Jakarta - Kabar duka datang dari dunia pendidikan dengan meninggalnya Mandala Rizky Saputra, seorang murid SMK Negeri 4 Samarinda. Mandala meninggal dunia diduga akibat mengenakan sepatu sekolah yang terlalu kecil. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur telah melakukan koordinasi untuk mendalami informasi terkait kejadian ini.
Disdikbud Kaltim menjelaskan bahwa Mandala mengalami penurunan kesehatan yang ditandai dengan pusing dan pembengkakan pada kaki. "Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan," ungkap Disdikbud Kaltim yang disampaikan melalui humas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa Mandala mengikuti kegiatan praktek kerja dari 9 Februari hingga 20 Maret 2026 di Ramayana Robinson Jalan M Yamin Samarinda, yang sesuai dengan jurusan pemasaran yang diambilnya. Pada 30 Maret 2026, Mandala kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Namun, keesokan harinya, sekolah menyarankan Mandala untuk beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya yang menurun.
Setelah itu, Mandala tidak masuk sekolah karena sakit, dan orang tuanya sudah mengirimkan izin. Pada 8 April 2026, keluarga Mandala meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui wali kelas. Ibu Mandala datang ke sekolah pada 10 April 2026 untuk berkoordinasi dan menjelaskan kondisi putranya yang menurun akibat gangguan nonmedis. "Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp 1,1 juta," kata Disdikbud Kaltim.
Sepuluh hari kemudian, pada 21 April 2026, pihak sekolah mengunjungi rumah Mandala dan menemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, meskipun tidak ada luka. Guru SMKN 4 Samarinda menyarankan agar Mandala mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan, namun keluarga enggan melakukannya karena masalah ekonomi dan tunggakan biaya.
Sekolah kemudian membantu mengurus BPJS Mandala. Dua hari setelahnya, sekolah kembali memantau kondisi Mandala dan mendapatkan laporan bahwa kondisi kakinya sempat membaik. "Sekolah memutuskan besuk untuk membelikan sepatu sesuai ukuran," jelas Disdikbud Kaltim.
Namun, kabar duka datang pada 24 April 2026, ketika Mandala dilaporkan meninggal dunia. Pihak sekolah mendampingi proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah. Disdikbud menilai pihak sekolah telah melakukan pendampingan yang maksimal, tetapi tidak adanya diagnosa medis dari layanan kesehatan membuat mereka tidak dapat menyimpulkan bahwa penyebab kematian Mandala bukan karena sepatu.
Keterbatasan ekonomi memaksa Mandala untuk tetap mengenakan sepatu ukuran 40, padahal ukuran sepatunya seharusnya 43 atau bahkan 44. Praktik kerja yang dijalani Mandala juga menuntut stamina fisik yang tinggi, karena ia harus berdiri sepanjang hari sebagai pramuniaga. Keluarga Mandala tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.