Fakta Ekonomi

Rupiah Tertekan, Ditutup di Rp 17.948 per Dolar AS di Tengah Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar AS, seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan lebih rendah pada kuartal II 2026.

U
Ulam Kirana
20 July 2026
47 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan, seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan lebih rendah pada kuartal II 2026. Posisi rupiah mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026), rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen, menjadi Rp 17.948 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.921 per dolar AS.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi yang Menurun

"Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy)," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya.

Meskipun realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), kontribusi tersebut dinilai belum mampu mengimbangi perlambatan di sisi permintaan domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan investasi, tantangan dari sisi permintaan dalam negeri tetap signifikan.

Kualitas Pertumbuhan Investasi yang Berubah

Realisasi investasi yang mencapai Rp 511,8 triliun pada kuartal II 2026 menunjukkan pertumbuhan 7,1 persen (yoy) dan menjadi sinyal positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, kualitas pertumbuhan investasi mulai menunjukkan perbedaan yang mencolok. Pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5 persen (yoy), sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami penurunan 7,8 persen (yoy), yang merupakan kontraksi pertama sejak kuartal I 2021.

Kondisi ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih cenderung menahan ekspansi karena lemahnya permintaan domestik, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.

Oleh karena itu, Ibrahim menekankan pentingnya pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, serta kepastian regulasi juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.

Artikel Terkait