Kesuburan pria sangat dipengaruhi oleh kualitas sperma, kesehatan reproduksi, kadar hormon, serta kondisi pasangan. Untuk mengurangi risiko yang dapat memengaruhi kesuburan, beberapa langkah penting perlu diambil, seperti berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi alkohol, dan menghindari penggunaan testosteron tanpa indikasi medis. Jika kehamilan tidak terjadi dalam waktu yang disarankan, penting bagi kedua pasangan untuk melakukan pemeriksaan.
Kesuburan pria tidak hanya ditentukan oleh jumlah sperma, tetapi juga oleh kemampuan sperma untuk bergerak, bentuknya, keseimbangan hormon, dan kesehatan saluran reproduksi. Oleh karena itu, menjaga kesuburan sebaiknya dimulai sejak usia muda, bahkan sebelum menikah. Panduan dari American Urological Association (AUA) dan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menunjukkan bahwa gaya hidup, penggunaan obat-obatan, paparan lingkungan, dan kebiasaan tertentu harus dipertimbangkan dalam evaluasi kesuburan pria.
Langkah-Langkah untuk Menjaga Kesuburan
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk menjaga kesuburan pria:
- Menjaga berat badan yang sehat dan aktif bergerak.
- Berhenti merokok.
- Hindari penggunaan testosteron atau steroid anabolik tanpa pengawasan medis.
- Batasi konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah yang berlebihan.
- Utamakan pola makan yang seimbang.
- Cegah dan tangani infeksi pada saluran reproduksi.
- Kurangi paparan panas dan bahan kimia berisiko.
Kapan Harus Memeriksakan Kesuburan?
Berat badan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas sperma dan kadar hormon. Penurunan berat badan pada pria yang mengalami obesitas dapat membantu memperbaiki beberapa parameter sperma. Aktivitas fisik secara rutin dengan intensitas yang tepat juga berperan penting dalam menjaga kesehatan reproduksi dan kesehatan secara keseluruhan.
Kebiasaan merokok diketahui mengandung zat berbahaya yang dapat mempengaruhi sistem reproduksi, berhubungan dengan penurunan jumlah sperma dan peningkatan kelainan bentuk sperma. Meskipun berhenti merokok tidak selalu langsung meningkatkan kesuburan, langkah ini menghilangkan salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Jika sulit berhenti, mencari bantuan dari dokter atau layanan konseling dapat membantu.
Penggunaan testosteron dari luar dan steroid anabolik dapat menekan hormon yang diperlukan untuk produksi sperma, sehingga jumlah sperma dapat menurun drastis. Terapi testosteron tidak dianjurkan bagi pria yang ingin memiliki anak. Jika seseorang sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menghentikannya.
Konsumsi alkohol juga memiliki hubungan yang kompleks dengan kesuburan. Meskipun konsumsi moderat tidak selalu merusak semua parameter sperma, konsumsi berat dapat menyebabkan gangguan kesuburan dan penurunan kadar testosteron. Oleh karena itu, membatasi alkohol saat merencanakan kehamilan adalah langkah yang lebih aman.
Pola makan yang kaya akan sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, dan lemak tak jenuh dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Diet Mediterania juga telah dikaitkan dengan kualitas air mani yang lebih baik. Namun, suplemen antioksidan dan vitamin tidak boleh dianggap sebagai solusi instan, dan penggunaannya sebaiknya dibicarakan dengan dokter.
Infeksi menular seksual (IMS) dan infeksi pada saluran reproduksi dapat mengganggu kesehatan reproduksi. Penggunaan kondom, pemeriksaan rutin, dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi. Jika terdiagnosis IMS, pasangan juga perlu mendapatkan evaluasi dan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Paparan panas yang berkepanjangan pada area testis serta bahan kimia di tempat kerja perlu dibahas dengan dokter, terutama jika pekerjaan melibatkan zat-zat berbahaya. Menggunakan alat pelindung diri dan mengikuti prosedur keselamatan kerja adalah langkah yang perlu diambil.
Evaluasi kesuburan sebaiknya dilakukan setelah 12 bulan berhubungan seksual tanpa kontrasepsi jika pasangan perempuan berusia di bawah 35 tahun, dan setelah 6 bulan jika berusia 35 tahun atau lebih. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada kedua pasangan secara bersamaan. Pria juga disarankan untuk tidak menunda pemeriksaan jika mengalami masalah ereksi atau ejakulasi, riwayat cedera testis, IMS, atau pernah menggunakan steroid anabolik.
Analisis air mani biasanya menjadi pemeriksaan awal untuk menentukan langkah selanjutnya dalam penanganan kesuburan.