Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 41 persen anak sekolah yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis mengalami karies atau gigi berlubang. Meskipun skrining dapat membantu mendeteksi masalah lebih awal, penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan di sekolah saja tidak menjamin anak akan mengunjungi dokter gigi atau mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Setelah karies terdeteksi, tindakan lanjutan sangat penting, mulai dari pencegahan hingga perawatan oleh dokter gigi. Anak-anak yang mengalami karies sering kali tidak merasakan sakit, sehingga masalah ini dapat terabaikan hingga terdeteksi saat pemeriksaan gigi. Data dari Cek Kesehatan Gratis menunjukkan bahwa karies merupakan masalah yang paling umum ditemukan di antara anak-anak yang diperiksa.
“Berita baiknya, pemeriksaan gigi adalah salah satu prioritas pemerintah dalam program Cek Kesehatan Gratis. Namun, kabar kurang baiknya, dari hasil pemeriksaan CKG anak sekolah, masalah karies justru menjadi yang paling banyak ditemukan,” ungkap Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono dalam acara Kick-off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026.
Pentingnya Tindak Lanjut Setelah Skrining
Menemukan karies lebih awal sangatlah penting, tetapi pemeriksaan gigi hanyalah langkah awal. Setelah itu, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa anak-anak yang membutuhkan perawatan mendapatkan tindak lanjut yang tepat. Skrining gigi di sekolah bertujuan untuk mengidentifikasi anak-anak yang memiliki risiko mengalami masalah gigi sebelum kondisi mereka menjadi lebih serius.
Prof. Dante menekankan pentingnya tidak menunggu hingga anak mengeluh sakit untuk melakukan intervensi kesehatan gigi. “Intervensi kesehatan gigi yang paling tepat adalah melalui promotif dan preventif, bukan menunggu sakit kemudian mengobatinya,” tegasnya.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Tari Tritarayati. “Kami ingin memperkuat upaya promotif dan preventif agar kepedulian terhadap kesehatan gigi tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dilanjutkan dengan perawatan dan kebiasaan menjaga kesehatan gigi,” ujarnya.
Analisis dan Temuan Penelitian
Cochrane Review yang diperbarui pada tahun 2022 menganalisis delapan uji klinis yang melibatkan 21.290 anak berusia 4 hingga 15 tahun untuk menilai efektivitas program skrining gigi di sekolah. Peneliti menyimpulkan bahwa bukti yang ada masih belum cukup untuk memastikan bahwa skrining gigi di sekolah secara tradisional meningkatkan kunjungan anak ke dokter gigi. Tidak ada penelitian dalam tinjauan tersebut yang memiliki tindak lanjut jangka panjang untuk memastikan apakah skrining benar-benar memperbaiki kesehatan mulut anak.
Beberapa strategi setelah skrining tampak lebih menjanjikan, seperti surat rujukan yang lebih spesifik untuk kondisi anak serta skrining yang disertai edukasi dan tawaran perawatan yang dapat meningkatkan kemungkinan kunjungan ke dokter gigi. Namun, kepastian bukti untuk temuan tersebut masih rendah.
Temuan dari studi besar lainnya yang melibatkan lebih dari 16 ribu anak sekolah juga tidak menunjukkan penurunan karies aktif atau peningkatan signifikan dalam kunjungan ke dokter gigi hanya dengan menerapkan beberapa model skrining sekolah. Hasil ini menunjukkan bahwa skrining perlu dihubungkan dengan langkah-langkah selanjutnya, seperti komunikasi kepada orang tua, akses ke dokter gigi, dan perawatan yang diperlukan.
Tingkat keparahan karies dapat bervariasi, dan penanganan harus disesuaikan dengan risiko serta kondisi masing-masing anak. Pendekatan ini bisa meliputi evaluasi berkala, penggunaan fluoride, konseling pola makan, dental sealant, hingga perawatan restoratif jika terdapat lesi berlubang atau karies yang terus berkembang.
Oleh karena itu, hasil CKG yang menunjukkan adanya karies bukanlah diagnosis akhir mengenai seberapa parah kerusakannya atau tindakan apa yang harus diambil. Pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan gigi diperlukan untuk menentukan kebutuhan setiap anak.
Salah satu tantangan dari karies adalah penyakit ini dapat berkembang tanpa disadari anak. Jika tidak ditangani, kerusakan yang semakin parah dapat menyebabkan sakit gigi, infeksi, hingga abses. Karies yang parah dapat mengganggu kemampuan anak untuk makan dan tidur, serta membatasi aktivitas sehari-hari mereka.
Dampak dari karies juga dapat menjalar ke kehidupan sekolah, mempengaruhi kehadiran dan performa anak. Prof. Dante merekomendasikan agar pemeriksaan gigi dilakukan secara rutin setiap enam bulan dan membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi setiap hari, termasuk menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
Sekolah dapat berfungsi sebagai tempat untuk mendeteksi masalah kesehatan gigi lebih awal. Namun, ketika pemeriksaan menunjukkan adanya karies, tanggung jawab selanjutnya berada di tangan orang tua, layanan kesehatan, sekolah, dan sistem rujukan untuk memastikan bahwa temuan tersebut tidak hanya menjadi angka dalam hasil skrining.