Generasi milenial dikenal sebagai penggerak tren kesehatan, mengutamakan berbagai aspek kesehatan baik fisik maupun mental. Berdasarkan data dari Statista AS tahun 2021, milenial menduduki posisi terdepan dibandingkan Gen Z, Gen X, dan baby boomer dalam aktivitas olahraga. Selain itu, mereka juga berperan dalam menormalisasi praktik kesehatan seperti terapi dan konseling di semua generasi.
Salah satu alasan mengapa milenial sangat memperhatikan kesehatan adalah keinginan untuk menghindari kelelahan atau burnout. Sebuah survei yang dilakukan oleh Seramount pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 77 persen milenial mengalami gejala kelelahan, menjadikan mereka generasi yang paling rentan terhadap stres. Selain itu, kesadaran akan kesehatan dan kekhawatiran terhadap penyakit kronis yang menyerang generasi muda juga menjadi faktor pendorong.
Perubahan Gaya Hidup Menuju Kesehatan yang Lebih Baik
Generasi milenial menunjukkan kontrol yang lebih besar dan keinginan untuk mengadopsi gaya hidup sehat saat mendekati usia paruh baya. Survei yang dilakukan oleh McKinsey & Company pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa hampir 30 persen milenial dan Gen Z mengakui bahwa mereka lebih fokus pada kesehatan dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa kebiasaan ini mencerminkan upaya milenial untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Salah satu tren yang berkembang adalah konsumsi makanan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan. Makanan ini, seperti beri dan jamu yang populer di Indonesia, membantu mengurangi peradangan. Hal ini menunjukkan bahwa milenial tidak lagi bergantung pada suplemen tambahan. Survei yang dilakukan oleh SPINS di akhir tahun 2025 menemukan bahwa milenial lebih memilih diet yang dipersonalisasi dan tidak terlalu ketat, dengan makanan fungsional yang lebih mudah diakses.
Dukungan Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Laporan dari Businessolver yang berjudul 2025 Benefits Insights Report menunjukkan bahwa generasi milenial menginginkan fasilitas kerja yang mendukung kesehatan mental, seperti terapi online dan kebijakan cuti berbayar untuk kesehatan mental. Dalam survei Forbes tahun 2024, 68 persen milenial mengharapkan dukungan kesehatan mental dari tempat kerja mereka. Hal ini mencerminkan keinginan milenial untuk dipandang sebagai individu utuh di lingkungan kerja, bukan hanya sebagai pekerja yang menghasilkan gaji.
Dengan pengalaman hidup di era digital, milenial cenderung memanfaatkan aplikasi kesehatan. Laporan dari PYMNTS yang didukung oleh CareCredit menyatakan bahwa 66,1 persen milenial beralih ke teknologi kesehatan, termasuk perangkat pemantau kesehatan. Mereka aktif memantau asupan kalori, kualitas tidur, dan lainnya melalui aplikasi, banyak di antaranya mulai dilakukan sejak masa kuliah.
Perilaku ini menarik perhatian generasi lain yang kemudian meniru kebiasaan milenial. Studi dari Reach3 Insights pada tahun 2026 menunjukkan bahwa 88 persen responden ingin meningkatkan penggunaan teknologi kesehatan mereka. Selain itu, banyak dokter juga mendukung penggunaan aplikasi kesehatan, asalkan tetap diimbangi dengan kunjungan ke penyedia layanan kesehatan.
Meskipun sering menerima saran kesehatan dari generasi baby boomer, milenial biasanya akan memverifikasi informasi tersebut melalui internet. Hal ini mendorong mereka untuk mencari penelitian berbasis bukti, terutama terkait kesehatan, dan menghindari produk atau praktik yang tidak terbukti efektif. Milenial lebih memilih kebenaran yang dapat diukur secara kuantitatif.
Ketertarikan generasi milenial terhadap pengobatan alternatif dan komplementer juga meningkat, baik dari segi finansial maupun praktis. Dalam jajak pendapat tahun 2016 yang dilakukan oleh Sermo, 45 persen pasien milenial menunjukkan keraguan terhadap rekomendasi pengobatan konvensional. Dokter juga mencatat bahwa banyak milenial yang bertanya tentang opsi pengobatan alternatif yang lebih terjangkau.
Dr. Brad Finer, seorang dokter klinis akademis, menjelaskan bahwa generasi muda lebih memilih berinvestasi dalam pencegahan penyakit daripada menunggu sakit untuk mencari pengobatan. Ini menunjukkan bahwa milenial lebih cenderung mencari solusi holistik dan alternatif yang telah mereka teliti, seperti perawatan kiropraktik. Kebiasaan ini dipandang positif, mengingat tinjauan literatur oleh Eman M. Mortada yang mengakui keberhasilan pengobatan komplementer dan alternatif.
Tren kesehatan di kalangan anak muda, baik milenial maupun Gen Z, semakin meningkat. Kesadaran akan gaya hidup sehat kini menjadi kebutuhan dan hak setiap individu. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri?