Fakta Kesehatan

Uji Anestesi Intrauterin untuk Mengurangi Nyeri Pemasangan IUD

Sebuah penelitian melibatkan 370 peserta menunjukkan bahwa mepivakain dapat mengurangi rasa nyeri saat pemasangan IUD dibandingkan dengan larutan saline. Metode ini memberikan obat bius melalui katete...

F
Fidzu Ardaf
22 September 2026
36 pembaca
ilustrasi kontrasepsi IUD (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)
ilustrasi kontrasepsi IUD (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)

Penelitian yang melibatkan 370 peserta menunjukkan bahwa penggunaan mepivakain dapat mengurangi tingkat nyeri saat pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) dibandingkan dengan larutan saline. Obat ini diberikan melalui kateter yang sangat tipis ke dalam rahim sekitar dua menit sebelum pemasangan, tanpa memerlukan suntikan ke jaringan di sekitar leher rahim.

Metodologi Penelitian

Studi ini merupakan uji klinis acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dilaksanakan di 11 klinik di Swedia antara tahun 2021 hingga 2024. Peserta terdiri dari 370 individu berusia 18 hingga 31 tahun yang belum pernah melahirkan dan akan menjalani pemasangan IUD dengan tabung berdiameter kecil. Dari jumlah tersebut, 185 peserta menerima 10 mililiter mepivakain dengan konsentrasi 20 miligram per mililiter, sementara kelompok lainnya menerima larutan saline dengan volume yang sama. Cairan ini diberikan sekitar dua menit sebelum pemasangan IUD dan baik peserta maupun tenaga kesehatan tidak mengetahui kelompok mana yang mereka terima.

Hasil dan Pengamatan

Pada penelitian ini, nyeri diukur menggunakan skala 0 hingga 100, di mana 0 berarti tidak ada nyeri dan 100 berarti nyeri paling parah. Rata-rata skor nyeri saat pemasangan IUD pada kelompok yang menerima mepivakain mencapai 43,8, sedangkan pada kelompok saline mencapai 58,6. Setelah mempertimbangkan perbedaan antar klinisi, skor nyeri pada kelompok mepivakain rata-rata 14,2 poin lebih rendah, yang setara dengan penurunan sekitar 23,7 persen dibandingkan kelompok kontrol.

Selain itu, toleransi terhadap prosedur juga menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 98,3 persen peserta yang menerima mepivakain menilai nyeri yang dirasakan masih dapat ditoleransi, dibandingkan dengan 91,4 persen pada kelompok saline. Meski demikian, anestesi ini tidak sepenuhnya menghilangkan nyeri, dengan rata-rata skor 43,8 menunjukkan bahwa sebagian peserta masih merasakan ketidaknyamanan, meskipun intensitasnya lebih rendah.

Lebih dari setengah peserta dalam kelompok mepivakain merasa bahwa prosedur pemasangan lebih mudah daripada yang mereka bayangkan, dengan proporsi mencapai 52,8 persen, sementara pada kelompok saline hanya 34,3 persen. Selain itu, peserta yang menerima mepivakain juga lebih sedikit yang meminta obat pereda nyeri tambahan setelah prosedur selesai. Tidak ada kejadian serius yang dilaporkan selama penelitian, dan pemantauan selama tiga bulan tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam efek samping antara kedua kelompok.

Pemberian mepivakain ke dalam rahim dapat menjadi metode yang sederhana untuk meningkatkan toleransi pasien selama pemasangan IUD. Penelitian ini menunjukkan bahwa mepivakain lebih efektif dibandingkan larutan saline dalam mengurangi rasa nyeri. Namun, peneliti belum melakukan perbandingan langsung dengan metode lain, seperti obat antinyeri oral, gel anestesi, suntikan pada leher rahim, atau blok paracervical.

Peserta dalam penelitian ini merupakan kelompok yang cukup spesifik, yaitu individu muda yang belum pernah melahirkan dan menjalani pemasangan IUD dengan tabung berdiameter kecil di klinik-klinik di Swedia. Oleh karena itu, hasil yang diperoleh mungkin tidak dapat diterapkan secara umum pada orang yang pernah melahirkan, menggunakan jenis IUD lain, atau menjalani prosedur dalam kondisi yang berbeda.

Mepivakain intrauterin merupakan metode yang menjanjikan untuk membantu mengurangi nyeri saat pemasangan IUD, namun penerapannya tetap harus melalui penilaian dari tenaga kesehatan. Diskusi mengenai pilihan pengendalian nyeri, termasuk manfaat, risiko, ketersediaan, dan kesesuaian dengan kondisi masing-masing individu, sangat penting untuk dilakukan.

Artikel Terkait