Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, 9 September 2026, menunjukkan penguatan sebesar 55 poin atau 0,31 persen, menjadi Rp 17.577 per dolar AS. Ini merupakan peningkatan dibandingkan penutupan sebelumnya yang tercatat di Rp 17.632 per dolar AS.
Pengaruh Sentimen Domestik
Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh sentimen domestik yang masih kuat, terutama setelah pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia. “Rupiah dibuka menguat cukup tajam terhadap dolar AS. Penguatan ini lebih disebabkan oleh sentimen domestik yang masih kuat, terutama sejak pelantikan Destry rupiah terus menguat,” ujarnya di Jakarta.
Indeks Dolar dan Harga Minyak
Di sisi lain, indeks dolar AS juga mengalami tekanan, yang sebagian besar disebabkan oleh penguatan yen Jepang yang mencapai 153,5 per dolar AS, terkuat dalam tujuh bulan terakhir. Selain itu, harga minyak dunia (WTI) juga berada pada level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Lukman menambahkan, “Yen menguat oleh intervensi besar BoJ (Bank of Japan), dan kemudian ancaman Menkeu (Menteri Keuangan) AS agar trader tidak melawan penguatan yen. Sedangkan minyak terus naik oleh eskalasi di Timteng (Timur Tengah) yang dimana perkembangan terakhir AS mengklaim telah menghancurkan lima kapal tanker Iran.”
Sementara itu, para investor juga menantikan hasil survei kepercayaan konsumen Indonesia untuk bulan Agustus 2026 yang akan diumumkan siang ini. “Kepercayaan konsumen diperkirakan akan sedikit lebih tinggi dari 116,8 ke 117,” tambahnya. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, diperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.550 hingga Rp 17.700 per dolar AS.