Fakta Kesehatan

Strategi Optimal untuk Memelihara Kesehatan Tulang Anak dari Usia Dini hingga Remaja

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan massa tulang. Pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai sangat berpengaruh terhadap kesehatan tulang anak.

F
Fidzu Ardaf
19 October 2026
17 pembaca
ilustrasi seorang ibu bermain bersama anak balita (pexels.com/Shotpot)
ilustrasi seorang ibu bermain bersama anak balita (pexels.com/Shotpot)

Masa anak-anak dan remaja adalah waktu yang sangat penting untuk membangun massa tulang. Asupan makanan yang bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai dengan usia mendukung pertumbuhan tulang yang optimal. Suplemen tidak dapat dijadikan solusi instan untuk meningkatkan tinggi badan; penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Pertumbuhan tulang anak berlangsung terus menerus seiring dengan bertambahnya usia. Pada masa ini, pembentukan tulang terjadi lebih cepat dibandingkan dengan proses penguraiannya. Oleh karena itu, kebiasaan makan dan bergerak sehari-hari sangat berperan dalam mendukung kesehatan tulang mereka hingga dewasa.

Langkah-Langkah Menjaga Kesehatan Tulang Sejak Dini

Bagi orang tua dan pengasuh, berikut adalah beberapa cara untuk menjaga kesehatan tulang anak dari bayi hingga remaja. Pada tahap bayi, penting untuk memberikan asupan nutrisi yang tepat dan kesempatan untuk bergerak. Untuk balita dan anak sekolah, variasikan makanan yang mereka konsumsi. Sedangkan pada masa remaja, penting untuk membiasakan aktivitas fisik yang dapat menguatkan tulang.

ASI atau susu formula menjadi sumber nutrisi utama bagi bayi. Ketika bayi mencapai usia sekitar 6 bulan, makanan pendamping ASI mulai diperkenalkan, sambil tetap memenuhi kebutuhan susu sesuai dengan tahap pertumbuhannya. Makanan pendamping ASI yang bervariasi sangat membantu dalam melengkapi nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. Aktivitas fisik juga sangat penting sejak dini. Para ahli merekomendasikan agar bayi aktif melakukan berbagai permainan di lantai beberapa kali sehari. Untuk bayi yang belum bisa bergerak sendiri, tummy time dapat dilakukan minimal 30 menit setiap hari, dibagi dalam beberapa sesi saat bayi terjaga dan dalam pengawasan.

Pentingnya Kalsium dan Vitamin D dalam Pertumbuhan Tulang

Kalsium berperan penting dalam membangun tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh dalam menyerap kalsium. Keduanya dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan, seperti susu dan produk olahannya, ikan, sayuran hijau, serta makanan yang diperkaya. Sumber protein dari telur, ikan, daging, atau kacang-kacangan juga harus menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Kebutuhan kalsium anak akan meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagai acuan, kebutuhan kalsium dapat bervariasi tergantung pada kondisi masing-masing anak, sehingga suplemen sebaiknya tidak diberikan sembarangan.

Untuk anak dan bayi yang memiliki alergi makanan, pola makan yang terbatas, atau kondisi kesehatan tertentu, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai pemenuhan kebutuhan vitamin D dan kalsium. Aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, menari, melompat, atau bermain sepak bola dan basket dapat membantu anak bergerak sambil menopang berat badan mereka sendiri. Anak-anak dan remaja berusia 5 hingga 17 tahun dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat, dengan durasi rata-rata minimal 60 menit setiap hari. Aktivitas yang memperkuat otot dan tulang sebaiknya dilakukan setidaknya tiga kali dalam seminggu.

Sebuah metaanalisis yang melibatkan 15 uji klinis dengan 723 remaja menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan massa dan kepadatan mineral tulang. Namun, suplemen tidak secara otomatis membuat anak tumbuh lebih tinggi. Metaanalisis yang dipublikasikan pada tahun 2026, yang mencakup 16 uji klinis dengan sekitar 2.100 anak dan remaja sehat, tidak menemukan peningkatan tinggi badan yang signifikan dari suplemen kalsium dan/atau vitamin D. Meskipun ada perubahan kecil pada kepadatan tulang di beberapa bagian tubuh, arti klinis dari perubahan tersebut masih belum jelas. Suplemen mungkin diperlukan untuk kondisi tertentu, tetapi sebaiknya penggunaannya dilakukan atas saran dokter.

Artikel Terkait