Monday, 11 May 2026
Fakta Pendidikan

Tablet Kuno Mengungkap Sejarah Raja dan Mantra dari 4.000 Tahun Silam

Tablet kuno yang berasal dari Irak dan Suriah ini menyimpan informasi berharga mengenai daftar raja, mantra, dan dokumen birokrasi dari zaman kuno. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Universitas K...

D
Dila Rakasiwi
11 May 2026 3 pembaca
Tablet Kuno Mengungkap Sejarah Raja dan Mantra dari 4.000 Tahun Silam
detik.com Sumber: detik.com

Tablet yang berasal dari 4.000 tahun lalu, terbuat dari tanah liat, menyimpan berbagai informasi mulai dari daftar raja yang berpengaruh, mantra-mantra, hingga kuitansi transaksi. Penelitian ini dilakukan oleh tim Proyek Harta Karun Tersembunyi yang terdiri dari perwakilan Departemen Studi Lintas Budaya dan Regional di Universitas Kopenhagen serta Museum Nasional Denmark.

Dalam proyek ini, para peneliti berfokus pada analisis, publikasi, dan digitalisasi koleksi tablet dengan aksara paku (cuneiform) yang ada di Museum Nasional Denmark, dengan harapan agar koleksi tersebut dapat diakses oleh peneliti dan masyarakat umum.

Tablet dari Irak dan Suriah

Beberapa koleksi tablet tersebut berasal dari budaya kuno di Irak dan Suriah. Di atas potongan-potongan kecil tanah liat, teks-teks yang menarik tentang mantra sihir, raja, dan dokumen birokrasi kuno, termasuk kuitansi, terukir dengan jelas. Tablet yang ditulis dengan aksara paku ini menggunakan bahasa kuno yang kini telah punah, seperti bahasa Akkadia dan Sumeria. Proses penulisan dilakukan dengan menggunakan stylus yang terbuat dari alang-alang.

Sebagian tablet tersebut berasal dari Kota Hama, Suriah, yang telah diteliti oleh para peneliti Denmark sejak tahun 1930-an. Kota Hama mengalami kehancuran dan penjarahan oleh prajurit Asyur pada tahun 720 SM, yang membawa banyak barang rampasan ke ibu kota mereka, Assur, yang kini terletak di Irak. Beberapa tablet tanah liat tertinggal dan kini disimpan di Museum Nasional Denmark.

Dokumen Birokrasi dan Kuitansi

Associate Professor Assyriology di Universitas Kopenhagen, Troels Pank Arbøll, menyatakan bahwa beberapa tablet tersebut berfungsi sebagai catatan birokrasi dari Kerajaan Asyria. Asyria adalah kerajaan kuno yang terletak di wilayah subur dekat Sungai Tigris, yang saat ini termasuk dalam wilayah Irak utara. Nama Asyria diambil dari nama Kota Assur, yang terletak sekitar 100 km di selatan Kota Mosul.

Kerajaan ini merupakan salah satu peradaban tertua di dunia, yang berdiri sejak sekitar tahun 2000 hingga 612 SM. Salah satu teks yang ditemukan di situs Tell Shemshara, Irak, mencatat korespondensi antara seorang kepala suku dan seorang raja Asyur dari sekitar tahun 1800 SM. Tablet aksara paku tersebut juga mencatatkan daftar barang, personel, serta kuitansi. Arbøll menyimpulkan bahwa temuan proyek ini menunjukkan adanya bukti birokrasi yang maju di masa lalu.

"Sebagian besar tablet aksara paku yang kita miliki saat ini menjadi bukti birokrasi yang sangat maju. Ada kebutuhan untuk melacak masyarakat maju yang sedang dibangun, dan kita telah menemukan sejumlah besar tablet aksara paku yang berisi informasi praktis, seperti catatan dan daftar barang serta personel," terang Arbøll. "Oleh karena itu, tidak mengherankan jika salah satu tablet dalam koleksi Museum Nasional berisi sesuatu yang umum seperti kwitansi bir kuno," tuturnya.

Daftar Raja Legendaris dan Pengobatan

Pada tablet kuno lainnya, peneliti menemukan daftar raja terkenal dan legendaris. Tablet ini dianggap sebagai dokumen politik penting karena mencantumkan nama-nama raja yang diperkirakan memerintah sebelum zaman Nabi Nuh di Mesopotamia, serta peristiwa air bah yang terkenal. Beberapa nama raja yang dianggap mitos kemungkinan benar-benar pernah ada dan memerintah di wilayah tersebut, termasuk Raja Gilgamesh yang terkenal dalam Epos Gilgamesh.

Tablet lainnya, yang berusia sekitar 3.000 tahun, membahas pengobatan dan mantra magis yang diyakini dapat melindungi raja dari musibah, seperti ketidakstabilan politik. Dalam catatan tersebut, dijelaskan cara untuk melakukan ritual dengan membakar patung kecil dari lilin dan tanah liat, serta memanggil pengusir setan untuk membacakan mantra tertentu. Ritual ini dianggap sangat penting di Asyria dan berlangsung semalaman.

Temuan ini dianggap unik karena Kota Hama terletak di pinggiran, jauh dari ibu kota Kekaisaran Asyria dan kekayaan budaya sastra Babilonia. Proyek Hidden Treasures: The National Museum's Cuneiform Collection ini dipimpin oleh Nicole Brisch dari Universitas Hamburg dan Anne Haslund Hansen dari Museum Nasional Denmark, dengan dukungan dari Yayasan Carlsberg, Yayasan Augustinus, dan Yayasan Edubba.

// Artikel Terkait