaga membuat Nabil menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah kondisi fisik. Sebagai seorang atlet sepak bola, Nabil dituntut untuk memiliki stamina dan kebugaran yang optimal. Di sisi lain, perkuliahan kedokteran juga memerlukan energi dan konsentrasi yang tidak sedikit.

Tantangan lainnya adalah pengaturan waktu. Jadwal kuliah kedokteran yang padat harus berjalan seiring dengan latihan rutin dan persiapan untuk pertandingan bersama Persebaya. Oleh karena itu, Nabil mulai belajar mengatur waktu sejak awal perkuliahannya. Ia berusaha menjadwalkan latihan sepak bola di sore hari agar tidak berbenturan dengan jadwal kuliah.

Selain itu, Nabil juga membuat waktu khusus untuk menyelesaikan tugas dan belajar. "Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu," ujarnya.

Bagi Nabil, pendidikan kedokteran merupakan salah satu prioritas. Namun, sepak bola tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupannya. Saat ini, ia ingin menjalani kedua bidang tersebut secara bersamaan. Nabil melihat bahwa pendidikan kedokteran dan karier sepak bola dapat berjalan beriringan. Selama aktivitasnya sebagai atlet tidak mengganggu perkuliahan, ia ingin mempertahankan keduanya.

Meski demikian, Nabil menyadari bahwa karier sebagai atlet memiliki batas waktu. Oleh karena itu, ia memandang pendidikan kedokteran sebagai bekal untuk mempersiapkan masa depan setelah karier sepak bolanya berakhir. "Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang," jelasnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait