Fakta Pendidikan

Prof CC Chan: Inovator Kendaraan Listrik Asal Magelang yang Mendunia

Prof CC Chan, seorang periset asal Magelang, Indonesia, diakui sebagai "Bapak Electric Vehicle Asia" berkat kontribusinya dalam teknologi kendaraan listrik di China. Kini, ia kembali ke Indonesia untu...

A
Agustinus Jaya Wiratama
28 October 2026
1 pembaca
Prof CC Chan. Foto: IG: Stella Christie
Prof CC Chan. Foto: IG: Stella Christie

Jakarta - Nama-nama seperti BYD dan Wuling mungkin sudah dikenal luas dalam dunia kendaraan listrik. Namun, di balik kemajuan teknologi ini di China, terdapat sosok penting yang berasal dari Magelang, Indonesia, yaitu Prof CC Chan. Dikenalkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, Prof Chan dijuluki sebagai "Bapak Electric Vehicle Asia". Hingga saat ini, kontribusinya telah diakui sebagai jenius yang berperan dalam perkembangan kendaraan listrik di China.

"Semua tahu bahwa Tiongkok nomor satu tentang electric vehicle. Kamu semua tahu BYD, Wuling, dan itu yang sangat diperlukan dunia. Tapi tahukah kamu saya sedang berdiri dengan The Father of Asian Electric Vehicle. Inilah Profesor Chan," ungkap Stella dalam unggahan Instagramnya pada Rabu (28/10/2026).

Peran Prof CC Chan dalam Revolusi Kendaraan Listrik

Prof CC Chan tidak hanya sekadar menyandang gelar tersebut tanpa alasan. Ia merupakan ilmuwan pelopor yang memperkenalkan pemanfaatan motor Alternating Current (AC) untuk kendaraan listrik. Inovasi ini menjadi terobosan fundamental yang meningkatkan efisiensi dan performa kendaraan listrik modern di seluruh dunia. Ide-ide yang diusungnya telah mendorong perkembangan industri manufaktur kendaraan listrik secara massal.

Dedikasi Prof Chan telah membantu China menjadi produsen dan pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. "Inilah Profesor Chan yang menemukan semua tentang electric vehicle dan yang menjadikan Tiongkok nomor satu di electric vehicle di dunia," jelas Stella.

Profil dan Kontribusi Akademis Prof Chan

Prof Ching-Chuen Chan lahir dalam keluarga Tionghoa di Indonesia. Menurut laman The University of Hong Kong, ia menyelesaikan pendidikan teknik elektro dan meraih gelar doktor dari universitas tersebut pada tahun 1982. "Saya lahir di Magelang. Misi saya adalah memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok," kata Prof Chan.

Rekam jejak akademisnya yang cemerlang membawanya mendapatkan pengakuan internasional, termasuk keanggotaan di Akademi Rekayasa Kerajaan Inggris dan menjadi akademisi pertama dari Hong Kong di Akademi Rekayasa Tiongkok. Ia telah mendedikasikan risetnya dalam inovasi motor listrik dan diakui secara global sebagai "Bapak Kendaraan Listrik Asia". Selain menerbitkan ratusan karya ilmiah, ia juga berperan dalam mendirikan Pusat Penelitian Internasional untuk Kendaraan Listrik serta memimpin Asosiasi Kendaraan Listrik Dunia.

Kiprahnya yang mengesankan membuatnya dipercaya sebagai penasihat sains bagi lembaga pemerintah dan perusahaan otomotif ternama seperti Ford dan Honda.

Kembali ke Indonesia untuk Membangun Ekosistem EV

Di usia 90 tahun, Prof Chan kembali ke Indonesia dan diajak berkolaborasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di tanah air. "Ternyata the brain of EV yang memajukan EV di Tiongkok itu lahir di Indonesia. Dan beliau sekarang kembali, saya berhasil membawa beliau untuk hari ini bertemu dengan kita, Kemendiktisaintek. Kita akan bekerja sama, dibantu oleh beliau untuk membuat ekosistem EV di Indonesia sendiri," kata Wamen Stella.

Pandangan Prof Chan tentang Kemajuan Teknologi

Prof Chan membagikan pandangannya mengenai bagaimana sebuah negara dapat maju melalui teknologi dengan tiga prinsip utama. Pertama, sains harus menjawab 'mengapa' (why), di mana sains dianggap sebagai kebenaran dasar. Kedua, teknik atau rekayasa harus menjawab 'bagaimana' (how), yang berfungsi sebagai jembatan antara sains, teknologi, dan manajemen untuk menghasilkan produk nyata. Ketiga, pentingnya ekosistem dan kebijakan (policy) dalam transformasi dari laboratorium ke produk massal, yang melibatkan saintis, insinyur, pengusaha, hingga investor. Menurutnya, regulasi pemerintah adalah puncak dari semua ini. "Sains tanpa kebijakan akan mati," tegasnya.

Prof Chan juga memberikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda Indonesia untuk selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. "Miliki rasa ingin tahu (curiosity), teruslah bertanya, dan buka pikiran kalian untuk inovasi. Pengetahuan itu tidak bisa kamu beli, kamu harus menciptakan pengetahuanmu sendiri. Merdeka!" ujarnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait