Fakta Nasional

Presiden Irak Mengecam Serangan Bersama AS dan Arab Saudi yang Menewaskan 20 Orang

Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak pada Rabu lalu mengakibatkan kematian 20 anggota kelompok paramiliter pro-Iran. Presiden Irak, Nizar Amedi, mengutuk tindakan terseb...

N
Naufal Akbar
29 July 2026
5 pembaca
Foto: Bendera Irak (Erik De Castro/ REUTERS)
Foto: Bendera Irak (Erik De Castro/ REUTERS)

Jakarta - Pada Rabu, 29 Juli 2026, serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak menewaskan setidaknya 20 anggota kelompok paramiliter yang sebelumnya tergabung dalam aliansi pro-Iran. Presiden Irak, Nizar Amedi, menyatakan kecamannya terhadap serangan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh Aljazeera, Amedi menyebut serangan yang mematikan itu sebagai tindakan yang "tidak dapat diterima". Ia menegaskan bahwa serangan ini merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, yang menargetkan lembaga keamanan resminya bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa".

Serangan yang Mematikan

Amedi juga menekankan bahwa wilayah Irak seharusnya tidak dijadikan "landasan atau arena untuk serangan terhadap negara-negara tetangga atau untuk menyelesaikan perselisihan regional dan internasional". Ia mengimbau kepada semua pihak untuk menghormati kedaulatan Irak dan menghindari tindakan yang dapat merusak keamanan dan stabilitas negara tersebut.

Serangan gabungan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 anggota dari Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), yang merupakan aliansi dari kelompok paramiliter yang kini telah terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak. Menurut laporan dari kantor berita AFP, PMF menyatakan bahwa serangan tersebut juga mengakibatkan 32 orang lainnya terluka.

Respons terhadap Serangan Drone

Amerika Serikat dan Arab Saudi mengklaim bahwa serangan ini merupakan respons terhadap serangan drone yang diluncurkan dari Irak yang menargetkan pasukan AS dan fasilitas minyak Saudi. PMF dalam pernyataannya menambahkan bahwa "agresi" yang dilakukan oleh AS dan Arab Saudi menargetkan pangkalan-pangkalan PMF di tujuh provinsi, termasuk Baghdad, Nineveh di Irak utara, dan Basra di selatan, yang juga menyebabkan kerusakan material.

Pernyataan dari PMF juga mengecam "eskalasi berbahaya" terhadap "lembaga keamanan resmi". Seorang pejabat PMF yang meminta untuk tidak disebutkan namanya menyampaikan kepada AFP bahwa serangan di Nineveh dan provinsi Diyala adalah yang paling mematikan.

Artikel Terkait