Kasus yang dilaporkan dari Brasil menunjukkan dugaan bahwa HIV mungkin dapat menular melalui peralatan kuku yang digunakan secara bersama, meskipun laporan tersebut tidak menyatakan bahwa alat tersebut adalah sumber infeksi. Penularan HIV secara teoritis hanya dapat terjadi jika darah yang terinfeksi HIV masuk ke dalam tubuh melalui luka atau kulit yang rusak. Penggunaan kuteks atau nail art pada kuku dan kulit yang sehat tidak dapat menularkan virus ini.
Peralatan perawatan kuku yang digunakan secara bergantian perlu disterilkan dengan baik. Jika terdapat luka akibat alat yang tampak terkontaminasi darah, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, karena pengobatan pencegahan pascapaparan (PEP) harus dimulai dalam waktu maksimal 72 jam setelah terpapar.
Kasus Perempuan Berusia 22 Tahun
Seorang perempuan berusia 22 tahun di Brasil didiagnosis dengan HIV setelah infeksi yang berlangsung cukup lama. Ketika tenaga kesehatan melakukan penelusuran kemungkinan paparan, ia mengingat pernah berbagi alat manikur dengan sepupunya sekitar 10 tahun yang lalu. Sepupunya kemudian diketahui hidup dengan HIV. Peneliti membandingkan materi genetik virus dari keduanya dan menemukan urutan yang sangat mirip. Analisis genetik menunjukkan bahwa virus pada keduanya sangat mirip dan diperkirakan berasal dari garis virus yang sama. Perkiraan waktu tersebut berdekatan dengan saat mereka diduga berbagi alat manikur, namun tidak membuktikan bahwa alat tersebut menjadi sumber penularan.
Temuan dan Implikasi
Laporan kasus ini diterbitkan pada tahun 2014 dalam jurnal AIDS Research and Human Retroviruses. Perempuan tersebut tidak melaporkan faktor risiko penularan HIV yang umum saat diperiksa. Tim peneliti mencatat bahwa sepupunya belum mengalami supresi virus pada waktu yang diperkirakan menjadi waktu paparan. Meskipun riwayat berbagi alat tersebut diingat kembali bertahun-tahun kemudian, peneliti tidak dapat memastikan kapan penularan terjadi atau membuktikan bahwa alat tersebut benar-benar menjadi perantaranya. Oleh karena itu, penulis menyebutnya sebagai kasus yang mungkin berkaitan dengan perawatan manikur, bukan bukti pasti bahwa HIV menular melalui alat salon. Laporan satu pasien tidak cukup untuk menghitung seberapa besar risikonya bagi pelanggan salon secara umum.
Kasus ini berbeda dengan investigasi yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di New Mexico yang dilaporkan pada tahun 2024. Investigasi tersebut menemukan dugaan penularan HIV terkait prosedur microneedling dengan plasma kaya trombosit di sebuah spa yang tidak memiliki izin, bukan melalui layanan manikur atau nail art.
HIV dapat menular melalui cairan tubuh tertentu, termasuk darah, jika masuk ke dalam aliran darah atau mengenai selaput lendir serta jaringan yang terluka. Namun, HIV tidak dapat bertahan lama di luar tubuh dan tidak dapat berkembang biak di permukaan benda. Oleh karena itu, duduk di kursi salon yang sama, menyentuh peralatan yang tidak terkontaminasi darah, atau menggunakan kuteks pada kulit dan kuku yang sehat tidak dapat menularkan HIV.
Secara teoritis, risiko penularan dapat terjadi dalam situasi tertentu, seperti jika alat tajam yang terkontaminasi darah digunakan secara bergantian dan menyebabkan luka pada orang berikutnya. Alat seperti gunting kutikula dapat menyebabkan luka kecil, meskipun kadang tidak terlihat. Meskipun demikian, penularan HIV melalui alat manikur dianggap sangat jarang, dan hingga saat ini tidak ada angka pasti yang dapat memperkirakan risiko khusus dari penggunaan alat tersebut.
Kebersihan alat salon kuku tetap penting untuk mencegah berbagai infeksi, meskipun risiko penularan HIV melalui layanan manikur, pedikur, atau nail art sehari-hari sangat rendah. Alat perawatan kuku yang digunakan bersama harus disterilkan atau didisinfeksi sesuai prosedur sebelum digunakan pada pelanggan berikutnya. Alat sekali pakai juga sebaiknya tidak digunakan kembali.
Saat memilih salon kuku, penting untuk memperhatikan apakah alat yang digunakan telah diproses dengan benar, bukan sekadar disimpan dalam wadah. Jika terjadi perdarahan saat perawatan, prosedur harus dihentikan sampai luka ditangani dan alat yang digunakan dibersihkan sesuai standar. Para ahli juga menyarankan agar kutikula tidak dipotong karena berfungsi sebagai pelindung alami terhadap infeksi.
Jika kulit terluka oleh alat yang tampak terkontaminasi darah, segera kunjungi fasilitas kesehatan. Tenaga kesehatan akan menilai jenis paparan dan kemungkinan risikonya, termasuk apakah diperlukan pengobatan pencegahan pascapaparan (PEP). Jika diperlukan, PEP harus diberikan secepat mungkin, idealnya dalam 24 jam dan tidak lebih dari 72 jam setelah terpapar.
Dengan demikian, meskipun penularan HIV melalui alat manikur, pedikur, atau nail art secara teoritis mungkin terjadi, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa itu adalah jalur penularan yang umum. Risiko utamanya berkaitan dengan paparan darah melalui alat yang tidak diproses dengan benar. Oleh karena itu, menjaga kebersihan alat dan menghindari kontak dengan darah tetap menjadi langkah pencegahan yang paling penting.