Jakarta - Anak-anak yang telah lama tidak bersekolah diundang untuk kembali belajar di Sekolah Rakyat, namun mereka harus menjalani proses matrikulasi terlebih dahulu. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, dalam acara Peringatan Satu Tahun Sekolah Rakyat dan Sumpah Pemuda yang berlangsung di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (28/10/2026), yang juga disiarkan secara langsung di Youtube Kemensos RI.
Proses matrikulasi ini dirancang untuk berlangsung selama tiga bulan, bertujuan untuk menyetarakan kemampuan siswa sebelum mereka memasuki pembelajaran. Saifullah Yusuf menjelaskan, "Langkah pertama bukan langsung belajar, kami periksa dulu kesehatannya. Kami petakan bakatnya, lalu kami siapkan selama tiga bulan melalui matrikulasi. Agar mereka yang lama tidak bersekolah dapat mengejar ketertinggalannya."
Pemetaan Minat dan Bakat Siswa
Matrikulasi ini penting karena setiap peserta didik memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, baik mereka yang putus sekolah maupun yang belum pernah bersekolah. Saat melakukan pemetaan minat dan bakat, Menteri Sosial menemukan bahwa empat dari sepuluh siswa Sekolah Rakyat memiliki bakat di bidang sains dan teknologi. "Bakat mereka mengarah pada profesi insinyur dan ahli teknologi, guru dan penegak hukum, dokter dan tenaga kesehatan," ujarnya.
Namun, dalam tes psikologi yang dilakukan, ditemukan juga adanya luka sosial pada beberapa siswa, yang disebabkan oleh berbagai permasalahan emosional dan ekonomi yang mereka hadapi. Meski demikian, Saifullah Yusuf menambahkan, "Namun di tengah luka itu, delapan dari sepuluh anak tetap tumbuh dengan hati yang peduli dan suka menolong."
Komitmen Sekolah Rakyat dalam Edukasi dan Rehabilitasi
Oleh karena itu, Menteri Sosial menekankan bahwa Sekolah Rakyat berkomitmen untuk melaksanakan dua pendekatan sekaligus, yaitu edukasi dan rehabilitasi. "Mendidik sekaligus memulihkan," tegasnya, menyoroti pentingnya program ini dalam membantu anak-anak yang membutuhkan. Acara tersebut juga menampilkan video drama siswa Sekolah Rakyat yang menggambarkan perjalanan mereka dari berjuang di jalanan hingga berani bermimpi.