Jakarta - Sekolah Rakyat memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, khususnya dari desil 1 dan 2, untuk mendapatkan pendidikan. Calon siswa tidak perlu melalui proses pendaftaran formal, melainkan melalui pendekatan penjangkauan langsung, dan mereka tidak diwajibkan untuk mengikuti tes akademik. Salah satu siswa, Rifaldi, yang kini bersekolah di jenjang SMA, tampil dalam acara peringatan satu tahun Sekolah Rakyat dan Sumpah Pemuda di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (28/10/2026). Sebelumnya, Rifaldi tidak pernah bersekolah dan menghabiskan waktu sehari-harinya sebagai pengamen. Selain itu, ada juga Fikri, seorang siswa berusia 6 tahun, yang sebelumnya memilah sampah botol plastik untuk dijual.
Siswa lainnya, Agista, menjadi viral karena terlihat menggambar menggunakan krayon bekas sambil membantu ayahnya memulung. Karya seni yang dihasilkannya dijual seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 untuk membantu keluarganya. "Itu adalah sepenggal kisah nyata dari kehidupan sunyi anak-anak Sekolah Rakyat. Rifaldi yang berusia 12 tahun belum pernah duduk di bangku sekolah. Hari-harinya dihabiskan untuk mengamen. Hari ini Rifaldi kembali ke bangku sekolah," ungkap Menteri Sosial Gus Ipul dalam acara tersebut yang disiarkan langsung melalui YouTube Kemensos RI.
Mekanisme Penerimaan Siswa
Gus Ipul menjelaskan bahwa untuk memastikan anak-anak usia sekolah yang bekerja dapat mengakses pendidikan di Sekolah Rakyat, tidak ada pendaftaran yang diperlukan. Pendamping mendatangi secara langsung anak-anak yang menjadi calon siswa. "Berangkat dari data, pendamping mendatangi langsung hampir setengah juta anak di 497 kabupaten dan kota," katanya. Para calon siswa juga tidak diwajibkan mengikuti tes akademik, mengingat latar belakang pengalaman hidup dan kemampuan belajar mereka yang beragam.
Selama proses pendaftaran, anak-anak menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemetaan bakat melalui Talent DNA. Sebelum memulai pembelajaran reguler, mereka menjalani matrikulasi selama tiga bulan, terutama bagi yang sudah lama tidak bersekolah atau belum siap mengikuti kelas. Berdasarkan pemetaan bakat, Gus Ipul menyatakan bahwa 4 dari 10 anak menunjukkan bakat di bidang sains dan teknologi, dengan potensi untuk menjadi insinyur, ahli teknologi, guru, penegak hukum, dokter, dan tenaga kesehatan.
Pendampingan dan Rehabilitasi
Anak-anak yang memerlukan pemulihan juga mendapatkan pendampingan dan layanan rehabilitasi. Hasil asesmen psikologis menunjukkan adanya luka psikologis akibat kemiskinan dan kehilangan orang tua. Sekitar satu dari tiga anak memerlukan bantuan untuk masalah emosional, dan satu dari enam anak telah kehilangan ayah, ibu, atau keduanya, dengan sebagian dari mereka telah bekerja sejak kecil. Meskipun demikian, delapan dari sepuluh siswa masih memiliki rasa peduli dan suka menolong.
Menanggapi temuan tersebut, Gus Ipul menyatakan bahwa Sekolah Rakyat mengadopsi pendekatan edukasi dan rehabilitasi untuk mendidik dan memulihkan anak-anak. Dengan pengasuhan dan pengajaran, perubahan yang diharapkan mencakup perbaikan fisik melalui penjagaan gizi dan kesehatan, pemulihan mental untuk mengatasi luka psikologis, serta penguatan kemampuan akademik. Proses ini didukung oleh hampir lima ribu guru, tujuh ribu wali asuh, dan lebih dari dua ribu wali asrama yang berperan sebagai orang tua kedua bagi para siswa.
Kementerian Sosial dalam peringatan satu tahun Sekolah Rakyat juga menjelaskan keseharian siswa, yang dimulai dari bangun tidur, beribadah, berolahraga, membersihkan diri dan kamar, hingga sarapan bersama. Setelah itu, mereka mengikuti pembelajaran akademik, pendidikan olahraga, pembinaan keagamaan, makan bersama, belajar mandiri, dan pendampingan belajar. Malam hari diisi dengan penguatan karakter, refleksi, dan istirahat.
Kegiatan ekstrakurikuler juga diadakan untuk mengasah potensi siswa, termasuk latihan public speaking, berbagi cerita dengan wali asuh, kajian keagamaan, refleksi mingguan, serta pelatihan vokasional dan keterampilan hidup. Minat dan bakat siswa dikembangkan melalui paduan suara, tari, melukis, olahraga, dan klub bahasa asing. Dalam kegiatan kepramukaan, siswa juga dilatih dalam disiplin, kemandirian, kepemimpinan, dan kerja sama.
Melalui pengembangan minat dan bakat, siswa memiliki kesempatan untuk mengikuti kompetisi, baik yang bersifat kompetitif maupun non-kompetitif hingga tingkat internasional. Berdasarkan data dari Kementerian Sosial, siswa Sekolah Rakyat telah menjadi finalis dalam kompetisi geografi tingkat Asia Tenggara dan meraih juara kedua dalam kejuaraan karate internasional. Di tingkat nasional, mereka berhasil meraih 35 prestasi, termasuk juara pertama dalam kompetisi matematika nasional, medali emas dalam olimpiade sains dan biologi, finalis kompetisi penelitian nasional, serta juara dalam kompetisi pembuatan game android. Di bidang olahraga, mereka juga meraih ratusan medali, termasuk dalam cabang silat, karate, dan atletik.
Lulusan Sekolah Rakyat memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja. Menurut catatan Kementerian Sosial, pada tahun 2026, sebanyak 7 siswa Sekolah Rakyat akan melanjutkan kuliah dengan beasiswa penuh, sementara 5 lainnya akan bekerja sesuai dengan minat dan bakat mereka.